Halo sobat Mlaqumlaqu. Menghabiskan hari Sabtu di rumah sakit tentu bukan pilihan utama bagi sebagian besar orang untuk mengisi akhir pekan. Namun, Sabtu kemarin, 6 Juni, langkah kaki membawa saya menuju kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK). Bukan untuk berburu kuliner kekinian atau menikmati angin laut, melainkan untuk sebuah agenda yang tak kalah penting hospital visit ke Tzu Chi Hospital.
Ada Ketulusan dan Kedamaian
Sebagai orang yang lebih sering berjalan kaki menyusuri museum tua atau sudut kota atau taman kota yang rimbun, memasuki Tzu Chi Hospital memberikan impresi yang sangat berbeda. Begitu melewati pintu lobi, hiruk-pikuk Jakarta seolah tertinggal di luar. Suasana tenang langsung menyergap, ditemani arsitektur megah namun tetap terasa teduh dan menenangkan, sebuah sentuhan khas yang membuat siapa pun yang datang merasa "diterima" dengan hangat.
Beruntungnya, akses menuju Tzu Chi Hospital ini semakin dimudahkan dengan adanya transportasi umum TransJakarta. Ada 1A dengan rute Balaikota-Pantai Maju dan T31 dengan rute Blok M-PIK 2. Saya menaiki TransJakarta T31 dari halte Senayan Bank DKI pukul 7.30 pagi, melewati Sudirman, Semanggi dan masuk tol Slipi, perjalanan ditempuh kurang lebih 40 menit sudah tiba di halte Tzu Chi Hospital setelah keluar pintu tol Kapuk.Hal pertama yang tertangkap oleh mata saya adalah kerapian dan kebersihan yang nyaris sempurna. Namun, di atas semua kemegahan fisik bangunan itu, faktor manusianya lah yang membuat tempat ini terasa hidup. Di area depan, para relawan dan petugas menyapa setiap pengunjung dengan membungkuk khidmat, menyatukan kedua telapak tangan di dada.
![]() |
| Pemandangan dari lt. 23 Tzu Chi hospital |
Bagi saya, gestur sederhana ini bukan sekadar SOP rumah sakit. Ada ketulusan yang mengalir dari sana. Di tengah rasa cemas yang biasanya menghantui siapa saja yang datang ke rumah sakit, senyuman dan sapaan santun itu seperti oase. Memanusiakan manusia, sebuah prinsip yang langsung terasa nyata sejak langkah pertama.
Sambutan ramah bukan hanya di lobi saja. Bahkan ketika saya kesasar ke lantai yang bukan saya tuju, saya menemukan sosok ramah yang membantu saya menuju jalan yang benar. Jadilah saya mendapatkan jalan terang menuju lantai 23 tempat pertemuan diadakan.
Tampak staf Tzu Chi Hospital sedang bersiap-siap dan mempersilahkan kami masuk menuju ruang pertemuan. Di dalam kami disambut Bapak Suriadi selaku Direktur Umum sekaligus Operasional Tzu Chi Hospital yang menjelaskan tentang sejarah, visi, misi dan fasilitas yang tersedia di Tzu Chi Hospital ini. Selanjutnya kami dibawa berkeliling untuk melihat-lihat fasilitas yang ada tanpa mengganggu pasien dan pengunjung lain.Tzu Chi Hospital PIK dikenal dengan konsepnya yang modern dan berbasis teknologi, namun hebatnya, mereka tidak kehilangan sentuhan personal. Menghabiskan waktu beberapa jam di sini membuat saya mengamati bagaimana alur pelayanan berjalan.
- Pendaftaran yang Efisien. Tidak ada pemandangan antrean mengular yang membuat stres. Semua petunjuk arah terpampang jelas, dan petugas dengan sigap mengarahkan pengunjung.

Ruang tunggu yang nyaman - Ruang Tunggu yang Humanis. Alih-alih deretan kursi besi yang dingin, ruang tunggu di sini didesain sangat nyaman. Jendela-jendela besar membiarkan cahaya alami masuk, memberikan kesan ruang yang luas dan tidak "menakutkan".

Danau di area Tzu Chi hospital 
Area taman di lt. 8 Tzu Chi hospital - Sentuhan Alam. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah bagaimana elemen alam dan nilai-nilai kemanusiaan (humanistik) diintegrasikan ke dalam lingkungan penyembuhan. Melihat hijau pepohonan di luar jendela benar-benar membantu menurunkan tensi ketegangan di kepala.
Lebih dari Sekadar Tempat Berobat
Makin siang, saya makin menyadari bahwa Tzu Chi Hospital tidak memposisikan dirinya hanya sebagai tempat untuk menyembuhkan penyakit fisik. Ada filosofi mendalam tentang cinta kasih universal yang tertuang di setiap sudutnya. Poster-poster kata bijak yang sarat makna kehidupan tersebar di beberapa area wall, mengajak kita yang membaca untuk sejenak merenung dan bersyukur.
![]() |
| Salah satu kamar pasien |
Menyaksikan bagaimana interaksi antara perawat dan pasien (yang dilakukan dengan suara lembut dan kesabaran penuh) membuat saya tersenyum sendiri. Di sini, pasien tidak diperlakukan sebagai "nomor antrean", melainkan sebagai keluarga yang sedang membutuhkan pertolongan.
Fasilitas ruangan yang tersedia juga dihadirkan dengan baik, bukan saja untuk pasien tapi juga keluarganya yang mendampingi. Jendela yang besar-besar dengan pemandangan indah baik itu view laut, dapat dengan mudah terlihat dari kamar-kamar pasien. Bahkan bagi pasien yang ingin menikmati senja di bibir pantai dapat juga diakomodir dengan mengantarkan langsung ke pantai Pasir Putih atau Aloha di Land's End.
Pulang dengan Hati yang Hangat
Di salah satu sudut kafetaria Tzu Chi Hospital, saya nikmati makan siang dengan rasa yang lebih. Lebih bersyukur, lebih berterima kasih akan karunia dan rejeki juga kesehatan yang Tuhan berikan. Di tempat ini juga keramahan dan kehangatan masih terasa.
![]() |
| Kafetaria Tzu Chi hospital |
![]() |
| Menu maksi seharga 25k |
![]() |
| Hasil karya seni lukis pasien. |
Sabtu, 6 Juni kemarin mungkin bukan perjalanan wisata keliling kota seperti biasanya. Tapi bagi saya, melangkah ke Tzu Chi Hospital adalah sebuah traveling rasa, perjalanan menyaksikan bagaimana teknologi medis tingkat tinggi bisa berjalan beriringan secara selaras dengan ketulusan hati manusia.
Tetap jaga kesehatan, dan jangan lupa untuk selalu berbagi senyum hangat kepada sesama. Sampai jumpa di perjalanan Mlaqumlaqu berikutnya.













Tidak ada komentar
Posting Komentar
Hai..Terima kasih sudah mampir di blog saya. Tolong tinggalkan komen dengan bahasa yang santun, No Sara, No Politik.