Open Trip Tebet: Dari Naik Odong-odong Hingga Deep Talk

 Halo sobat Mlaqumlaqu. Tanggal 21 April kemarin kita baru saja memperingati Hari Kartini. Sudah tahu donk siapa beliau? Ibu Kartini salah satu perempuan Indonesia yang menginspirasi banyak perempuan, baik di masa lalu maupun sekarang. Tanggal kelahiran beliau diperingati sebagai Hari Kartini untuk menghormati jasa dan pengabdian beliau. 

Nah sobat, masih dalam rangka Hari Kartini nih. Beberapa hari lalu, tepatnya Sabtu tanggal 25 April 2026, saya mengikuti Open Trip. Eit tapi ini bukan sekedar Open Trip biasa, lho. Ada yang membuat saya tertarik mengikuti trip kali ini. Awalnya saya melihat postingan kak Tery dan Jalan Dulu, teman blogger di Instagram. Kak Tery mengenakan kain dan mengajak followersnya untuk ikut Open Trip sambil berkain atau berkebaya dengan rute Tebet dan sekitarnya. 

Wah.. Saya langsung tertarik dan memberikan komen di postingannya tersebut. Long story short, sayapun mengirim pesan ke nomer yang diberikan oleh Kak Tery untuk ikut trip tersebut. Ternyata trip ini dibuka dengan slot kuota terbatas. Beruntung saya masih kebagian kuotanya. Dengan membayar sebesar Rp145.000 saya mendaftar trip tersebut. 

Open Trip Tebet: Dari Games, Naik Odong-odong hingga sesi Deep Talk

Hari itupun tiba, Sabtu, 25 April 2026. Pukul 12 siang, saya sudah berangkat menuju ke lokasi tempat meeting point trip, yaitu di Pasar Tebet Barat. Sebelumnya di grup, kak Roro dan tim Jalan Dulu sudah menginfokan tentang kegiatan open trip ini kita akan ngapain aja. 


Saya tiba pukul 14.00, cuaca yang hari itu cukup terik membuat saya melipir ke dalam pasar untuk mencari yang segar-segar. Luckily, ada penjual jus buah di sana. Sambil menunggu, saya pun membeli 2 cup, jus buah naga dan jambu, seger banget. 

Sekitar pukul 15.10 setelah peserta lain mulai berkumpul, kak Roro dan kak Tari mulai membuka acara dengan perkenalan masing-masing. FYI sobat, open trip ini pertama kali saya ikuti bersama Jalan Dulu dan saya ngga sendirian, masih ada peserta lain yang juga baru pertama kali ikut. Oiya di acara perkenalan ini, ada salah satu peserta yang memberikan merchandise berupa bros dan jepit rambut cantik berbentuk bunga buatan Kak Corry. 

Setelah acara perkenalan, kegiatan pertama dimulai dengan games. Bukan sembarang games, games ini menguji kekompakan dan kejelian para peserta. Kami dibagi dalam 4 tim, saya kebagian bersama kak Duro, kak Fitria dan kak Danto. Walau baru kenal saat itu tapi mereka semua sangat menyenangkan dan kooperatif. Serunya bareng gen Z ya ini, suka ada celetukan mereka yang out of the box, hehe. 

Games yang kami ikuti namanya Emoji Clue Hunt, yaitu kami harus mencari dan berfoto dengan tempat/benda yang ada di gambar yang dibagikan, lalu diposting di instagram dengan batas waktu yang sudah ditentukan. Tim kamipun langsung bergegas menuju salah satu objek yang ada di dalam pasar hingga tuntas 4 objek. Seru banget, pemanasan yang bikin panas, cape lari-larian. 


Selesai games, lanjut ke destinasi berikutnya yaitu ke toko bunga Trully Florist dan Tebet Eco Park. Awalnya, saya kira kami akan berjalan kaki ke lokasi toko bunga tersebut mengingat jaraknya juga ngga terlalau jauh. Eh ternyata, ngga donk. Keren banget nih tim Jalan Dulu, kami disediakan Odong-odong, donk hahaha. Serruuu, jadi kayak bocah keliling naik odong-odong. Untung odong-odongnya kuat ngangkut kami semua. 


Tiba di toko bunga Trully Florist, masih ada challenge lagi, nih. Sebelumnya kami mendapat setangkai bunga, ada yang merah juga putih. Challengenya yaitu kami diminta untuk membuat konten seatraktif dan sekreatif mungkin di area sekitar toko bunga dengan bunga yang kami dapat. 



Kali ini kami dibagi lagi menjadi beberapa tim di mana setiap tim terdiri dari 2 orang peserta. Saya kebagian bareng Kak Igoo. Untuk konsepnya saya nurut ajalah mau kayak gimana. Lihat deh foto-foto behind the scene yang sempet dicapture tim Jalan Dulu, hahaha seru yaa. 


Di challenge ini kami juga ngga lama, sekitar 15 menit kemudian kami berpindah ke destinasi selanjutnya yaitu ke Tebet Eco Park untuk sesi foto dan catwalk ala-ala. 
Baca juga: Open Trip Taman Bendera Pusaka
Selesai berfoto dan membuat video catwalk ala-ala, kami lanjut kembali ke destinasi terakhir yaitu kafe Maicha Coffee and Eatery di Jalan Tebet Barat IX No.13, Tebet, Jakarta Selatan. Kafenya tidak terlalu jauh dari Tebet Eco Park. Lagi-lagi kami diantar oleh odong-odong sampai di cafenya. 

Di sana sudah menunggu agenda journaling sekaligus makan malam, dan ternyata ini gongnya. Kami diberikan beberapa pertanyaan yang sekiranya menjadi representasi diri kami. Di sesi inilah yang menjadi sesi deep talk yang saling menguatkan antar kami. 

Baca juga: Sesi Melangkah, Menemukan Cerita dan Makna Perjalanan

Open Trip, Open Heart and Mind

Jujur trip ini jadi trip yang berkesan sepanjang saya mengikuti open trip di beberapa penyelenggara. Berasa banget kekeluargaannya walau kami sebelumnya tidak saling kenal satu sama lain, tapi kami mempunyai kesamaan rasa yaitu saling merangkul, saling support untuk bisa bangkit. 


Trip yang seharusnya selesai di pukul 19.00 berdasarkan jadwal tapi molor hingga pukul 20.00 saking deep dan dekatnya kami di sesi terakhir itu. Waktu terasa cepat, padahal kalau dilanjutin lagi sesinya bisa-bisa kami nginep di cafe, hahaha. Trip kali ini benar-benar berkesan, terima kasih Jalan Dulu untuk pengalaman trip yang berkesan ini. 


Tim Jalan Dulu





Seni Melangkah: Menemukan Cerita dan Makna di Tiap Perjalanan

Halo sobat Mlaqumlaqu. Kalian yang suka travelling, kalau bicara soal ngetrip, rasanya nggak bakal ada habisnya, ya ngga, sih? 

Ada sesuatu yang magis menggelitik saat kita mulai merencanakan perjalanan, menyusun itinerary, dan saatnya tiba mulai mengikat tali sepatu, menggendong ransel atau menyeret koper dan melangkah keluar dari zona nyaman. 

Travelling itu bukan cuma soal pindah koordinat di peta, tapi tentang bagaimana setiap langkah itu perlahan-lahan mengubah cara kita melihat dunia.

Serba Serbi Perjalanan

Sepanjang saya melakukan perjalanan, baik di dalam maupun luar kota, seringkali saya menemukan kejadian-kejadian yang justru membuat saya semakin kaya. Saya banyak mendapatkan pengalaman dan pelajaran hidup dari perjalanan yang saya lakukan. 

Berikut beberapa kejadian yang sering ditemui di perjalanan:

1. Kejutan di balik salah arah

Kalau dulu, di tahun 90an, saat smart phone belum dikenal, membawa map yang dilipat dan dibentangkan itu sangatlah biasa. Tapi di era digital sekarang ini, di mana Google Maps menjadi panduan, tapi tak jarang justru malah bikin kita kesasar. 

Tidak semua jalan atau gang yang diarahkan membuat perjalanan kita jadi ringkas. Tak jarang malah bikin kita muter-muter. Tapi jujur, di situlah momen paling berkesan yang biasanya justru muncul saat kita salah ambil belokan. 

Tiba-tiba kita bisa menemukan kedai kopi tersembunyi yang kopinya juara, atau berpapasan dengan bangunan tua dengan arsitektur khas yang banyak bercerita. Buat saya kesasar itu bukan musibah, justru itu adalah undangan untuk sebuah petualangan yang tidak ada di itinerary.

2. Resapi rona lokal

Setiap tempat punya cerita, punya nyawanya sendiri. Ada kota yang menyambut kita dengan hiruk-pikuk klakson, orang yang lalu lalang, ada juga yang menyapa dengan semilir angin di taman-taman kota yang tenang dengan sapaan ramah khas warga lokal. 

Saya suka berjalan kaki menyusuri trotoar, memperhatikan interaksi warga lokal, hingga mencium aroma kuliner pinggir jalan. Saya pikir inilah cara terbaik untuk benar-benar hadir di sebuah destinasi. Meresapi setiap langkah perjalanan kita, bukan dengan terburu-buru karena melambat pun masih bisa dinikmati. 

3. Trik mix and match anti ribet

Sobat Mlaqumlaqu ketika merencanakan bepergian, tentu juga menyiapkan perlengkapan yang kita butuhkan selama perjalanan. Hal ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Kita butuh outfit yang nyaman untuk dipakai jalan berjam-jam, tapi di sisi lain, kita juga ingin terlihat kece dan stylish saat difoto dengan latar belakang pemandangan yang cantik, ya ngga? 

Nah kuncinya ada pada keseimbangan. Usahakan bawa barang secukupnya, yang tidak merepotkan, tapi tidak menghambat gerak kita untuk mengabadikan momen di tiap perjalanan. Gunakan trik mix n match untuk outfit selama perjalanan. Jadi kita ngga butuh bawa banyak pakaian. 

Satu lagi, pastikan kamera selalu siap sedia untuk menangkap momen misalkan tekstur cahaya yang jatuh di antara pepohonan atau bayangan gedung di senja hari. Tapi juga jangan terlalu terfokus pada pengambilan momen yang malah jadi ngga bisa menikmati perjalanan. Tangkap momen senatural mungkin agar perjalanan tetap dapat dinikmati dan bermakna. 

4. Bukan oleh-oleh

"Jangan lupa oleh-oleh, ya?"

"Eh, titip bawain ini ya, yang lagi viral tuh di tempat wisata A."

Pernah dapat pesanan seperti itu? Berangkat aja belum tapi udah dititipin macam-macam hehehe. Jangan membebani diri, kalau memang tidak bisa, tolak aja dengan halus. 

Oleh-oleh terbaik itu bukan selalu benda yang dibungkus kertas kado. Justru oleh-oleh paling berharga adalah perspektif baru. Inilah yang saya sebut, setiap perjalanan ada cerita dan maknanya sendiri. 

Sisi Lain dari Sebuah Perjalanan

Pulang dari sebuah trip, biasanya kita jadi lebih menghargai hal-hal kecil, seperti keramahan orang asing, sejarah yang tersimpan di balik monumen bisu, hingga keberanian diri sendiri saat menghadapi situasi tak terduga.

Bagi saya, melangkah itu candu. Setiap perjalanan adalah bab baru dalam buku kehidupan kita. Tinggal bagaimana kita mengisi bab baru tersebut dengan cerita-cerita perjalanan yang memberi arti bagi hidup kita. 

Setiap jenis perjalanan punya warnanya masing-masing. Nggak ada yang lebih baik dari yang lain, karena semua tergantung apa yang lagi kamu cari saat itu. Jadi sudah sebanyak apa seni melangkah yang sobat sudah dapatkan selama perjalanan? 



Beda Gaya Beda Vibe, Mana Style Tripmu?

 Hai sobat Mlaqumlaqu. Menikmati perjalanan itu banyak caranya. Ada yang suka sendirian aka solo travelling atau ikut group tour. Ada yang harus sesuai dengan itinerary, ada yang easy going, terserah kemana kaki melangkah. Tergantung suasana hati, isi dompet, atau bisa juga seberapa besar nyali kita buat ketemu orang baru.

Saya sendiri tipe orang yang senang bepergian sendirian. Mau di dalam kota atau di luar kota terbiasa bepergian sendirian. Namun begitu, saya tidak menolak bepergian dengan group tour asal sesuai dengan kebutuhan. Pastinya juga saya akan memastikan bahwa pengelola group tour yang saya ikuti itu terjamin keamanan dan kenyamanannya. 


Jenis-jenis Trip yang Bisa Dicoba

Oiya, sobat. Beberapa tahun belakangan ini saya juga kerap mencoba beberapa jenis trip yang sedang hits. Berikut beberapa jenis trip yang bisa kita coba:

1. Walking Tour: Menghitung Langkah, Menabung Cerita
Walking tour yaitu sistem perjalanan ke satu atau beberapa tempat dengan berjalan kaki. Biasanya fokus ke satu kawasan tertentu, misalnya kota tua atau area bersejarah yang lokasinya searah atau berdekatan.

Kita nggak cuma jalan kaki demi keringat, tapi ada narator (pemandu) yang bakal menceritakan sejarah di balik tembok-tembok kusam atau trotoar yang kita injak. Ini menarik dan menjadi favorit banget buat yang suka eksplorasi dan detil-detil. Durasinya antara 2-3 jam namun ada juga yang lebih dengan jarak tempuh mulai dari 3 kilometer. 

Ikut walking tour ke museum. 
Rasanya seperti masuk ke mesin waktu, tapi tetap kekinian karena biasanya banyak spot foto estetik yang ditemukan secara nggak sengaja. Di Jabodetabek sendiri ada beberapa tour operator yang menjalankan walking tour ini. Sebut saja ada Jakarta Good Guide, Wisata Kreatif Jakarta, Walk Indies, Jakarta Step Into, dan masih banyak lagi. 

Baca juga: Napak Tilas Bekasi

2. Open Trip: Berangkat Asing, Pulang Jadi Bestie
Trip satu ini bisa dicoba untuk kalian yang punya waktu luang tapi teman-teman pada sibuk atau ingin mencoba perjalanan bersama orang-orang yang tidak dikenal. Pada dasarnya Open Trip itu adalah bentuk perjalanan wisata yang dirancang untuk umum, di mana kita bisa bergabung dengan rombongan orang lain, bahkan tanpa saling mengenal sebelumnya, untuk menikmati destinasi yang sama dalam satu itinerary.

Bertemu orang yang tak dikenal di Open Trip. 
Sama seperti walking tour yang juga banyak dibuka oleh penyelenggara wisata. Kita tinggal pilih yang sesuai dan melakukan pendaftaran ke penyelenggara. Serunya, kita bakal berkenalan dengan orang dari berbagai latar belakang. Risiko? Tiap perjalanan pasti ada risikonya. Di Open Trip ini kita harus siap beradaptasi dengan karakter orang yang berbeda-beda yang tidak kita kenal. Menariknya dari trip ini lahir persahabatan baru yang berlanjut ke trip-trip berikutnya.

3. One Day Trip: Kabur Sejenak dari Rutinitas
Trip ini juga pernah saya ikuti. Buat kalian yang bekerja nine to five dan hanya punya waktu luang di akhir pekan, trip ini bisa dicoba untuk sekedar stress release atau kabur dari rutinitas harian. 

One day trip ke Kepulauan Seribu. 
Perjalanan sehari di mana biasanya berangkat pagi-pagi dan pulang sebelum beranjak malam hari. Untuk destinasinya biasanya juga nggak terlalu jauh dari kota domisili, seperti main air ke air terjun di kaki gunung terdekat atau eksplorasi pulau yang tidak terlalu memakan waktu untuk menuju lokasinya.

Kunjungan singkat, padat, namun cukup untuk merecharge energi sebelum kembali pada rutinitas kerja di hari Senin lagi. 

Baca juga: One Day Trip ke Kepulauan Seribu

4. Solo Traveling: It's Time for Yourself
Sobat Mlaqumlaqu, jujur ini jenis perjalanan yang paling saya suka dan merasa "Ini gw banget! " Bisa dibilang Solo Travelling adalah level tertinggi dalam mengenal diri sendiri. Kita yang mengontrol semua perjalanan sendiri.

Kita yang tentukan kapan bangun, makan apa, dan mau berhenti di mana tanpa perlu kompromi. Menurut saya Solo Traveling melatih kemandirian dan intuisi. Kadang terasa sepi, tapi di saat itulah kita benar-benar bisa "mendengar" pikiranmu sendiri sambil menikmati senja di tempat asing. Walau solo travelling tapi kita tidak sendirian. 

Solo travelling ke Jogjakarta. 

Baca juga: Tips Solo Travelling untuk 50+

5. Private Trip: Eksklusivitas Tanpa Batas
Kalau kita tidak terbiasa melakukan perjalanan sendirian atau bercampur dengan orang yang tidak dikenal dan lebih nyaman jalan bareng keluarga kecil atau lingkaran pertemanan inti saja, Private Trip pilihannya. 

Kita pilih travel agent sekaligus tour leadernya khusus untuk grup sendiri. Untuk jadwalnya fleksibel banget, mengikuti permintaan grup. Kalau capek tinggal berhenti, kalau betah bisa lama-lama. Walau terlihat lebih santai, tapi kita harus menyiapkan budget ekstra yang lebih dari perjalanan lainnya. 

Private trip

6. Staycation: Liburan Pindah Kamar
Ada saja orang yang mengira liburan itu harus bepergian jauh, pindah kota. Padahal dengan pindah tempat tidur aja kita masih bisa liburan. Staycation, pesan hotel atau vila yang punya suasana beda, rehat sejenak dari notifikasi pekerjaan, dan nikmati fasilitas yang ada.

Staycation fokus pada kenyamanan dan istirahat total. Tidak perlu bepergian jauh, dari tempat kita menginap kita dapat menikmati liburan. Cocok buat yang lagi ingin sembunyi dari kebisingan dunia tapi nggak mau capek di jalan.

Sobat Mlaqumlaqu, jadi, kira-kira akhir pekan ini kamu mau pilih jenis trip yang mana? Yuk share juga. 








Minggu Pagi di Purwakarta, dari Ikut CFD hingga Sarapan di Pasar Sasagaran

Hai sobat Mlaqumlaqu. Hari Minggu waktu yang banyak digunakan masyarakat untuk berolahraga di luar rumah. Walau ada yang bilang Minggu pagi itu waktunya buat balas dendam tidur sepuasnya, sepertinya mereka belum pernah ngerasain energi pagi di Purwakarta. 

Minggu kali ini, saya memutuskan untuk refreshing, mencari suasana baru di tempat lain. Bukan CFD-an di Jakarta, tapi di Purwakarta. Yup, sedari Sabtu saya sudah berada di kota yang terkenal dengan sate Maranggi-nya ini. Hari Minggu, bangun lebih awal, ikat tali sepatu, dan meluncur ke kawasan Taman Air Mancur Sri Baduga di Jalan Siliwangi No.73, Nagri Kidul, Purwakarta. 

Baca juga: Hiden Gem Parung Zona Madina

Pemanasan di Tengah Ikon Kota

Suasana Car Free Day (CFD) di sini selalu punya daya tarik sendiri. Udara masih lumayan segar, dan yang paling asyik adalah melihat antusiasme orang-orang. Ada yang lari serius dengan perlengkapan lengkap, ada yang cuma jalan santai sambil selfie, sampai rombongan ibu-ibu yang semangat ikut senam aerobik mengikuti dentuman musik.

Oiya sobat Mlaqumlaqu, olahraga di sekitar Situ Buleud, tempat lokasi air mancur itu nggak berasa capek karena pemandangannya bagus. Beruntung sekali pagi itu cuaca cerah, langit biru seperti yang tertangkap di kamera hape saya. Meskipun air mancurnya nggak joget di pagi hari (biasanya hanya malam Minggu), arsitektur gerbangnya yang megah dan pepohonan hijau di sekeliling trek lari sudah cukup jadi mood booster. Setidaknya, lumayan lah sudah bakar beberapa ratus kalori sebelum akhirnya diisi ulang lagi.

Selain masyarakat yang beraktivitas jalan santai, lari atau bersepeda, ada juga aktivitas lain yang dilakukan di Taman Air Mancur Sri Baduga ini. Minggu itu kebetulan ada kegiatan anak sekolah yang digagas Diknas Pendidikan Purwakarta. Murid-murid melakukan kegiatan memasak dengan menggunakan tungku kayu, yang didampingi oleh para guru. 

Tampak pula para pedagang di pinggir jalan taman air mancur. Mulai dari aneka makanan, minuman, mainan hingga penyewaan mobil-mobilan dan motor-motoran yang dikendalikan dengan remote control. Meriah sekali suasana CFD di area Taman Air Mancur Sri Baduga pagi itu. 

Setelah jalan santai beberapa putaran, keringat mulai bercucuran, perut mulai keroncongan minta diisi. Saya tengok jam tangan sudah menunjukkan pukul 7.30. Kami pun bergegas beranjak pindah lokasi untuk cari sarapan. Di mana lagi kalau bukan ke Pasar Sasagaran. 

Baca juga: Walking Tour Napak Tilas Bekasi

Melipir ke Pasar Sasagaran

Buat yang belum tahu, Pasar Sasagaran ini bukan sekadar pasar tumpah biasa. Ini adalah pasar dadakan yang hanya ada setiap hari Minggu pagi di sepanjang jalan Mr. Dr. Kusuma Atmaja (area sekitar Pemda Purwakarta). Nama "Sasagaran" sendiri punya nuansa tradisional yang kental, dan memang itu yang dicari.

Ini kali ke dua saya mengunjungi Pasar Sasagaran. Setelah sebelumnya bersama rekan Kompasianer namun sayangnya cuaca tidak bersahabat. Hujan yang turun dari semalam, ternyata tidak juga reda di Minggu pagi. Kali ini saya ngga mau gatot (gagal total) lagi. 


Alhamdulillah, mestakung, semesta mendukung. Pagi yang cerah, udara sejuk, matahari bersinar hangat. Di Pasar Sasagaran ini bisa menemukan makanan yang mungkin sudah jarang ada di mal. Mulai dari Surabi hangat yang dimasak pakai kayu bakar, Awug yang uapnya masih mengepul, sampai Sate Maranggi yang aromanya manggil-manggil dari kejauhan. Belum lagi vibe pasar rakyatnya berasa sekali. 

Pagi itu kami tiba sekitar pukul 8.30 pagi, dari kejauhan banyak orang yang keluar dari jalan masuk Pasar Sasagaran dengan menenteng belanjaan. Wah, saya pikir kesiangan nih, kok sudah banyak yang pada pulang? 

Begitu memasuki lokasi pasar, terlihat antrian orang yang hendak memasuki area pasar. Terdengar suara alu/lumpang yang dipukul berirama. Wahh udah rame aja jam segini. Senang melihat keramaian pasar, bukan cuma pedagang tapi juga pengunjung yang sibuk antri di tiap-tiap meja dagangan. 


Interaksi yang natural antar penjual dan pembeli, dengan gaya bahasanya yang Sunda banget, tawar-menawar yang ramah, sampai suara pedagang yang menjajakan dagangannya bikin suasana Minggu pagi terasa sangat hidup dan membumi. 

Setelah berkeliling dan sesekali mengambil gambar, saya akhirnya mendarat di salah satu sudut penjual sate Maranggi. Tersedia bangku-bangku kayu agar pengunjung dapat duduk sambil sarapan. Makan di tengah suasana pasar setelah olahraga itu kenikmatannya berkali lipat. Kami membeli beberapa kudapan, mulai dari singkong dan ubi rebus yang ditaburi parutan kelapa, kerupuk kuning, sate Maranggi dengan ketan bakar dan oncom, juga surabi. Nikmat sekali ditambah suasana hiruk pikuk pasar, perfect!


Kenyang menyantap sarapan di Pasar Sasagaran, kami beranjak untuk mencari kedai kopi. Kebetulan di sekitaran pasar ada kedai kopi dengan latar belakang danau. Sepertinya tidak ada salahnya untuk dicoba juga. Dengan berjalan kaki kami menuju kedai kopi seperti uang tertera di map. Hanya berjarak kurang dari 1km dengan jalanan yang mulus dan sisi kiri kanan hijau-hijauan. Kami bahkan menyempatkan diri untuk berfoto dan membuat video. Sayang aja dilewatkan pemandangan sebagus itu. 


Tapi sayangnya, ketika kami sampai di kedai kopi tersebut ternyata tutup karena sudah dibooking untuk acara. Wah acara ngopi jadi gagal deh. Padahal pemandangan kedai kopinya cukup bagus. Akhirnya setelah numpang ngecharge hape dan ke toilet sebentar, kami kembali ke rute Pasar Sasagaran. Untungnya masih rame, kamipun mampir lagi untuk membeli minuman es kelapa muda, sayangnya es Goyobotnya sudah kehabisan. 

Purwakarta di hari Minggu itu memang juara. Selain dapat sehatnya dari olahraga di Sri Baduga, dapat kenyang dan senangnya dari "harta karun" kuliner di Pasar Sasagaran. Kalau ditanya mau balik lagi ke Pasar Sasagaran?Saya pastikan akan kembali lagi. Nah jika sobat Mlaqumlaqu lagi di Purwakarta, pastikan jangan sampai bangun kesiangan dan berburu sarapan lokal di Pasar Sasagaran!