Halo sobat Mlaqumlaqu. Siapa nih sobat yang juga pejuang transit oriented development (TOD) alias sobat anker (anak kereta) dan anak busway! Cung sini, samaan kita.
Setiap hari harus menghadapi kerasnya ibu kota lewat Commuter Line, TransJakarta, MRT, atau LRT, terkadang, rasanya seperti sedang ikut acara survival show, ya ngga, sob? Berangkat kerja segar bugar wangi parfum mahal, pas sampai kantor langsung berubah jadi remahan rengginang.
Tenang, sob. Biar kalian nggak cepat "tua di jalan" dan tetep bisa estetik selama bermobilisasi, saya sudah ngerangkum beberapa tips pro yang bakal mengubah experience komuter kalian dari yang tadinya penuh drama, jadi super chill. Yuk, disimak.Karakteristik "Warna-Warni" Transportasi Jakarta
Beragamnya moda transportasi di Jakarta dan daerah penyangga lainnya seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, punya jiwanya masing-masing. Jangan disama-samain, ya. Buat para newbie mungkin akan mengalami sedikit shock terapy tapi mari kita pelajari bersama karakteristiknya.
Commuter Line (KRL). Ini rajanya transportasi massal. Murah, cepat, tapi tingkat "senggol bacok"-nya paling tinggi kalau jam sibuk. Bukan cuma di gerbong campur tapi terlebih di gerbong khusus perempuan. Semua orang serba terburu-buru dan ingin cepat sampai tujuan.
Kuncinya yaitu posisi menentukan prestasi, eh itu sih untuk pelajar. Intinya, jangan berdiri di depan pintu kalau stasiun tujuanmu masih jauh, kalau ngga ingin badan terasa diombang-ambing ombak, mending agak ke tengah.
TransJakarta (TJ). Moda transportasi ini juara buat rute yang fleksibel. Tapi harus ekstra sabar menunggu bila kondisi jalanan terjebak macet. Tipsnya adalah selalu sedia aplikasi navigasi untuk cek apakah koridor yang mau kamu naiki lagi macet parah di jalur reguler atau bersih di jalur busway.
MRT Jakarta. Banyak yang bilang ini kembaran MRT Singapura-nya Jakarta. Di sini, etika adalah segalanya. Jangan coba-coba break the rules kalau ngga ingin mendapat tatapan yang bombastis dari pengguna lain. Di MRT ini penggunanya lebih santai, tidak terlalu berdesakan.
LRT (Jakarta & Jabodebek). Paling estetik karena jalurnya elevated tinggi banget. Cocok buat yang mau sekalian healing lihat pemandangan gedung-gedung bertingkat dari atas.Strategi Menghindari "Peak Hours" (Jam-Jam Sibuk)
Daripada tenaga habis buat desak-desakan, mending pakai strategi time management ini. Banyak pengguna yang ingin begitu naik dapat tempat duduk, sisihkan waktu lebih awal untuk mendapatkan itu. Ingat, selisih 15 menit saja di Jakarta bisa menentukan takdir kenyamananmu!
Atur Jadwal. Jam kerja dan aktivitas setiap orang memang berbeda-beda. Biasanya jam-jam padat pengguna yaitu di pagi hari, di mana orang hendak berangkat kerja atau sekolah.
06.30 - 08.30 : Peak Hour Pagi (Parah). Berangkat lebih awal (sebelum jam 6) atau sekalian agak siang setelah jam 9 jika kantormu fleksibel. |
11.30 - 13.00 : Ramai Istirahat. Para pengguna TransJakarta dan MRT biasanya agak padat oleh pekerja yang mau cari makan siang.
17.00 - 19.30 : Peak Hour Sore (Ekstrem). Jam-jam ini ada juga pekerja yang memilih untuk tidak langsung pulang. Mereka memilih mending melipir dulu ke coffee shop dekat stasiun, baca buku, atau olahraga di gym terdekat. Di atas jam 8 malam saat suasana sudah lebih adem baru pulang.
Tip ala Mlaqumlaqu. Manfaatkan fitur real-time monitoring di aplikasi seperti Google Maps atau aplikasi resmi masing-masing moda (seperti JakLingko dan KAI Access). Cek kepadatan stasiun sebelum kamu melangkah keluar dari zona nyaman.
Starter Pack "Starter Kit" Selamat di Jalan
Dalam menggunakan transportasi umum, biar tetap survive dan wangi, pastikan barang-barang ini selalu ada di tas kamu:
- Kartu Uang Elektronik (KMT/Flazz/e-Money). Jangan sampai drama saldo habis di gerbang stasiun menahan langkah ratusan orang di belakangmu. Selalu sedia satu cadangan yang saldonya terisi. Bisa juga menggunakan uang elektronik yang ada di aplikasi di hape, tapi pastikan kuota internet lancar dan batere aman.
- Earphone (Noise Cancelling lebih oke). Penyelamat waras! Dengerin podcast favorit atau playlist lagu santai yang bisa bikin kamu lupa kalau lagi kegencet di dalam gerbong. Tapi tetap perhatikan sekeliling jangan sampai terjadi terlewat stasiun tujuan karena keasyikan mendengarkan musik di headset.
- Kipas Angin Portable & Tisu Basah. AC transportasi umum kadang kalah sama hawa panas dari ratusan manusia. Benda ini adalah penyelamat dari keglowingan yang luntur.
- Baju Ganti / Jaket Ringan. Kadang AC di MRT atau KRL itu dinginnya ekstrem mirip di kutub, tapi pas keluar langsung disambut simulasi neraka bocor. Jaket tipis atau outer atau pashmina bisa jadi penyelamat.
Berbagi Ruang, Berbagi Empati
Transportasi umum itu ruang bersama. Setiap pengguna mempunyai gak yang sama. Jangan jadi penumpang yang egois dengan cara menaruh tas ransel di punggung saat gerbong penuh (taruh di depan dada, ya!), atau asyik nonton TikTok tanpa earphone. Berikan juga tempat duduk bagi pengguna prioritas (lansia, ibu hamil, ibu membawa anak, dan balita).
Makin kita tertib dan punya empati, naik transportasi umum bakal terasa makin menyenangkan. Keep Mlaqumlaqu dan sehat-sehat terus di jalan, ya! Punya pengalaman unik atau jalur transportasi umum paling menantang maut versi kamu sendiri di Jakarta? Coba share di kolom komentar, ya.


Tidak ada komentar
Posting Komentar
Hai..Terima kasih sudah mampir di blog saya. Tolong tinggalkan komen dengan bahasa yang santun, No Sara, No Politik.