Tajur Katineung: Hidden Gem Penginapan Suasana Pedesaan di Purwakarta

Halo sobat Mlaqumlaqu. Ketika saat hiruk-pikuk harian rasanya bikin dada sedikit sesak, ingin rasanya menepi sejenak. Layar gawai yang terus menyala, ritme hidup yang serba cepat, sampai rasanya kita lupa kapan terakhir kali benar-benar bernapas lega.

Kalau sobat merasakan hal yang sama, mungkin ini tandanya sobat perlu sejenak "kabur" untuk menyapa diri sendiri lagi. Dan tempat yang cocok untuk itu rasanya pas banget buat misi recharging ini yaitu yaitu Tajur Katineung. 


Lanskap Pedesaan yang Bikin "Hening" di Kaki Gunung

Tersembunyi di balik lanskap Purwakarta, Tajur Katineung ini ibarat hidden gem yang sengaja disimpan rapi oleh alam. Begitu sampai, impresi pertamanya bukan cuma sekadar "bagus", tapi menenangkan. 

Berlokasi di kampung Tajur, desa Pesanggrahan, kecamatan Bojong, Purwakarta, tepat di kaki gunung Burangrang, dengan view persawahan dan pegunungan nan asri. 

Untuk menuju ke lokasi Tajur Katineung, sobat harus menyiapkan kendaraan yang prima. Jalanannya agak menyempit dan naik turun dengan pemandangan yang indah. Selain itu, akses jalan hanya bisa dilalui oleh satu mobil. Jadi pastikan kendaraan dalam kondisi yang prima agar sampai dengan aman dan selamat. 

Pandangan mata langsung dimanjakan oleh hamparan persawahan hijau yang membentang luas, dibingkai bukit-bukit samar di kejauhan. Bangunan penginapannya mengusung arsitektur bernuansa kayu dan tradisional yang menyatu sempurna dengan lanskap sekitarnya.

Di Tajur Katineung ini terdapat 3 jenis penginapan yang disewakan. Ada saung kecil sebanyak 3 buah, saung besar 5 buah dan 1 buah saung Eksklusif. Untuk fasilitas juga cukup lengkap seperti parkir mobil, toilet dan mushola juga ruang pertemuan.

Di Tajur Katineung ini jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Yang ada gesekan dedaunan dan padi yang tertiup angin, gemericik air mengalir dan suara jangkrik serta burung yang sahut-menyahut. Self-care itu gak selalu tentang perawatan mahal di kota. Kadang, self-care bentuknya sesederhana duduk santai di teras kayu, menyeruput kopi hangat, sambil membiarkan pikiran kita beristirahat dari tumpukan to-do list. 

Lambat yang Menyembuhkan

Satu hal yang paling saya suka dari Tajur Katineung adalah atmosfernya yang mengajak kita untuk slow down. Pagi hari yang rasanya magis. Bangun tidur, buka pintu, kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah. Udara dinginnya masuk ke paru-paru, segar dan bersih sekali. Rasanya melambatkan ritme hidup beberapa jam saja di sini bisa bikin energi yang terkuras terkumpul kembali.

Aktivitasnya pun santai banget. Kamu bisa jalan kaki berkeliling antar saung dengan petak-petak sawah di pagi hari. Atau membaca buku favorit di gazebo atau di pinggir sawah dengan angin sepoi-sepoi.

Persawahan yang berada di antara saung-saung ini hasil panen padinya khusus dikonsumsi untuk para tamu yang menginap. Bosan di kamar sobat bisa duduk santai di taman dengan pemandangan persawahan yang kehijauan. 

Tips Kecil saat Berkunjung

Buat kamu yang berniat menepi ke Tajur Katineung dalam waktu dekat, ada beberapa catatan kecil nih:

Bawa Baju Hangat. Karena lokasinya yang asri dan dekat alam, udara malam sampai pagi tergolong lumayan dingin.

Siapkan Buku / Playlist Favorit. Tempat ini cocok banget buat kamu yang mau menikmati me-time berkualitas atau sekadar berbincang hangat tanpa terburu-buru.

Luapkan Rasa Ingin Tahu. Sempatkan jalan-jalan kecil ke area sekitar penginapan, karena lanskap pedesaannya benar-benar memanjakan mata di setiap sudut. Belum lagi pemandangan rumah-rumah tradisional yang berupa rumah panggung yang masih dipertahankan. 

Catatan Penutup

Perjalanan kali ini mengingatkan saya lagi, bahwa terkadang kita gak butuh petualangan yang ekstrem untuk merasa pulih. Cukup satu tempat tenang, suasana desa yang jujur, dan waktu untuk benar-benar hadir di saat ini.

Jadi, kapan terakhir kali kamu membiarkan dirimu istirahat tanpa rasa bersalah? Kalau jadwalmu sudah terlalu padat, mungkin ini saatnya memasukkan Tajur Katineung, Purwakarta ke dalam daftar rehatmu berikutnya.


Short Escape Murah Meriah ke Purwakarta Naik KRL

Hai sobat Mlaqumlaqu. Siapa bilang liburan atau jalan-jalan santai ke luar kota itu harus mahal dan ribet? Apalagi kalau udah pertengahan bulan dan budget minim banget tapi butuh healing tipis-tipis. Buat yang tinggal di area Jabodetabek, Purwakarta sering jadi jawaban paling pas untuk sekedar kabur dari rutinitas. 

Selain terkenal dengan kuliner Sate Maranggi-nya yang legendaris dan pemandangan Situ Buleud atau Waduk Jatiluhur, akses ke sana sekarang gampang banget. Cukup modal ngga sampai Rp10.000, kamu sudah bisa meluncur dari Jabodetabek menuju Purwakarta naik commuter line atau KRL. 

Beberapa kali saya kabur ke Purwakarta naik KRL. Penasaran ngga nih gimana panduan lengkap dan tipsnya? 

Transit di Stasiun Cikarang

Dari mana pun sobat Mlaqumlaqu berangkat dengan KRL, kunci utama perjalanan hemat ke Purwakarta adalah Stasiun Cikarang. Yup, karena perjalanan hemat ke Purwakarta naik KRL itu pasti akan bertemu di Stasiun Cikarang. 

Jadi kereta menuju Purwakarta yang dioperasikan oleh PT KAI Commuter adalah Commuter Line Walahar (KA Walahar Express). Kereta lokal ini bertindak sebagai sambungan dari Commuter Line Jabodetabek (KRL). Jenis keretanya sendiri seperti kereta jarak jauh dengan kursi tegak berhadapan. Penumpang tidak mendapatkan nomer kursi, jadi SCDD (Siapa Cepat Datang dia yang Dapat kursi). 

Untuk skenario rutenya yaitu sebagai berikut:

  • Dari mana saja di Jabodetabek. Naik KRL Lin Cikarang menuju Stasiun Cikarang (titik stasiun akhir KRL).
  • Transit di Cikarang. Keluar dari peron KRL, lalu masuk ke area keberangkatan kereta lokal/intercity di Stasiun Cikarang.
  • Lanjut KA Walahar. Naik Commuter Line Walahar langsung menuju Stasiun Purwakarta. 

Budget Friendly Banget!

Jangan kaget. Ongkos menuju ke Purwakarta benar-benar ramah di kantong. Bahkan lebih murah dari es kopi kekinian yang sobat beli di kafe-kafe. 

KRL Jabodetabek ke Stasiun Cikarang. Berkisar di Rp3.000 – Rp5.000 (tergantung stasiun awal kamu). Commuter Line Walahar jurusan Cikarang– Purwakarta dengan harga flat Rp4.000 per orang 

Kalau saya naik dari Stasiun Kranji, total ongkos sekali jalan hanya Rp7000, tidak sampai Rp10.000! Sangat pas buat kantong pelajar, mahasiswa, maupun backpacker. Bandingkan jika sobat naik bus atau travel, berapa selisih biaya yang dikeluarkan. Belum lagi macetnya. 

Namun begitu, penting untuk membeli tiket kereta Walahar ini jauh-jauh hari. Ini poin yang paling sering bikin salah paham. Tiket Commuter Line Walahar tidak menggunakan Kartu Multi Trip (KMT) atau e-money seperti KRL biasa, melainkan tiket yang dipesan secara online via aplikasi KAU Access atau on the spot di stasiun keberangkatan, itupun kalau masih ada. 

Berikut cara membeli tiket kereta Walahar:

  1. Unduh Aplikasi Access by KAI. Pemesanan tiket KA Walahar wajib dilakukan via aplikasi ini.
  2. Pilih Rute. Pilih kereta lokal, lalu masukkan Stasiun Asal Cikarang dan Stasiun Tujuan Purwakarta. 
  3. Waktu Pemesanan. Tiket bisa dipesan mulai dari H-7 sebelum keberangkatan. 
  4. Bayar Non-Tunai. Pembayaran bisa menggunakan saldo yang tersedia, QRIS, e-wallet (seperti LinkAja), atau transfer bank.

Walau tiket kereta Walahar dijual di loket stasiun, tapi sebaiknya pastikan kamu sudah mengamankan tiket di aplikasi sebelum berangkat.

Tips Nyaman & Anti-Gagal Saat Naik Kereta ke Purwakarta

Nah sobat Mlaqumlaqu, agar perjalanan kalian berjalan mulus dan menyenangkan, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. 

  1. Amankan Tiket dari Jauh-Jauh Hari. Kereta Walahar adalah moda transportasi favorit warga lokal, pekerja komuter, hingga wisatawan. Tiketnya (terutama untuk jam pagi di akhir pekan) sering habis terjual beberapa hari sebelum hari H. Jangan membiasakan membeli mendadak (go-show). 
  2. Beri Jeda Waktu Transit yang Cukup. Saat menyambung KRL ke KA Walahar di Stasiun Cikarang, beri jeda waktu setidaknya 30–45 menit. Ini penting untuk mengantisipasi potensi keterlambatan KRL, antrean tap-out, perpindahan jalur, serta proses boarding dan pastinya untuk mendapatkan kursi dengan posisi terbaik. 
  3. Pilih Jam Keberangkatan Pagi. Kereta Walahar dari Cikarang ada beberapa jadwal (seperti pagi jam 05.50 dan 07.24 WIB). Naik jadwal pagi adalah pilihan terbaik supaya kamu punya banyak waktu untuk menjelajahi Purwakarta sebelum pulang di sore/malam hari.
  4. Siapkan Camilan dan Air Minum. Perjalanan dari Cikarang ke Purwakarta memakan waktu sekitar 1,5 jam. Berbeda dengan kereta komersial jarak jauh, di dalam KA Walahar tidak ada kereta makan (restorasi) atau penjual makanan keliling. Namun begitu fasilitas toilet dan stop kontak untuk mengisi saya gawai tersedia di tiap deret kursi. 
  5. Kamera Siap On. Pemandangan sepanjang lintasan dari Karawang menuju Purwakarta cukup memanjakan mata, mulai dari hamparan sawah hijau hingga pepohonan rindang. Cocok buat kamu yang suka menikmati perjalanan santai. Yang ikonik yaitu pemandangan bangkai gerbong kereta yang ditumpuk yang sering menghiasi sosial media. 

Gimana, gampang banget kan? Buat saya naik Commuter Line ke Purwakarta bukan cuma soal hemat ongkos, tapi tentang menikmati ritme perjalanan yang santai tanpa perlu pusing memikirkan kemacetan jalan raya.

Yuk, jadwalkan akhir pekanmu dan rasakan sensasi petualangan singkat ke Purwakarta!


Temukan Kembali Ritme Diri Lewat Paket Facial Bu Ayu dan Redensity1 di ZAP

Hai sobat Mlaqumlaqu. Belakangan ini, hidup rasanya berjalan cepat sekali. Di tengah padatnya rutinitas, mulai dari urusan pekerjaan, keluarga hingga pertemanan. Terkadang kita lupa untuk sekadar mengambil napas dalam-dalam atau healing sejenak meluangkan waktu. 

Kesibukan rutinitas ini berakibat bukan saja ke psikis tapi juga fisik, seperti di wajah yang seringkali terlihat jadi kusam, capek, ngga bercahaya, make up gampang crack, fine lines lebih terlihat, dan glowing sesaat. Kalau udah begini duuh tingkat kepedean jadi menurun drastis. Memang sih faktor usia mempengaruhi, tapi sebaiknya memang ngga boleh skip untuk merawatnya juga. 

Nah akhirnya, kemarin, saya memutuskan untuk "menepi" sejenak ke ZAP . Momen mencoba treatment Happy Smooth Skin atau yang dikenal dengan paket facial Bu Ayu dan Suntik Booster Redensity1 kemarin benar-benar menampar kesadaran saya. 

Happy Smooth Skin ngingetin saya kalau self-care itu bukan soal kelihatan sempurna di mata orang lain, tapi soal bagaimana kita meluangkan waktu, hadir seutuhnya, dan mengapresiasi diri sendiri. 

“It's a 90 minutes reward for myself”

Bagi saya, melangkah masuk ke klinik bukan cuma demi mengejar glowing skin, tapi lebih ke ritual mengistirahatkan pikiran yang bising. Dan jujur, kombinasi kedua treatment ini adalah definisi terbaik dari memanjakan kulit sekaligus jiwa.

Yuk Kenalan dengan Duo Kombinasi "Me-Time" Ini

Sebelum saya share pengalaman mencoba ke dua treatment ini, mungkin banyak yang penasaran, apa sih sebenarnya paket "Bu Ayu" dan Redensity1 ini?

Facial Bu Ayu adalah facial ekstraksi hydro, paket facial legendaris di ZAP yang fokus pada pembersihan mendalam, eksfoliasi ringan, dengan 9 tahapan yang membantu membersihkan sekaligus menghidrasi kulit. Selain itu masih ada treatment lain yang termasuk dalam treatment Happy Smooth Skin. 

Hasilnya? Kulit terasa ringan, halus, bersih, dan super plumpy.

Adapun 9 tahapan tersebut yaitu:

  1. Cleanse and massage
  2. Hydra dermabrasion
  3. Steam
  4. Ekstraksi komedo
  5. High frequency
  6. Jet spray
  7. Serum and cold hammer
  8. Peel off mask and massage
  9. Post care

Booster Redensity1. Skin booster premium asal Swiss dari Teoxane yang sudah terpercaya ini adalah treatment favorit Ayu Dewi. Perawatan skin booster menggunakan mikro-injeksi cairan asam hialuronat (HA) non-crosslinked yang kaya akan vitamin, asam amino, dan antioksidan. Fungsinya untuk menghidrasi kulit dari dalam, memperbaiki tekstur, dan memberikan efek dewy glow yang tahan lama.

Booster Redensity1 ini bukan untuk mengubah wajah tapi membantu meningkatkan skin quality dari dalam. Menggunakan 8 titik injeksi dengan teknik Baby Glow yang minim sakit dan downtime. After treatmentnya memberi efek kulit terlihat glowing instan. Karena kulit yang dehidrasi butuh lebih dari sekedar skin care. 

Nikmati Proses Tahap demi Tahap

Oiya, sobat Mlaqumlaqu. Sebelum melakukan treatment, terlebih dahulu saya melakukan pemesanan jadwal, apakah jadwal yang saya pilih tersedia atau sudah full. Awalnya saya pilih di hari Sabtu tanggal 11 Juli, tapi berhubung full kuota, akhirnya pindah ke hari Selasa tanggal 14 jam 10.00 pagi. Senangnya treatment di ZAP yaitu mereka mengingatkan saya menjelang hari perawatan, jadi menghindarkan saya dari kelupaan. 

Di hari Selasa pagi, saya sudah tiba di ZAP Premiere Kota Kasablanka. Lokasinya di lantai 2 dengan desain ruangan yang minimalis namun menenangkan, terlebih disambut hangat dan ramah oleh staf di meja registrasi. 

Sambil menunggu proses cek jadwal, saya sempatkan menikmati secangkir coklat panas yang tersedia di ruang tunggu. Setelah itu staf yang bertugas memeriksa kulit wajah saya dengan Skin Analyzer. Yang mana sebelumnya kulit wajah dibersihkan terlebih dulu dari make up dan debu. 

Prosesnya sangat mengalir dan menyenangkan. Setelah itu lanjut ke:

1. Konsultasi Dokter yang Personal

Sebelum tindakan dimulai, saya diarahkan untuk berkonsultasi dengan dr. Dila. Di sini kulit saya dianalisis untuk memastikan kondisinya siap menerima treatment, terutama untuk tindakan injeksi booster. Dokternya ramah banget, bikin suasana langsung rileks.

Dokter menjelaskan kondisi kulit wajah yang jujur, saya ngga nyangka akan “separah” itu. Tapi senangnya ucapan dr. Dila sangat menenangkan saya, bahwa kondisi tersebut masih bisa diperbaiki dengan perawatan yang rutin. 

2. Facial Bu Ayu

Ritual dimulai! Pada treatment facial Bu Ayu ini pertama kali wajah saya dibersihkan secara menyeluruh dari sisa makeup dan debu menggunakan pembersih ZAP yang lembut.

Setelah itu, dilakukan eksfoliasi ringan untuk mengangkat sel-sel kulit mati. Rasanya adem dan rileks banget. 
Setelah itu dilakukan Hydra Dermabration yang berfungsi menyedot kotoran dan sel kulit mati dan dilanjutkan dengan proses Steam yang membantu membuka pori-pori wajah. Kebetulan kondisi pori-pori kulit wajah saya cukup besar terutama di area, pipi dan dagu. 

Pada saat pembersihan komedo, terapis Febri yang melakukan treatment mengatakan kondisi kulit saya yang kering membuat komedo yang ada juga sedikit. Setelah itu dilakukan treatment high frequency yang berfungsi meredakan inflamasi dan anti-bakteri paska ekstraksi komedo. Dilanjutkan dengan jet spray yang membantu menyegarkan dan menutrisi kulit. 

Step selanjutnya adalah penggunaan serum yang diteteskan di wajah sambil dipijat menggunakan Cold Hammer. Rasanya sejuk, lembut dan segar di kulit wajah. 
Kemudian dilanjutkan dengan penggunaan peel off mask premium ke seluruh wajah selama 10 menit. Sambil menunggu masker kering, terapis melakukan pemijatan di area bahu depan dan belakang. Duuh saking relaksnya jadi pengen tidur. Setelah kering, masker di lepas dan wajah kembali dibersihkan. 

3. Suntik Booster Redensity1

Untuk suntik booster Redensity1 dilakukan oleh dr. Dila langsung dibantu oleh Ners Nurul. Dokter menjelaskan bahwa suntik ini dilakukan sebanyak 8 titik di bagian kanan dan kiri, namun tidak dilakukan anestesi. Untuk meredakan sakit akibat suntikan dibantu dengan kompres dingin. 

Sebelumnya dr. Dila melakukan penandaan dengan membuat titik-titik di wajah saya. Beliau juga menunjukkan paket Redensity1 tersegel dan masih baru. Setelah itu baru proses penyuntikan skin booster dilakukan perlahan-lahan. Rasanya? Agak sakit cenut-cenut seperti digigit semut, tapi masih aman, selain itu jenis jarum yang dipakai juga kecil beda dengan jarum suntik biasa. 

Berhubung jenis kulit wajah saya termasuk kering dan sensitif, maka di beberapa area seperti dahi, hidung dan pipi terlihat kemerahan. Tapi dr. Dila menjelaskan bahwa itu normal dan akan berangsur pulih kembali di 1-2 hari kedepan. 

4. Finishing Touch & Perlindungan

Selesai suntik skin booster, wajah dibersihkan kembali. Sesi ditutup dengan pengolesan krim antibiotik, moisturizer serta sunscreen untuk melindungi kulit yang baru saja selesai di-treatment. 

Oiya, untuk hasil yang maksimal dari facial Bu Ayu dan suntik skin booster Redensity1 ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

  • Tidak boleh mencuci muka 4 jam setelah treatment
  • Setelah 4 jam, cuci muka dengan sabun muka khusus wajah yang tidak ada scrubnya
  • Hanya boleh oleskan moisturizer dan sunscreen setelah cuci muka
  • Selama 2-3 hari ke depan tidak boleh menggunakan make up. Hal ini untuk membantu memaksimalkan proses penyerapan skin booster dan mencegah pelukaan
  • Apabila kemerahan berlanjut efek treatment, segera hubungi dokter

Catatan Setelah Berjalan Pulang

Selesai treatment, begitu bercermin, efek instan dari facial skin booster ini langsung terasa. Saya merasakan kulit kelihatan bersih, segar, dan ringan. Kemerahan bekas suntikan sangat minim—hanya berupa titik-titik kecil yang akan hilang dalam 1-2 hari. 

Di 4 jam setelah treatment, kemerahan mulai memudar. Keajaiban Redensity1 mulai bekerja maksimal. Di hari pertama setelah treatment yang saya rasakan yaitu kulit jauh lebih kenyal, lembab dari dalam bahkan saat baru bangun tidur yang biasanya terasa kering akibat dehidrasi. 

Tapi di atas semua hasil fisik itu, yang paling saya syukuri adalah perasaan tenang setelahnya. Pulang dari ZAP saya melangkah lebih ringan walau dengan bare face tanpa make up. Saya sadar bahwa meluangkan waktu dua jam saja untuk merawat diri ternyata bisa mengisi kembali energi yang sempat menurun. Ini bukan sekedar treatment tapi bentuk self love yang paling sederhana.

Jadi, kapan terakhir kali kamu meluangkan waktu memberi reward dirimu sendiri? Semua bisa di ZAP. Happy ZAP Life! 




Hidden Gem Saung Restoran sekaligus Kebon Alpuket di Purwakarta

 Halo sobat Mlaqumlaqu. Purwakarta bukan cuma sate Maranggi aja. Kali ke sekian saya berkunjung ke Purwakarta, salah satu destinasi berakhir pekan yang tidak terlalu jauh dari ibu kota Jakarta atau bahkan dari Bandung. Tapi kali ini bukan cuma udara sejuk, pemandangan indah, dan kuliner lezat, it's hidden gem baru yang wajib banget masuk bucket list kalian.

Kali ini sob, saya mau membagikan keseruan saat berkunjung ke Kebon Alpuket Purwakarta, yang berlokasi di Jalan Raya Bogor - Wanayasa, Bojong Barat, Kec. Bojong, Kabupaten Purwakarta, Bukan sekadar kebun biasa, tempat ini menawarkan pengalaman wisata alam yang bikin pikiran langsung segar kembali!

Hidden Gem dengan Berbagai Kemudahan

Destinasi ini terletak di lokasi yang cukup strategis dan mudah ditemukan, tepatnya di Jalan Raya Bogor - Wanayasa, Bojong, Purwakarta. Akses jalannya terbilang bagus dan ramah untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, mata kita sudah dimanjakan dengan pohon-pohon rindang dan suasana khas perbukitan yang mulai terasa sejuk.


Begitu melangkahkan kaki masuk ke area Kebon Alpukat, rasa lelah di perjalanan langsung hilang seketika. Mengapa? Karena hamparan kebun alpukat yang hijau berpadu sempurna dengan megahnya Gunung Burangrang sebagai latar belakangnya. 

Bagi pecinta fotografi atau kalian yang hobi hunting foto untuk Instagram, tempat ini adalah surga. Kombinasi langit biru, siluet gunung yang gagah, dan barisan pohon alpukat yang rapi menghasilkan lanskap yang sangat estetik. Jangan lupa siapkan memori kamera yang lega ya, karena setiap sudutnya sangat instagramable!

Fasilitas Lengkap, Bikin Betah Berlama-lama

Salah satu hal yang membuat Kebon Alpukat di Bojong ini sangat direkomendasikan adalah fasilitasnya yang jempolan. Pihak pengelola tampaknya benar-benar memikirkan kenyamanan pengunjung. 



Di sini kalian bisa menemukan:

Area parkir yang cukup luas dan aman.

Toilet yang bersih dan terawat.

Mushola yang nyaman untuk beribadah.

Spot-spot foto unik dan area bersantai yang teduh.

Suasananya yang ramah keluarga membuat tempat ini cocok untuk semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Kulineran Enak di Tengah Kebun

Setelah puas berkeliling kebun dan berfoto, saatnya memanjakan lidah! Kebon Alpukat Purwakarta tidak hanya menjual pemandangan, tapi juga kuliner yang menggugah selera.




Menu makanan di sini terbilang lengkap dan—yang paling penting enak-enak! Pilihan menunya beragam, mulai dari camilan hangat yang cocok menemani udara sejuk Bojong, hingga makanan berat khas Nusantara yang bumbunya berani dan meresap. Dan tentu saja, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi berbagai olahan buah alpukat segar yang dipetik langsung dari kebunnya. Fresh banget!

Kami datang menjelang makan siang. Dari luar tampak area parkir mulai ramai kendaraan memasuki areanya. Namun begitu petugas parkir cukup cekatan mengatur kendaraan keluar masuk. Oiya, Kebon Alpuket ini buka setiap hari dari pukul 8.00-20.00 WIB. 

Saran saya sih datanglah di pagi hari untuk mendapatkan udara paling segar dan pemandangan Gunung Burangrang yang biasanya masih terlihat jelas tanpa tertutup kabut. Selain itu kenakan pakaian yang nyaman dan alas kaki yang cocok untuk berjalan di area kebun.

Yuk, agendakan weekend ini untuk Mlaqumlaqu ke Kebon Alpukat Purwakarta di Bojong. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya! 


Oase Seluloid di Mini Studio Sinematek Usmar Ismail

 Halo sobat Mlaqumlaqu. Bagi para pencinta film bioskop (mainstream), nama Jakarta Selatan mungkin identik dengan deretan bioskop megah seperti XXI, CGV atau Cinepolis yang megah di dalam pusat perbelanjaan. Namun, bagi para cinephile sejati, peneliti, dan pemburu sejarah, ada satu titik di kawasan Kuningan yang memegang status kunci Sinematek Indonesia.

Menempati lokasi di dalam Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI), Jalan HR Rasuna Said, terdapat sebuah ruang yang senyap namun sarat nilai sejarah, yaitu Mini Studio Sinematek. Tempat ini bukan sekadar studio menonton biasa, melainkan sebuah gerbang mesin waktu yang menyimpan denyut nadi perfilman Indonesia sejak masa keemasan hingga era modern.

Lahir dari Tangan Dingin Para Maestro Perfilman

Untuk memahami mengapa ruang kecil ini begitu berarti, kita harus melangkah mundur ke tahun 1975. Sinematek Indonesia resmi didirikan pada tanggal 20 Oktober 1975. Berdirinya lembaga arsip film ini diinisiasi oleh dua tokoh besar perfilman nasional, yaitu H. Misbach Yusa Biran, seorang sutradara, sastrawan, dan dokumentator ulung serta Asrul Sani, (msutradara dan penulis skenario legendaris. 

Kedua tokoh ini tentu tidak asing lagi di kalangan perfilman kita dan juga pecinta film. Gagasan revolusioner ini mendapat dukungan penuh dari Gubernur DKI Jakarta kala itu, Ali Sadikin, yang dikenal sangat progresif dalam mendukung perkembangan seni dan budaya.

“Sinematek Indonesia tercatat sebagai arsip film pertama di Asia Tenggara dan hingga kini menjadi satu-satunya lembaga arsip film independen yang konsisten menjaga ingatan visual bangsa di Indonesia.”

Saat itu, Misbach Yusa Biran merasa gelisah melihat dokumentasi film nasional yang terbengkalai. Banyak pita seluloid film klasik yang rusak, berjamur, atau bahkan dibuang karena tidak dirawat dengan layak. Bersama rekan-rekannya, ia mendirikan Sinematek dengan misi tunggal namun berat, menyelamatkan memori kolektif visual bangsa.

Gedung PPHUI dan Rumah Bagi Seluloid Langka

Saya yang awalnya berkunjung karena ada undangan menonton film Seabad Pram, tokoh sastrawan Indonesia yang karya tulisnya banyak dijadikan film, berkesempatan mengenal lebih dekat dengan Sinematek Indonesia ini. 


Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI) di Kuningan baru menjadi rumah resmi Sinematek Indonesia sejak akhir dekade 1970-an hingga awal 1980-an. Di gedung berlantai lima ini, pembagian ruang dirancang dengan sangat spesifik untuk mendukung penyelamatan film.

Ruang bawah tanah (basement) gedung difungsikan sebagai vault atau gudang penyimpanan pita-pita film seluloid yang kelembapan dan suhunya harus dijaga ekstra ketat secara konstan agar tidak hancur dimakan usia. Sementara di lantai 4, terdapat perpustakaan dan mini Studio yang menyimpan naskah skenario asli, poster film kuno, hingga foto-foto dokumentasi produksi film dari masa ke masa.

Di sinilah Mini Studio Sinematek (berkapasitas sekitar 150 orang) dan teater besar mengambil peran sebagai "etalase hidup". Film-film yang berhasil diselamatkan, dikatalogkan, atau direstorasi, diputar kembali di studio mini ini.

"Tanpa keriuhan pop-corn atau tata cahaya lampu neon yang bising, Mini Studio menawarkan keheningan yang intim antara penonton dan sejarah perfilman tanah air."

Mengunjungi Mini Studio Sinematek menawarkan sensasi yang jauh berbeda dibandingkan bioskop komersial masa kini. Begitu melangkah masuk ke area gedung,  kita akan langsung disambut oleh aura nostalgia. Poster-poster film hitam-putih masa lalu serta proyektor-proyektor analog kuno dipajang seakan menyapa pengunjung.


Fungsi Vital Mini Studio Sinematek. Saat ini Sinematek Indonesia banyak digunakan sebagai:

 1. Laboratorium Pembelajaran. Menjadi rujukan utama bagi mahasiswa perfilman dan peneliti internasional untuk mempelajari karakteristik sinematografi Indonesia dari dekade ke dekade. 

2. Ruang Apresiasi dan Eksibisi. Menjadi satu-satunya tempat di mana kita bisa menyaksikan film-film langka era pra-kemerdekaan hingga pasca-kemerdekaan yang tidak akan pernah kita temukan di platform streaming digital modern.

 3. Pusat Diskusi Interaktif. Sering kali setelah pemutaran film, ruang ini berubah menjadi forum diskusi hangat yang melibatkan kritikus film, sineas, akademisi, hingga generasi muda.

 4. Laboratorium Pembelajaran. Menjadi rujukan utama bagi mahasiswa perfilman dan peneliti internasional untuk mempelajari karakteristik sinematografi Indonesia dari dekade ke dekade.

Di studio inilah mahakarya yang telah direstorasi secara monumental seperti Lewat Djam Malam (1954) karya Bapak Perfilman Indonesia Usmar Ismail, atau komedi musikal ceria Tiga Dara (1956) diputar ulang dan diapresiasi oleh generasi baru.

Tantangan Zaman: Bertahan di Tengah Keterbatasan

Merawat ingatan bangsa bukanlah perkara murah dan mudah. Sinematek Indonesia adalah lembaga non-profit, yang keberlangsungannya sangat bergantung pada donasi, kerja sama komunitas, dan kepedulian para pencinta film. Selama bertahun-tahun, tempat ini kerap didera isu keterbatasan dana untuk perawatan fasilitas pendingin udara gudang penyimpanan (yang sangat vital bagi pita film seluloid) serta program digitalisasi berskala besar.

Meskipun demikian, dengan dedikasi para pengarsip yang tersisa—bahkan kini dilanjutkan di bawah kepemimpinan generasi baru seperti Farry Hanief (putra dari pendiri Misbach Yusa Biran)—Sinematek terus berupaya melakukan regenerasi pengarsip muda dan membina ekosistem pemutaran film alternatif.

Jika mengaku sebagai pencinta film, berkunjung ke Mini Studio Sinematek di Kuningan bukan lagi sekadar pilihan rekreasi, melainkan sebuah ziarah budaya. Di tengah gempuran efek visual CGI yang megah dan layar bioskop yang modern, Mini Studio ini mengingatkan kita akan satu hal: bahwa sebelum industri perfilman kita tumbuh menjadi raksasa hari ini, ada masa di mana para pendahulu kita bertaruh idealisme dan fisik demi merekam realitas sosial Indonesia di atas pita seluloid.

Duduklah di kursi Mini Studio Sinematek, nikmati derit proyektor atau pancaran visual klasik di layarnya, dan biarkan sejarah berbicara langsung kepada kita.



Menapaki Jejak Perjuangan PETA di Kota Hujan

 Halo sobat Mlaqumlaqu. Bogor tidak hanya tentang kebun raya, kuliner legendaris, atau udaranya yang sejuk. Di balik hiruk-pikuk Kota Hujan ini, tersimpan sebuah destinasi wisata sejarah yang sangat bernilai tinggi namun sering kali luput dari radar wisatawan, yaitu Museum PETA (Pembela Tanah Air). 

Beberapa minggu lalu, saya dan beberapa teman yang awalnya hanya hendak menghadiri undangan nonton film, jadi tergerak mampir ke salah satu bangunan yang saya lewati ketika menuju lokasi bioskop. 
Terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Pabaton, museum ini berdiri megah di dalam kompleks pusat pendidikan militer. Bangunan berarsitektur khas kolonial ini bukan sekadar tempat menyimpan benda kuno, melainkan monumen hidup yang merekam cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI). Museum ini diresmikan pada 18 Desember 1995 oleh Presiden Soeharto, yang sendiri merupakan mantan perwira PETA.
Bagi pencinta sejarah dan fotografi arsitektur tempo dulu, setiap sudut tempat ini menawarkan narasi visual yang kuat. Dari tampak luar saya sudah terpukau dengan bangunannya. 

Kompleks Halaman dan Patung Ikonik

Begitu memasuki area museum, saya disambut oleh halaman luas yang asri dengan latar belakang bangunan bergaya komparatif khas abad ke-20. Di bagian depan, berdiri kokoh dua monumen penting:

Patung Supriyadi. Tokoh pemberontakan PETA di Blitar yang sangat ikonik, berdiri dengan pose tegas dan gagah. 

Monumen Relief. Relief panjang yang memahat linimasa perjuangan pembentukan PETA hingga kontribusinya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tank dan Meriam Kuno. Kendaraan tempur dinas masa lalu yang dipajang di halaman, memberikan atmosfer militer yang kental sejak langkah pertama.

Ruang Diorama Menyimpan Sinema Visual Sejarah

Daya tarik utama di dalam gedung museum adalah keberadaan 26 diorama yang ditata secara kronologis. Diorama-diorama ini dibuat dengan detail yang sangat apik, menggambarkan peristiwa-peristiwa kunci, antara lain:

Proses perekrutan dan pelatihan para pemuda Indonesia oleh tentara Jepang di bumi perkemahan Bogor.

Kehidupan barak militer yang keras dan penuh disiplin.

Diorama Pemberontakan Blitar (1945). Salah satu bagian paling dramatis yang menggambarkan taktik pertahanan dan perlawanan di bawah pimpinan Supriyadi.
Detik-detik proklamasi kemerdekaan dan peran para alumni PETA (seperti Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Jenderal Ahmad Yani) dalam mengorganisasi tentara Indonesia setelah kemerdekaan.

Galeri Senjata dan Perlengkapan Perang

Bagi kolektor visual atau peminat militer, ruang persenjataan adalah tempat yang memikat. Di sini tersimpan rapi berbagai senjata asli yang digunakan pada masa Perang Dunia II dan masa revolusi fisik:


Senjata Api. Mulai dari senapan laras panjang buatan Jepang (seperti Arisaka), pistol mitraliur, hingga senapan mesin berat.

 Senjata Tradisional. Keris, kelewang, dan samurai (Katana) milik para perwira Jepang (Shodanco atau Chudanco).


Perlengkapan Lapangan. Seragam asli tentara PETA lengkap dengan atributnya, helm baja, tas ransel rajutan, hingga alat komunikasi radio kuno.

Galeri Foto Dokumen dan Tokoh Bangsa

Dinding-dinding museum dipenuhi oleh arsip foto hitam-putih berkualitas tinggi yang terjaga dengan baik. Terlihat potret-potret asli para tokoh bangsa saat masih muda mengenakan seragam PETA. Pencahayaan di area ini memberikan kesan dramatis, sangat cocok untuk meresapi atmosfer masa lalu sembari membaca dokumen-dokumen penting berupa surat keputusan, peta strategi pertempuran otentik, dan teks pidato propaganda masa pendudukan Jepang.


Karena museum ini berada di kawasan militer aktif (Pusdikzi), suasana di sekitar museum sangat tertib, tenang, dan bersih. Saya sarankan untuk berpakaian rapi dan sopan saat berkunjung. Cahaya alami yang masuk melalui jendela-jendela besar khas bangunan kolonial memberikan ambient lighting yang sangat bagus untuk dokumentasi, memberikan kesan sinematik tersendiri pada foto-foto. 

Berkunjung ke Museum PETA di Bogor bukan sekadar berjalan-jalan, melainkan sebuah refleksi mendalam untuk menghargai tetesan keringat dan darah para pemuda yang pernah ditempa di tanah ini demi lahirnya sebuah bangsa yang merdeka.