Halo sobat Mlaqumlaqu. Libur long weekend ini ke mana aja, nih? Ada yang ke luar kota? Atau menghabiskan libur di dalam kota aja seperti saya?
Menyusuri sudut-sudut Jakarta dengan berjalan kaki selalu punya feelnya sendiri. Ada ritme yang lebih lambat, membuat kita bisa meresapi setiap detak kehidupan kota yang sering kali terlewat jika kita hanya menatapnya dari balik kaca kendaraan.
Kali ini, kaki saya melangkah ke Timur Jakarta, tepatnya ke Jatinegara. Dulu kawasan ini terkenal dengan nama Meester Cornelis. Ngga berencana untuk menapaki jalan-jalan sepanjang Jatinegara ini, tapi tiap kali melewatinya dari balik kaca kereta commuter line membuat saya tertarik untuk menyambanginya.Rute setengah hari ini dibawa santai, tidak diburu waktu, hanya ingin menikmati arsitektur lawas, dan memanjakan lidah dengan kuliner legendaris. Udah siap, sob? Yuk, pakai sepatu jalan paling nyaman, dan mari mulai Mlaqumlaqu!
Taman Benyamin Suaeb
Setelah turun di stasiun Jatinegara, perjalanan saya bermula dari Taman Benyamin Suaeb. Berada tidak jauh dari stasiun Jatinegara, tepatnya di Jalan Bekasi Timur, di sebrang stasiun Jatinegara.
Bangunan megah bergaya kolonial yang dulunya merupakan eks-Gedung Kodim ini sekarang disulap menjadi ruang rekreasi dan pelestarian budaya Betawi. Berjalan di selasarnya yang luas, rasanya seperti disambut langsung oleh senyum khas mendiang Bang Ben. Udaranya masih cukup segar di pagi hari, sangat pas untuk melakukan pemanasan ringan sebelum menembus keramaian pasar.
Gedung yang diresmikan di masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, pada 22 September 2018 ini menjadi wadah kreativitas budaya Betawi. Sebagai cagar budaya, di dalam Taman Benyamin Suaeb ini terdapat museum "Benyamin Suaeb" yang menyimpan berbagai barang peninggalan almarhum Benyamin, seperti kaset, pakaian yang pernah ia kenakan saat pentas, puluhan penghargaan, dan foto-foto Benyamin Suaeb dari masa kecil hingga saat menjadi tokoh terkenal.
Riuh Rendahnya Pasar Jatinegara
Tidak jauh dari Taman Benyamin Suaeb, lanjutkan langkah kaki menuju gedung perniagaan yang tak pernah tidur, yaitu Pasar Jatinegara. Beralamat di Jalan Jatinegara Barat No. 10, RT 10/RW 03, Bali Mester, Jatinegara. Inilah potret denyut nadi ekonomi yang sesungguhnya.
Menyusuri lorong-lorongnya yang menawarkan apa saja, dari kain warna-warni, jajanan pasar basah, hingga pernak-pernik yang mungkin sudah jarang kita temui di pusat perbelanjaan modern. Hiruk-pikuk tawar-menawar dan aroma rempah yang sesekali tercium di udara memberikan sensasi kehidupan urban yang sangat membumi dan natural.
Harumnya Kopi Sedap Djaya (Wong Hin).
Setelah puas memanjakan mata di pasar, saatnya memanjakan penciuman. Tidak jauh dari pasar Jatinegara terdapat Toko Kopi Sedap Djaya, atau yang melegenda dengan sebutan Kopi Cap Bis Kota (Wong Hin). Berdiri sejak era kemerdekaan, aroma biji kopi yang sedang digiling di toko ini bisa tercium dari jarak beberapa meter. Membeli sekantong kopi bubuk di sini bukan sekadar belanja, tapi mengantongi sepenggal sejarah Jakarta untuk diseduh di rumah.
Jodohnya Kopi: Toko Roti Gelora.
Tak lengkap rasanya bicara kopi tanpa teman pendampingnya. Tepat di kawasan yang sama, mari kita hampiri sebentar Toko Roti Gelora. Masuk ke toko ini seolah ditarik mundur ke beberapa dekade lalu. Etalasenya sederhana, menjajakan deretan roti klasik yang resepnya dipertahankan turun-temurun. Roti tawarnya yang lembut atau roti manisnya yang otentik adalah bekal karbohidrat yang sempurna untuk melanjutkan sisa langkah kita.
Sate Keroncong Penyelamat Perut yang Keroncongan.
Matahari mulai meninggi ketika beranjak dari Toko Roti Gelora dan perut rasanya mulai menuntut haknya. Tapi ngga perlu khawatir, Jatinegara punya Sate Keroncong yang legendaris untuk makan siang. Dinamakan demikian karena dulunya konon sering diiringi alunan musik keroncong.
Kepulan asap dari panggangan sate yang meneteskan bumbu kecap manis gurih ini sungguh menggugah selera. Duduk santai menikmati seporsi sate hangat sambil melihat lalu-lalang orang adalah bentuk kemewahan tersendiri dalam sebuah perjalanan.
Berdiri Megah di Persimpangan: GPIB Koinonia.
Dengan tenaga yang kembali terisi penuh, rute berlanjut ke salah satu landmark paling ikonik di Jatinegara yaitu Gereja GPIB Koinonia. Letaknya yang berada di ujung percabangan jalan membuatnya tampak begitu gagah.
Gereja yang dibangun pada awal abad ke-20 ini memamerkan arsitektur khas peninggalan Belanda dengan detail yang menawan. Kita bisa berhenti sejenak di seberang jalan, mengagumi keindahan fasadnya sambil membayangkan bagaimana rupa jalanan ini seratus tahun yang lalu.
Museum Perjuangan Jatinegara.
Sebagai penutup rangkaian jalan-jalan, sejenak melipir ke Museum Perjuangan Jatinegara. Di sinilah letak garis merah dari semua hiruk-pikuk yang kita temui hari ini. Museum ini menyimpan memori kolektif tentang keberanian dan perlawanan rakyat di tanah Betawi.
Mengakhiri perjalanan di sini memberikan jeda untuk merenung dan mensyukuri kemerdekaan yang membuat kita bisa berjalan bebas menyusuri kota hari ini.
Perjalanan setengah hari di Jatinegara ini bukan sekadar urusan memindahkan kaki dari satu titik ke titik lain. Sebuah bukti bahwa kadang, untuk melakukan perjalanan yang sarat makna, kita tidak perlu membeli tiket pesawat jauh-jauh. Cukup keluar rumah, berjalan kaki, dan biarkan kota bercerita kepada kita.
Punya cerita atau kenangan khusus di sudut-sudut Jatinegara ini? Mari berbagi cerita di kolom komentar.

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Hai..Terima kasih sudah mampir di blog saya. Tolong tinggalkan komen dengan bahasa yang santun, No Sara, No Politik.