Seharian Cobain Promo Lebaran Rp1 Transum Jakarta

 Hai sobat Mlaqumlaqu. Selamat Idulfitri 1447 H untuk sobat Mlaqumlaqu muslim dan muslimah. Maaf lahir batin,ya🙏. Libur Lebaran kemana aja, nih? Ada yang ngga mudik juga kah? Kebetulan banget nih, mumpung libur Lebaran kemarin dan lagi ada promo tarif Rp1 untuk pengguna transportasi LRT, MRT dan TransJakarta, saya manfaatkan untuk keliling Jakarta sekaligus kulineran. 

Sebagai pengguna transportasi umum di Jabodetabek, musim libur Lebaran ini jalanan Jakarta jadi tampak lebih lengang dari biasanya. Kebayang donk, hampir blabla% yang bekerja di Jakarta itu adalah pendatang. Jadi ketika musim mudik Lebaran gini otomatis penghuni Jakarta jadi berkurang. 

Libur Lebaran keliling Jakarta 
Baca juga: TransJakarta Jabodetabek 

Promo Rp1 dari MRT, TransJakarta dan LRT 

Lebaran hari pertama 1 Syawal 1447 H atau bertepatan dengan hari Sabtu, 21 Maret 2026, saya sekeluarga berkumpul dengan keluarga besar di salah satu rumah keponakan. Kebetulan pula tahun ini salah satu kakak perempuan saya yang bermukim di UK juga mudik ke Jakarta bersama suaminya. Jadilah momen Lebaran ini jadi momen yang ditunggu-tunggu karena kami bisa kumpul semua. 

Kumpul keluarga besar di hari pertama Idulfitri 1447 H. 
Menjadi salah satu tradisi di keluarga besar saya yaitu berkumpul di hari pertama Lebaran setelah melangsungkan shalat Idulfitri. Alhamdulillah setiap tahun kami bisa berkumpul dan bergiliran di salah satu rumah. Sayangnya tahun ini kakak tertua kami tidak dapat hadir dikarenakan kondisi kesehatannya. Jadilah kami yang bergiliran mengunjunginya. 

Di hari kedua Lebaran, berhubung ketiga anak saya sudah mulai masuk kerja, jadilah saya sendiri gabut. Kebetulan juga teman dari Purwakarta, Mira, ngajakin jalan-jalan keliling Jakarta. Wah boleh juga nih, pikir saya. Mumpung lagi ada promo libur Lebaran, transportasi umum mulai dari MRT, TransJakarta dan LRT mengenakan tarif flat Rp1 mulai dari tanggal 21-22 Maret 2026 atU bertepatan dengan hari 1 dan 2 libur Lebaran.

Di KRL CommuterLine. 
Jadilah kami janjian di stasiun Bekasi pukul 8 pagi. Dari stasiun Bekasi kami naik kereta commuter dengan jurusan Angke Kampung Bandan dan turun di stasiun Sudirman. Berhubung hari Minggu, rencananya mau sekalian CFD (Car Free Day) juga, eh ternyata CFD hari itu ditiadakan. Kami yang tadinya mau sarapan di sekitaran area CFD terpaksa putar haluan cari sarapan ke Blok M. 

Dari stasiun Sudirman kami berjalan menuju Bunderan HI untuk berfoto-foto sekalian ke stasiun MRT untuk kulineran di negara Blok M. Bunderan HI saat itu masih terlihat lengang, tidak terlalu ramai orang yang berolahraga. Terlihat juga ornamen menyambut Idulfitri dan tersembul janur di antaranya yang merupakan representasi Hari Raya Nyepi umat Hindu. 

Di Bunderan HI. 
Bulan Ramadan tahun ini memang terlihat sekali nuansa toleransi di negara kita. Di awal bulan Ramadan disambut juga dengan Imlek yang merupakan perayaan Tahun Baru Cina, juga berbarengan dengan puasa pra Paskah umat Katolik. Di akhir Ramadan disambut dengan Hari Raya Nyepi dan setelah Idulfitri datang Paskah. Itulah indahnya keberagaman di negara kita yang mencerminkan Bhinneka Tunggal Ika. 
Di MRT Jakarta. 
Dari stasiun MRT Bunderan HI kami menuju Blok M. Masih dalam promo Lebaran tarif spesial Rp1 juga berlaku di MRT. Dengan kartu uang elektronik saya mentap kartu memasuki area stasiun. Sepanjang 16 km rute dari stasiun MRT Bundaran HI sampai stasiun Blok M atau selama 30 menit dengan 13 perhentian, yaitu stasiun stasiun Dukuh Atas BNI, Setiabudi Astra, Bendungan Hillir, Istora Mandiri, Senayan Bank DKI, ASEAN dan Blok M BCA. 

Sesampainya di stasiun Blok M, kami bergegas menelusuri area Blok M yang pagi itu ternyata sudah ramai orang. Pagi itu jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, harusnya sih sudah banyak toko-toko yang buka, termasuk kedai makanan. Bahkan kami sempat melihat kedai makanan yang viral dan sudah mengular yang mengantri. Sayangnya di foodcourt di Blok M Square yang berada di lantai bawah, masih banyak yang belum buka. Padahal di area itu banyak aneka pilihan kuliner dengan harga terjangkau dibanding dengan di area atasnya. 

Antrian jajanan viral. 
Akhirnya kami putuskan untuk berpindah ke area Melawai, tepatnya di gedung Pasaraya. Di sisi samping gedung tersebut banyak aneka kedai makanan. Setelah melihat-lihat, kami putuskan untuk mampir di Kaya Tiam dan memesan nasi goreng dengan es teh leci. Sayang saking lapernya ngga sempet fotoin makanan dan minumannya. 

Dari Kaya Tiam, menyempatkan diri tepatnya numpang istirahat di Gramedia Jalma. Saya baru tahu kalo Jalma itu diambil dari bahasa Sunda artinya orang. Memang sih, toko buku legend ini interiornya homey banget, memanusiakan sekali, bikin pengunjung betah.

Numpang ngadem di Gramedia Jalma. 
Dari Gramedia, masih seputaran negara Blok M, kami putuskan untuk ke Blok M Hub yang tepatnya di lantai dasar terminal Blok M. Keberadaan Blok M Hub ini makin bersinar, banyak tenant-tenant makanan juga produk fashion di sini. Kuliner viral juga kebanyakan ada di sini, salah duanya Mie Kangkung Kite dan Susu Murni Bahagia. Seperti biasa antriannya mengular, yah sekali-kali deh ikutan ngantri yang lagi viral juga hehehe. 
Ikut antri di Susu Murni Bahagia. 
Seporsi mie Kangkung Kite dibandrol Rp35.000, mienya kenyal, gurih dengan topping daging dan cukup mengenyangkan. Sedangkan untuk segelas Susu Murni Bahagia dibandrol mulai dari harga Rp20.000-35.000,- tergantung variannya. 

Menu Susu Murni Bahagia Blok M Hub. 

Mie Kangkung Kite Blok M Hub. 
Sobat Mlaqumlaqu, ngga terasa hari sudah semakin siang. Dari Blok M perjalanan menggunakan transportasi umum dengan promo Lebaran Rp1 masih berlanjut. Setelah naik MRT dari stasiun Bundaran HI, kini kami menggunakan bus TransJakarta menuju stasiun LRT Dukuh Atas. Dari terminal Blok M, kami menaiki rute Blok M-Kota di jalur 1 dan turun di halte Dukuh Atas 1 lalu jalan kaki ke stasiun LRT Dukuh Atas yang juga terintegrasi dengan stasiun KRL CommuterLine Sudirman.
Di TransJakarta koridor 1 Blok M-Kota. 

Di LRT Jabodebek. 
Di stasiun LRT Dukuh Atas. 
Walau libur Lebaran tapi masyarakat yang bepergian terlihat ramai. Banyak orang tua yang membawa keluarganya bepergian menggunakan transportasi umum. Transportasi umum kini menjadi alternatif wisata keliling Jakarta di musim liburan seperti Lebaran kali ini. Lengkap sudah perjalanan libur Lebaran kali ini. Next coba transportasi umum ke mana lagi, ya? 
Di LRT Jabodebek rute Dukuh Atas-Jatimulya. 






Napak Tilas Layar Lebar: 5 Destinasi Wisata Indonesia yang Ikonik Gara-Gara Film

 Hai sobat Mlaqumlaqu. Siapa nih di antara kalian suka nonton film karena latar lokasi filmnya? Saya tuh sering banget perhatiin lokasi tempat film yang saya tonton, apalagi kalau lokasinya masih di Indonesia, terlebih di pulau Jawa. "Wah, bagus banget pemandangannya! Di mana ya itu?" 

Ternyata ya sob, tren berkunjung ke lokasi syuting film atau film tourism memang naik daun. Apalagi kalau filmnya mencapai box office,wah yakin deh pasti banyak yang FOMO untuk berkunjung. Selain bisa merasakan atmosfer yang sama dengan karakter favorit di film tersebut, tempat-tempat itu memang aslinya sudah punya pesona yang luar biasa.

Di area gereja ayam dengan latar belakang bukit Manoreh, Magelang

Nah, kalo sebelumnya saya udah ngebahas tentang rekomendasi film yang layak tonton ketika di perjalanan, kali ini saya mau ngebahas destinasi yang mendadak hits atau bahkan lebih hits lagi karena keindahannya tertangkap kamera film layar lebar. 

5 Destinasi Wisata yang jadi Lokasi Syuting

Ketika memutuskan untuk menonton suatu film, selain mencari sinopsis ceritanya, saya juga menonton trailernya terlebih dulu. Tidak jarang saya mencari spoilernya dari berbagai sumber. Kalau orang lain mungkin alergi dengan spoiler, saya malah suka, karena jadi lebih bisa memutuskan untuk lanjut nonton atau ngga. 

Tapi sob, walaupun misal jalan ceritanya menurut saya kurang bagus tapi lokasi tempat syutingnya tuh penggambarannya indah banget, pasti akan saya tonton juga. Berikut ini adalah rekomendasi tempat wisata di Indonesia yang pernah jadi lokasi syuting film hits, lengkap dengan info filmnya! Disclaimer dulu ya, sobat Mlaqumlaqu, ini berdasarkan pilihan pribadi saya aja. 

1. Pantai Tanjung Tinggi, Bangka Belitung

Film: Laskar Pelangi (Miles Production, 2008)

Sutradara: Riri Reza. Pemain: Cut Mini, Ikranagara, Lukman Sardi, dan anak-anak asli Belitung.

Kenapa saya tertarik dengan film ini? Pertama memang karena filmnya, jalan ceritanya runut, mengalir dan mudah dipahami dan dinikmati. Ceritanya sederhana tapi penuh makna. Tapi lebih dari itu tempat lokasi syutingnya yang sangat memanjakan indra penglihatan kita. 

Pantai Tanjung Tinggi, Bangka Belitung. Dok:Wikipedia.
Salah satunya yaitu pantai Tanjung Tinggi. Berlokasi di Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pantai ini berada di sebelah utara Pulau Belitung, berjarak sekitar 37-40 km dari pusat kota Tanjung Pandan. 

Pantai ini terkenal dengan formasi batu granit raksasa yang artistik dan air laut yang tenang. Sejak kesuksesan film Laskar Pelangi ini, Belitung yang tadinya jarang dilirik langsung jadi destinasi primadona. Membayangkan indahnya batu-batu granit besar dan kita bisa berfoto di antara batu-batu besar tempat Ikal dan kawan-kawannya bermain.

2. Ranukumbolo & Puncak Mahameru, Jawa Timur

Film: 5 cm (Soraya Intercine Films, 2012)

Sutradara: Rizal Mantovani. Pemain: Fedi Nuril, Denny Sumargo, Herjunot Ali, Raline Shah, Pevita Pearce, Saykoji.

Buat pendaki gunung, Ranukumbolo dan Puncak Mahameru yang berlokasi di propinsi Jawa Timur, perbatasan antara Lumajang dan Malang ini bukan tempat yang asing bagi mereka. Bisa dibilang ke dua lokasi ini adalah bucket list para pendaki gunung. Danau di atas gunung ini menawarkan pemandangan matahari terbit yang magis. Setelah film ini rilis, jumlah pendaki Gunung Semeru melonjak drastis! 

Danau Ranukumbolo, Jawa Timur. Dok:traveloka.

Sebagai puncak dari gunung Semeru, Mahameru menjadi titik puncak tertinggi, kawah aktif (Jonggring Saloka), dan tujuan akhir para pendaki.Pesona "Tanah Tertinggi di Pulau Jawa" ini memang tidak ada duanya, meski untuk mencapainya butuh fisik yang prima.

3. Gereja Ayam (Bukit Rhema), Magelang

Film: Ada Apa dengan Cinta? 2 (Miles Films, 2016)

Sutradara: Riri Riza. Pemain: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Titi Kamal, Adinia Wirasti, dll. 

Gereja Ayam Bukit Rhema, Magelang. 

Saya sempat mengunjungi gereja Ayam ini di tahun 2019 lalu berdua dengan anak sulung saya. Kebetulan ada undangan reuni kampus dan menyempatkan diri untuk mampir ke Candi Borobudur dan Bukit Rhema gereja berbentuk merpati putih yang lebih dikenal dengan nama gereja ayam ini. 

Di atas puncak gereja ayam Bukit Rhema. 
Keberadaan gereja ayam ini jadi viral setelah Rangga dan Cinta di film AADC 2 ini mengobrol di puncaknya saat fajar menyingsing. Dari atas sini kita bisa melihat pemandangan perbukitan Menoreh yang asri. Berlokasi di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Borobudur, Magelang, di gereja ayam ini juga terdapat kafe dengan menu tradisional. 

4. Desa Wisata Penglipuran, Bali

FTV: Cintaku Bersemi di Bali (SCTV, 2017) dan berbagai Judul FTV serta Dokumenter lainnya. 

Pemain: aktor dan aktris dalam dan luar negeri. 

Desa Penglipuran menyandang gelar salah satu desa terbersih di dunia. Tata ruangnya yang rapi, arsitektur tradisional yang seragam, dan suasananya yang tenang sering dijadikan lokasi syuting untuk menggambarkan sisi autentik Pulau Dewata. 

Desa Penglipuran, Bali. 
Gimana ngga? Rumah-rumah setipe berderet di jalanan menanjak. Suasana hijau sangat terasa, mobil dan motor juga tidak diperbolehkan masuk ke dalam desa. Semua kendaraan memang diparkir dekat gapura, sehingga Penglipuran bebas dari asap knalpot. 

Desa yang berlokasi di Jalan Penglipuran, desa Kubu, Bangli, Bali ini juga menerapkan konsep zero waste 3R yaitu Reduce, Reyse, Recycle. 

5. Kawasan Melawai, Jakarta

Film: Filosofi Kopi (Visinema, 2015)

Sutradara: Dwimas Sasongko. Pemain: Rio Dewanto, Chicco Jerikho, Julie Estelle, Melisa Karim. 

Kawasan Melawai sering menjadi lokasi syuting film sejak era tahun 90an. Sebut saja film Olga dan Sepatu Roda yang dibintangi oleh Desy Ratnasari. Sejak era 90an, kawasan ini menjadi tempat nongkrong anak muda, termasuk jadi tempat favorit saya dan teman putih abu-abu dulu. Biasanya kami mengunjungi toko buku Gramedia dan berakhir bermain sepatu roda di salah satu diskotik di sana, Lipstick namanya. 

Kafe Filosofi Kopi, Melawai. 
Sementara itu untuk lokasi film Filosofi Kopi mengambil lokasi di tempat kafe itu berada yaitu di Jalan Melawai VI, No. 8. Awalnya hanya kafe sementara untuk keperluan syuting, namun akhirnya menjadi kafe permanen hingga sekarang. 
Salah satu outlet kuliner kekinian di Melawai. 

Apalagi kawasan Melawai khususnya Blok M semakin marak dan berkembang dengan menjamurnya aneka outlet jajanan viral dan menjadikan kawasan Blok M termasuk Melawai tujuan wisata kuliner masyarakat. 
Di salah satu sudut Gramedia Jalma, Blok M

Sefruit💡 Tips Berkunjung ke Lokasi Syuting

Menyambangi lokasi syuting yang menjadi ikonik setelah menonton filmnya diperlukan beberapa tips dan trik agar tidak salah tempat. Biasanya setelah viral atau hits, banyak yang juga penasaran untuk mendatanginya. Berikut tips berkunjung ke lokasi syuting berdasarkan film yang ditonton:

  • Cari tahu Spot Spesifik. Tanya ke warga lokal di mana titik persis pengambilan gambar agar foto kita mirip dengan adegan di film tersebut. 
  • Datang lebih awal. Lokasi syuting yang ikonik biasanya ramai pengunjung yang juga kepo. Datang lebih awal untuk mendapatkan foto yang bersih tanpa gangguan orang lewat.
  • Hargai Lingkungan. Jangan sampai karena ingin meniru adegan film, kita malah merusak properti, membuang sampah sembarangan atau mengganggu kenyamanan warga sekitar. 

Nah sobat Mlaqumlaqu, dari kelima tempat di atas, mana nih yang paling ingin kalian kunjungi? Atau kalian tahu lokasi film Indonesia lainnya yang nggak kalah keren? Share di kolom komentar ya. Sampai jumpa di Mlaqumlaqu berikutnya!


5 Rekomendasi Film Layak Tonton untuk di Perjalanan

 Hai sobat Mlaqumlaqu. Ketika bepergian menggunakan kendaraan baik darat, laut maupun udara, seringkali kita merasa bosan. Apalagi bila perjalanan yang dilakukan memakan waktu yang cukup lama. Memang sih, melihat pemandangan dari jendela itu seru, tapi ada kalanya kita butuh hiburan ekstra biar waktu nggak terasa lambat.

Selain membaca buku, mengintip kehebohan di lini masa sosial media, ke restorasi kereta atau mengobrol melalui chat pribadi, biasanya saya juga suka menonton film untuk mengusir rasa bosan selama dalam perjalanan. Nah, biar semangat petualanganmu tetap membara meski lagi duduk manis di kursi penumpang, saya sudah merangkum 5 rekomendasi film bertema perjalanan, yang kali ini film lokal, yang bakal bikin perjalanan kamu makin berkesan!

Baca juga: Mendadak Kebumen: Ketinggalan Kereta di Purwokerto

5 Rekomendasi Film Biar Perjalananmu Ngga Bosan

1. Kulari ke Pantai (Indonesia, 2018)

Film ini merupakan garapan duo Riri Riza dan Mira Lesmana. Menurut saya film ini adalah paket lengkap. Menceritakan road trip seru dari Jakarta ke Banyuwangi sejauh 1.000 km lebih. Dari judulnya, kebayang pemandangan yang bakal disuguhi yaitu jalur darat Pulau Jawa yang cantik banget. Cocok nih buat kamu yang lagi road trip bareng keluarga karena ceritanya hangat dan penuh tawa.

Taman Nasional Baluran. Dok: website tnbaluran. 
Di film ini daerah wisata yang menjadi latar belakang lokasinya adalah Taman Nasional Baluran dan pasar Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur. Taman Nasional Baluran dijuluki sebagai Africa Van Java adalah kawasan konservasi seluas 25.000 hektar di ujung timur Pulau Jawa (Situbondo/Banyuwangi) yang terkenal dengan padang savana Bekol yang luas, hutan mangrove, dan pantai. Ekosistem yang unik ditawarkan di area wisata ini yang kawasannya mirip di Afrika dengan pemandangan gunung Baluran.

📍Taman Nasional Baluran, Jalan Raya Banyuwangi, Situbondo Km. 35

2. 3 Hari Untuk Selamanya (Indonesia, 2007)

Siapa yang ngga kenal Nicholas Saputra yang akrab disapa NicSap. Baik akting dan filmnya patut diacungi jempol. Film 3 Hari Untuk Selamanya ini diperankan bareng Adinia Wirasti yang menceritakan perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta menggunakan mobil tua.

Salah satu scene yang menampilkan keindahan pemandangan jalur Jogjakarta. Dok:milesproduction

Film ini menangkap esensi "perjalanan" yang sesungguhnya, bukan sekedar soal tujuannya, tapi soal percakapan dan kedekatan yang terbangun selama di jalan. Sangat reflektif dan vibe-nya santai banget. Belum lagi dominasi pemandangan sepanjang perjalanan yang sangat indah. 

3. Eat Pray Love (Amerika, 2010)

Ketika film ini ramai dibicarakan, saya gagal fokus dengan latar belakang lokasinya. Siapa yang nggak tahu film ini? Film yang bercerita tentang perjalanan Elizabeth Gilbert mencari jati diri ke Italia, India, dan berakhir di indahnya Bali.

Pantai Padang-Padang di Bali. Dok: Bali Rafting Tours
Menonton film ini saat sedang traveling rasanya seperti sedang meditasi visual. Sangat cocok buat kamu yang lagi melakukan solo traveling untuk mencari suasana baru. Adegan yang memperlihatkan keindahan pulau Bali tepatnya di pantai Padang Padang. Pantai yang terkenal dengan pasirnya yang putih bersih dan ombaknya yang terkenal di kalangan para surfer dunia. 

📍Pantai Padang-Padang, Jalan Labuansait, Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. 

4. Trinity, The Nekad Traveler (Indonesia, 2017)

Diangkat dari blog legendaris, film ini menceritakan perjuangan seorang karyawan yang hobi jalan-jalan meskipun jatah cutinya terbatas. Sebagai blogger, tentu tidak asing dengan blog Trinity yang banyak bercerita tentang perjalanannya ke berbagai tempat baik di dalam maupun di luar negeri. 

Scene di film Trinity, The Nekad Traveller. Dok: youtube @tujuhbintangsinema
Film ini sangat relatable buat kita semua yang harus pintar-pintar mengatur waktu antara kerjaan dan hobi jalan-jalan. Film yang sangat inspiratif dan penuh tips traveling tersembunyi, belum lagi pemandangan alam di lokasi-lokasi wisata yang dikunjungi, sangat memanjakan mata. 

5. 5 cm (Indonesia, 2012)

Kisah persahabatan lima orang yang mendaki Puncak Mahameru. Film ini sempat memicu tren naik gunung secara massal di Indonesia. Mendadak semangat nasionalisme berkobar dan menjadikan film ini inspirasi bagi para penontonnya untuk melakukan perjalanan mendaki gunung. Belum lagi keindahan Gunung Semeru yang digambarkan dengan sangat megah di sini. Cocok ditonton selama perjalanan dan menjadi teman pengusir rasa bosan. 

Gunung Semeru. Dok: Indonesia Travel
📍Gunung Semeru, Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, perbatasan Lumajang dan Malang, Jawa Timur. 

Tips Menonton Selama di Perjalanan

 Sebenarnya masih banyak lagi film-film bertema perjalanan yang bisa kita tonton sebagai pengusir rasa bosan ketika di kendaraan. Namun yang perlu diperhatikan yaitu kita harus mempersiapkan beberapa hal agar acara menonton selama perjalanan jadi makin mengasyikkan.

Berikut tips menonton selama perjalanan, yaitu:

  • Download Duluan: Jangan mengandalkan sinyal internet di jalan. Pastikan sudah klik tombol download di aplikasi streaming favoritmu. Selama perjalanan bisa saja terjadi gangguan sinyal yang nantinya akan menggangu keasyikan kita menonton. Yang ada bukannya happy malah jadi bete. 
  • Siapkan Headphone: Pilih yang memiliki fitur noise cancelling biar suara mesin bus atau bising di pesawat nggak mengganggu momen nontonmu. Selain itu dengan menggunakan headphone kita juga menjaga ketenangan penumpang yang ada di sekitar kita. 
  • Power Bank: Walaupun di kendaraan yang kita naiki tersedia colokan, tapi ada baiknya kita juga menyiapkan power bank untuk berjaga-jaga. Jangan sampai film lagi seru-serunya, eh HP malah mati. Pastikan daya baterai aman ya. 

Menonton film jadi salah satu pengusir rasa bosan di perjalanan. 

Nah sobat Mlaqumlaqu, jadi film mana nih yang bakal nemenin perjalanan kamu kali ini? Atau kamu punya rekomendasi film perjalanan favorit lainnya? Tulis di kolom komentar bawah ya, siapa tahu jadi inspirasi saya untuk mengunjungi lokasi tempat film itu dibuat. Happy traveling and watching, Sobat Mlaqumlaqu!


Mendadak Kebumen 2: dari Ziarah hingga Berburu Oleh-oleh

 Hai sobat Mlaqumlaqu. Menyambung cerita sebelumnya nih tentang perjalanan saya ke Kebumen, sekarang saya mau cerita ngapain aja selama 3 hari di Kebumen. Jadi setelah drama ketinggalan kereta di Purwokerto, Alhamdulillah akhirnya saya bisa menyusul dengan menggunakan kereta lain, yaitu kereta Manahan dan tiba di stasiun Kebumen pukul 16.09 WIB, 30 menit setelah kereta Bengawan tiba. 

Stasiun Kebumen. 

Baca juga: Mendadak Kebumen: Ya Amplop Ketinggalan Kereta di Purwokerto

Kebumen, Wisata Ziarah ke Makam Leluhur

Dari stasiun Kebumen, saya dan kakak perempuan saya menumpangi becak menuju rumah sepupu dari pihak ibu ke Gg. Platuk yang berada di kawasan Jalan Pemuda, Kota Kebumen. Sebenarnya bisa juga ditempuh dengan berjalan kaki, tapi berhubung hari sudah sore dan kami cukup lelah jadi memutuskan untuk naik becak. 
Makam ibunda di Bumirejo, Kebumen. 

Keesokan paginya, kami menuju makam leluhur yaitu makam ibunda dan mbah putri (nenek) beserta beberapa keluarga di pemakaman di daerah Bumirejo, Kota Kebumen. Pemakaman tersebut adalah pemakaman umum yang tanahnya merupakan tanah wakaf, jadi masyarakat sekitar dapat memanfaatkan pemakaman tersebut tanpa dipungut bayaran. 
Makam mbah putri (nenek). 

Lokasi pemakaman tersebut berdekatan dengan pemakaman lain, yaitu makam KH. M. Sururuddin A.W.K seorang Muassis atau Pendiri Persatuan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyyah Kaafah,  Bumirejo, Kebumen dan pemakaman Katolik Kemitir (Paroki Santo Yohanes Maria Vianney Kebumen). Kedua pemakaman ini lokasinya berada lebih tinggi dari pemakaman umum tempat ibunda kami dimakamkan. Namun begitu lokasi pemakaman ini cukup tenang walau tidak jauh dari pemukiman warga. 


Berburu oleh-oleh khas Kebumen

Sepulang dari makam, kami mampir ke pasar Tumenggungan untuk mencari oleh-oleh makanan khas Kebumen. Pasar Tumenggungan Kebumen yang berlokasi di Jalan Pemuda No.147, Kebumen ini adalah pasar yang telah mengalami revitalisasi di tahun 2013 lalu. Sejarahnya, pasar Tumenggungan ini berdiri sejak awal tahun 1900an di bekas Katumenggungan (rumah Tumenggung) Kolopaking. 
Pasar Tumenggungan Kebumen

Pasar yang terdiri dari 2 lantai ini, di bagian bawah terdapat kios-kios yang menjajakan berbagai kebutuhan sehari-hari atau dikenal dengan pasar basah. Sedang di bagian atas menjadi pasar kering yang menjajakan seperti baju, kosmetik dan lain-lain. 

Berhubung dari rumah di Gang Platuk juga ngga terlalu jauh, jadi kami berjalan kaki dan melewati Tugu Lawet yang menjadi icon kota Kebumen. FYI nih sobat Mlaqumlaqu, Kota Kebumen menawarkan perpaduan indah antara keindahan alam, tradisi lokal dan situs bersejarah yang menjadikannya destinasi lengkap di Jawa Tengah. Mulai dari wisata pantai, goa, air terjun dan geopark juga warisan budaya dan sejarah seperti Benteng Van Der Wijck dan seni tradisional Ketoprak.
Tugu Lawet Kebumen
Sayangnya waktu kami di Kebumen hanya sebentar, jadi tidak sempat untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Kebumen. Namun begitu berburu oleh-oleh kuliner khas Kebumen menjadi salah satu agenda kami ketika berkunjung ke Kebumen. 


Di pasar Tumenggungan ini kami membeli oleh-oleh seperti lanting, golak (terbuat dari singkong yang dihaluskan dan dicampur tepung kanji), kecap Kencana, jenang dan kerupuk. Oiya, di depan pasar Tumenggungan ini juga terdapat kios-kios yang menjajakan aneka makanan dan hanya buka mulai sore hingga malam. 



Kami menyempatkan juga menikmati makan malam di pusat kuliner di depan pasar Tumenggungan ini. Ada beragam kuliner yang tersedia, mulai dari makanan berat seperti mie, bakso hingga makanan ringan seperti pisang goreng dan juga aneka minuman. 
Tugu Lawet di malam hari

Harga yang terjangkau dan tempat yang cukup nyaman, membuat lokasi kuliner di pasar Tumenggungan ini menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk menikmati keindahan malam di kota Kebumen. Next kalau kembali lagi ke Kebumen sepertinya saya harus mengunjungi tempat-tempat wisatanya. 




Mendadak Kebumen: Ya Amplop Ketinggalan Kereta di Stasiun Purwokerto

 Halo sobat Mlaqumlaqu. Jelang bulan Ramadan, biasanya jadi momen untuk nyekar atau berziarah ke makam orang tua, keluarga dan juga leluhur yang terlebih dahulu berpulang. Walau bukan suatu kewajiban, momen nyekar ini seringkali menjadi suatu kegiatan yang rutin dilakukan menjelang bulan suci Ramadan bagi umat Islam. Begitu juga dengan saya, momen nyekar ini menjadi momen pulang yang sarat makna. 

Dua minggu menjelang bulan Ramadan, saya dan kakak perempuan saya melakukan perjalanan ke Kebumen untuk berziarah ke makam ibunda dan keluarga dari pihak ibu. Walau tidak bisa rutin tiap tahun pulang untuk sekedar menjenguk makam ibu, tapi tali silahturahmi dengan keluarga pihak ibu tetap terjaga. 

Stasiun Purwokerto

Berburu tiket kereta

Satu bulan sebelum berencana untuk nyekar/ziarah ke Kebumen, saya sudah mencari tiket kereta. Berhubung jenis kereta yang saya pilih adalah jenis kereta ekonomi yang harganya cukup murah meriah, tentu peminatnya juga banyak. Melalui aplikasi KAIAccess saya mulai mencari tiket kereta menuju stasiun Kebumen. 
Tiket pemesanan kereta

Setelah masuk dan log ini ke aplikasi tersebut, saya memilih fitur kereta jarak jauh. Setelah memasukkan stasiun keberangkatan dan tujuan, tanggal keberangkatan dan kepulangan, serta jumlah tiket yang akan dipesan, tidak lama keluar daftar jenis kereta dan harganya. Saya pilih di tanggal 2 Februari 2026 untuk keberangkatan dengan kereta ekonomi Bengawan relasi stasiun Bekasi-stasiun Kebumen, seharga Rp74.000,-/orang. Jadwal yang tersedia yaitu di jam 9.22 WIB dan tiba di stasiun Kebumen pukul 15.39 WIB. Setelah membayar, kode booking pun muncul di akun aplikasi KAI Access. 
Tiket kepulangan

Saya beruntung tanggal keberangkatan dan kepulangan yang saya pilih masih tersedia. Tapi kalau kita tidak memesan jauh hari sebelum keberangkatan, tidak mustahil kursi sudah habis semua terjual. Kereta Bengawan, relasi stasiun Pasar Senen - stasiun Lempuyangan, Jogjakarta ini jenis ekonomi bersubsidi yang memang cukup terjangkau. Makanya tidak heran kalau cepat banget habis tiketnya. 

Memesan di KAIAccess tuh memudahkan saya banget. Selain beli tiket kereta jarak jauh, kita juga bisa memesan makanan dan minuman untuk di kereta selama perjalanan. Jadi begitu sudah waktunya pergi dan kita sudah di dalam kereta, tidak perlu repot membawa makanan. Apalagi buat mereka yang ngga mau repot nenteng-nenteng makanan. 

Pengalaman ketinggalan kereta di stasiun Purwokerto

Tepat hari Senin (2/03) pukul 8.30 saya berangkat dari stasiun Kranji menuju stasiun Bekasi menggunakan KRL. Setiba di stasiun Bekasi saya mentap out kartu kereta dan menuju pintu keberangkatan kereta jarak jauh dan menunggu kakak saya tiba. Beberapa saat kemudian, kakak saya datang dan kami langsung menuju pintu masuk yang sebelumnya menyiapkan barcode untuk ditunjukkan ke petugas beserta KTP di pintu masuk. Oiya, untuk boarding menggunakan aplikasi KAIAccess dibuka maksimal 2 jam sebelum keberangkatan kereta, di atas itu harus mencetak tiket kereta. 
Bersama kakak mendadak Kebumen. 

Setelah masuk, kami menuju kursi dan menunggu kereta Bengawan tiba di ruang tunggu. Ruang tunggu di stasiun Bekasi cukup luas, terdapat kursi-kursi untuk calon penumpang kereta, juga terdapat fasilitas toilet, mushola, ruang bermain anak juga dispenser air minum gratis. Selang beberapa menit kemudian, petugas mengumumkan bahwa kereta Bengawan sudah tiba di peron 3,lalu kami pun turun menggunakan eskalator. 
Di stasiun Cirebon mengisi air. 


Kereta Bengawan ini termasuk kereta ekonomi bersubsidi, makanya harganya cukup murah. Walau jenis kursinya tegak, tapi ruangan berAC dan ada fasilitas toilet dan colokan untuk mengisi daya gawai kita di tiap deret kursi. Jenis kursinya ada yang 2-2 berhadapan atau 3-3. Di bawah colokan disediakan kantong plastik untuk membuang sampah yang rutin diambil oleh petugas kebersihan. 

Tepat pukul 9.22 WIB kereta berangkat, diperkirakan tiba di stasiun Kebumen pukul 15.39 WIB. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan pepohonan hijau juga persawahan. Sekitar pukul 12 tiba di stasiun Cirebon dan berhenti sekitar 5 menit untuk pengisian air. Kemudian berjalan lagi menuju stasiun berikutnya. 
Di stasiun Cirebon Prujakan


Oiya sobat Mlaqumlaqu, ketika kereta berhenti sejenak menurunkan dan menaikkan penumpang serta mengisi persediaan air di stasiun Cirebon, saya keluar dari kereta untuk melemaskan tubuh. Ngga terlalu jauh sih, karena kereta juga berhentinya ngga lama. Taaapiii.. ketika kereta berhenti di stasiun Purwokerto untuk melakukan hal yang sama, kok saya kepikiran untuk keluar agak jauh untuk membeli minuman. Padahal kan bisa aja ya beli di restorasi kereta. 

Emang dasar ya, kalau lagi apes ya apes aja. Lagian hari sial ngga ada jadwalnya di kalender. Ketika saya memutuskan untuk turun dan beranjak ke luar ke Indomaret, saya pikir waktunya cukuplah untuk membeli minuman dan kembali ke kereta. Apalagi petugas bilang kereta akan berhenti sekitar 25 menit. Entah bagaimana, minuman yang saya beli membutuhkan waktu yang agak lama dan ketika saya keluar untuk melihat situasi ternyata kereta Bengawan yang saya tumpangi sudah jalan. Ya amplop saya ketinggalan kereta! 


Saya bergegas bertanya pada petugas apakah kereta yang baru saja berangkat itu adalah kereta Bengawan. Ternyata benar, waduh saya ketinggalan kereta. Saya pun mengabari kakak saya yang ada di kereta Bengawan bahwa saya baik-baik saja dan akan segera menyusul dengan kereta selanjutnya. 

Petugas mengatakan bahwa kalau mau menyusul kereta lain, masih ada jadwalnya yaitu di jam 15.15 dan 16.30 WIB. Keduanya kereta dengan jurusan Jogjakarta dan Surakarta. Tapi saya masih mau cari alternatif mengejar dengan menggunakan travel atau bus. Sayangnya travel terdekat mengatakan tidak ada jadwal yang melewati Kebumen, sedang bus antar kota adanya malam dan jarak dari stasiun Purwokerto ke terminal cukup jauh. 
Di stasiun Purwokerto


Akhirnya saya putuskan untuk kembali ke stasiun Purwokerto dan memesan kereta ke stasiun Kebumen dengan jadwal pukul 15.15 WIB jurusan Surakarta. Jarak 3 stasiun dari stasiun Purwokerto menuju stasiun Kebumen dengan harga tiket eksekutif Rp140.000,- dua kali lipat harga kereta Bengawan. What a coinsident! 

Beruntungnya saya masih mendapatkan tiket kereta di jam 15.15 WIB untuk segera menyusul ke stasiun Kebumen. Kereta Bengawan yang dinaiki kakak saya tiba terlebih dulu di stasiun Kebumen pukul 15.30 WIB dan kereta yang saya naiki tiba di stasiun Kebumen pukul 16.10 WIB. Oiya, beruntungnya lagi, saya membawa HP ketika turun untuk membeli minuman, jadi saya masih bisa mengabari kakak saya dan membayar tiket kereta susulan dengan M-banking yang ada di HP. Duh ngga kebayang kalau saya hanya membawa uang cash sebesar harga minuman saja tanpa membawa HP. 


Kamipun ke luar stasiun Kebumen untuk menuju rumah sepupu di Gg. Platuk, Jalan Pemuda, Kebumen. Walau sudah ada ojek dan mobil online, tapi kami menaiki becak motor yang sedang mangkal di stasiun. Dengan tarif Rp20.000 bapak becak mengantarkan kami sampai depan rumah. Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Kebumen walau dengan sedikit drama, hahaha. 

Cerita selama di Kebumen bersambung di artikel selanjutnya. Terima kasih.