Santai di Pantai Tanpa Bad Mood, Sefruit Tips Mantai Ala Mlaqumlaqu!

Hai yo, apa kabar sobat Mlaqumlaqu! Wah, udah lama banget nih kayanya pengen mantai. Ngebayangin angin sepoi-sepoi, suara ombak berdeburan di pantai yang bikin adem, minum es kelapa muda langsung dari batoknya, plus bonus sunset yang cakep banget buat feeds sosmed. 

Tapi sering kali agenda liburan berubah jadi drama menjengkelkan, karena ada beberapa hal krusial yang lolos diperhatiin. Jangan sampai niatnya mau healing, malah pulang-pulang jadi pening.

Nah, sebagai pantai lover, pecinta pantai, saya mau memberikan sefruit tips ala Mlaqumlaqu biar acara mantai kamu no drama-drama. Ini dia panduan lengkap, detail, dan anti-ribet tentang apa aja yang harus sobat siapin, yang boleh dilakukan, dan yang HARUS kamu hindari pas main ke pantai. Check it out!

Wajib Diperhatikan Sebelum & Selama di Pantai

Rencana main ke pantai emang bikin excited. Tapi sebelum kaki kamu nyentuh pasir, pastikan tiga hal ini udah masuk dalam radar kalian, ya. 

  • Prakiraan Cuaca dan Pasang Surut Air. Jangan malas cek BMKG atau aplikasi cuaca. Pantai itu indah, tapi cuaca ekstrem bisa bikin ombak jadi ganas seketika.
  • Kondisi Fisik dan Ombak. Gak semua pantai aman buat berenang. Perhatikan warna bendera di sepanjang pantai. Kalau ada bendera merah, itu artinya strictly NO buat berenang! Jangan coba-ciba melanggar, ya, sob. No no no! 
  • Perlindungan dari Sinar UV. Matahari pantai itu beda level panasnya. Walau kalo dibandingkan sama Bekasi yang mataharinya ada dua sih yah sebelas duabelas sih panasnya, oops! Becanda, sob 🙏Pastikan bawa senjata wajib: sunscreen (minimal SPF 50 dan reef-safe ya), kacamata hitam, dan topi.

Yang Boleh (dan Sangat Disarankan) Kamu Lakukan

Liburan udah di depan mata. Semua rencana all planned and set. Biar liburan kamu makin maksimal dan tetap jadi wisatawan yang cerdas, coba lakuin hal-hal seru ini deh. 

  • Pakai Pakaian yang Tepat & Nyaman. Pilih baju berbahan katun atau linen yang menyerap keringat dan cepat kering. Jangan lupa bawa baju ganti, plus kantong plastik buat baju basahmu.
  • Eksplorasi Lokal. Cobain kelapa muda langsung dari batoknya atau kuliner seafood khas warung warga lokal. Selain enak, kamu juga ikut muter roda ekonomi mereka.
  • Bawa Botol Minum (Tumbler) Sendiri. Udara pantai bikin cepet dehidrasi. Daripada bolak-balik beli air mineral kemasan plastik, mending bawa tumbler sendiri dari rumah. Lebih hemat, lebih ramah lingkungan.
  • Abadikan Momen Secukupnya. Foto-foto itu wajib! Tapi ingat, nikmati juga pemandangan aslinya pakai mata kepala sendiri, bukan cuma lewat layar HP.

Yang TIDAK BOLEH Dilakukan (Jangan Bandel!)

Menikmati liburan di pantai atau di manapun, sebaiknya kita harus menjaga sikap. Bagaimanapun kita adalah tamu di tempat yang kita kunjungi. Tinggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita lakukan di rumah ya, sob. Jangan pernah samakan situasi kita ketika berlibur dan ketika di rumah. Jadilah traveler yang bertanggung jawab. 

  • Membuang Sampah Sembarangan. Wah kalo ini sih red flag nomor satu! Puntung rokok, bungkus camilan, botol plastik... plis banget kantongin dulu sampai ketemu tempat sampah. Laut bukan tempat sampah raksasa. Tapi saya yakin sih sobat Mlaqumlaqu tuh pecinta kebersihan dan keindahan, pasti akan selalu menjaga di manapun berada. 
  • Meremehkan "Rip Current" (Arus Pecah). Ini arus kuat yang mengalir dari pantai ke tengah laut. Keliatannya tenang padahal mematikan. Kalau terseret, jangan panik dan jangan lawan arusnya, tapi berenanglah sejajar dengan garis pantai sampai lepas dari arus tersebut.
  • Mengusik Biota Laut. Ketemu bintang laut atau kerang lucu yang masih hidup? Gemes mo bawa pulang buat koleksi di aquarium? Cukup dilihat dan difoto aja, ya, sob. Jangan dibawa pulang, jangan diangkat keluar dari air kelamaan, dan jangan pula diinjek-injek. Duuh no no no! Mereka cukup kita tinggalkan di lingkungan mereka aja, ngga perlu kita bawa pulang. 
  • Memakai Perhiasan Berlebih. Berenang pakai kalung emas atau cincin longgar itu cari penyakit. Sekali lepas kena ombak, auto hilang ditelan bumi, sob. Lagian kita mau berlibur, santai di pantai, bukan mau fashion show atau kondangan, kan? So better, perhiasan kita tinggalkan aja di rumah, beri kebebasan tubuh kita bersentuhan dengan laut tanpa ada jarak benda lain selain pakaian. 
  • Mengabaikan Aturan Lokal/Adat. Ingat donk dengan pepatah "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Nah sobat Mlaqumlaqu, beberapa pantai (terutama di Bali atau daerah komunal) punya area sakral atau aturan berpakaian tertentu. Hormati itu. 

Pantai yang indah itu bonus, tapi keselamatan dan kelestarian alam itu mutlak. Nikmati keindahan dan suasana pantai tanpa mengusik yang sudah ada. Cukup pulang bawa oleh-oleh souvenir yang dijual warga lokal, cerita indah, foto yang estetik. Jangan ninggalin apa-apa selain jejak kaki!

So, kamu sendiri rencana mau mantai ke mana nih liburan kali ini? Ke pantai tipe tebing berbatu atau pantai pasir putih yang landai? Jangan lupa share cerita dan fotonya, ya. 


Jane's Walk: Bukan Sekadar Melangkah, Ada Cerita Dibaliknya

 Hai sobat Mlaqumlaqu. Bulan Mei ini banyak banget ya libur long weekend nya. Udah ke mana aja nih selama libur long weekend? 

Setelah ikut walking tour yang diadakan Unit Pengelolaan Kawasan Kota Tua, Jakarta, kali ini saya kembali ikut walking tour dengan penyelenggara yang berbeda. 

Jane's Walk, Langkah Perubahan

Jane's Walk. Ada yang pernah dengar? Jane's Walk adalah sebuah acara berjalan kaki komunitas yang diadakan di berbagai kota di seluruh dunia, yang terinspirasi oleh pemikiran Jane Jacobs, seorang aktivis urban dan penulis yang dikenal dengan pandangannya yang mendalam tentang kota dan kehidupan perkotaan.

Dalam pandangannya, Jane Jacobs berpendapat bahwa kota yang sehat dan berkelanjutan perlu memperhatikan interaksi antar penghuni kota, memperkuat kehidupan sosial, serta mengedepankan ruang publik yang ramah bagi semua kalangan.

Nah acara Jane's Walk ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang potensi kota, serta mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Oiya, sobat Mlaqumlaqu, Jane's Walk ini merupakan acara tahunan di bulan Mei di seluruh dunia dan di Jakarta baru berlangsung 2 kali, yaitu tahun lalu 2025 berlokasi di Blok M dan tahun ini 2026. 

Kali pertama saya mengikuti Jane's Walk. Saya mendapatkan informasi tentang acara ini dari sosial media instagram @pusatstudiinfrastruktur sebagai penyelenggaraan acaranya. Saya mendaftar dan beberapa hari sebelum acara, peserta dikumpulkan dalam grup Whatsapp untuk koordinasi. 

Kampung Kwitang dan Sejarah Dibaliknya

Pada hari Sabtu, 23 Mei 2026, tepat pukul 7.30 kami tiba di titik kumpul yaitu di GKI Kwitang. Kebetulan hari itu saya janjian dengan Zarna di stasiun Matraman untuk bareng ke lokasi Jane's Walk ini. Dari stasiun Matraman, kami lanjut dengan menggunakan bus Transjakarta 5C rute Kampung Melayu - Juanda dan berhenti di halte Kwitang. Posisi GKI Kwitang persis berada di seberang halte Kwitang. 

Di lokasi titik kumpul sudah ada Pak Taufik yang kami kenal, panitia dan beberapa peserta. Kak Malindo, kak Isti dan kak Ikhsan dari panitia menyambut kami dengan ramah. Sambil menunggu peserta lain yang masih dalam perjalanan, kami disuguhi kudapan sebagai pengganjal perut sebelum jalan nanti.
Jadwal kami hari itu adalah menyusuri Kampung Kwitang, mulai dari destinasi pertama di GKI Kwitang sebagai titik kumpul, lalu menuju sentra buku bekas Kwitang, spot kuliner Kwitang toko es krim Baltic dan toko roti Maison Weineer, serta terakhir wisata religi dan sejarah Masjid Jami' Al Riyadh dan Makam Habib Ali. 

GKI Kwitang dan Gerimis Mengundang

Cuaca mendung dan sedikit gerimis tidak mengurangi niat kami untuk mengikuti acara Jane's Walk ini. Dari 20 peserta yang terdiri dari lintas generasi dan profesi, ada peserta yang juga membawa putrinya yang berusia balita. 

GKI Kwitang yang berlokasi di Jakarta Pusat, merupakan salah satu gereja tertua di Kota Jakarta. Pertama kali dibangun tidak permanen di tahun 1876. Sejak 17 Juli 1877, gereja ini menerima pelayanan jemaat berbahasa Belanda dan Melayu.


Pada tahun 1886 atas gagasan Pendeta D. Huvsing dirombak menjadi bangunan permanen dengan gaya Indische Empire Style pada awalnya dan mengalami perubahan pada fasadnya menjadi gaya Art Nouveau dan Art Deco. 

Seiring waktu akhirnya bertransformasi dengan Gereja Kristen Indonesia (GKI) pada tahun 1958, dan kini tetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Nasional. 


Kenangan Toko Buku Bekas Kwitang

Dari GKI Kwitang, kami menyusuri jalan raya Kramat Kwitang, melewati gedung BPK Gunung Mulia, bangunan toko buku sekaligus penerbit buku-buku Kristen. Di sebelahnya ada gedung Sinpo TV, yang seingat saya dulunya adalah gedung toko buku Mas Agung, toko buku Islami. 

Kawasan Kwitang ini dulunya banyak terdapat penjual buku bekas. Bahkan sampai di emperan toko para pedagang menjajakan bukunya. Saya ingat sewaktu kuliah dulu selalu ke kawasan buku bekas Kwitang ini mencari buku-buku bahan kuliah. 

Dibanding di toko buku besar, saya memilih membeli buku di sini. Walau bekas, tapi harganya jauh di bawah buku yang baru, yang penting asli. Terkadang saya juga membeli di toko buku bekas di dekat terminal Pasar Senen. Di toko buku bekas Kwitang ini bahkan juga dipakai sebagai tempat syuting film AADC yang sempat hits itu. Salah satu adegan antara Cinta dan Rangga diambil di area toko buku bekas ini. 

Sayangnya, pandemi tahun 2020 lalu membuat keberadaan toko buku bekas di kawasan Kwitang ini terkena imbasnya. Banyak yang gulung tikar dan terpaksa menutup tokonya, sebagian bertahan di tengah perekonomian sekarang ini. 

Dari sentra toko buku bekas ini, kami lanjutkan perjalanan menuju toko es krim Baltic dan toko roti Maison Weiner. Sayangnya setiba di depan toko es krim Baltic, ternyata tutup. Bertepatan juga gerimis membasahi jalanan dan menemani langkah kami. 

Toko Roti Legendaris Maison Weiner

Lanjut menuju toko roti Maison Weiner, tepat tiba di depan toko, hujan makin deras. Kami segera memasuki toko dan sambil mendengarkan informasi tentang toko roti ini, kami juga membeli beberapa potong roti dan kue yang ada. 

Toko roti Maison Weiner yang beralamat di Jalan Kramat 2 No. 2, Kwitang, sekarang ini dikelola oleh generasi ketiganya atau cucu dari pemilik Maison Weiner. Toko yang sudah ada sejak tahun 1936 ini, tepat di 2026 menginjak usia ke 90. Wah sungguh menakjubkan usia toko roti hingga sampai hampir seabad. 

Ada beragam jenis roti dan kue di sini. Yang menjadi khasnya adalah Ontbijtkoek, Hoeren, dan Saucijsbrood. Selain itu juga ada beragam jenis croissant, sourdough dan juga aneka kue tradisional. 


Saya putuskan untuk mencoba mencicipi Saucijsbrood dan Ontbitjtkoek. Ontbijtkoek ini penampakannya seperti roti gambang, tapi lebih ke jenis bolu yang lembut sedang gambang lebih keras. Rasanya enak manisnya pas, ada rasa kayu manis, cocok untuk teman minum teh atau kopi. 


Tidak heran kalau toko roti Maison Weiner ini sering dikunjungi untuk sarapan. Apalagi toko ini memberikan diskon khusus 30%  di hari Sabtu untuk semua roti yang ready stock serta diskon setiap hari mulai pukul 16.00-18.00 atau tutup toko. Mereka sendiri beroperasi setiap hari mulai pukul 07.00 pagi. 

Jam menunjukkan hampir pukul 9.30 sedang hujan belum juga berhenti. Kami terpaksa tetap di dalam toko untuk berteduh sambil menikmati roti yang kami beli. Untungnya tak lama kemudian hujan mulai reda, sisa gerimis aja, tak apalah. Karena ngga enak juga lama-lama sementara pengunjung lain juga ada di dalam toko. 

Masjid Jami' Al Riyadh dan Makam Habib Ali

Di tengah gerimis, kami lanjutkan ke destinasi terakhir yaitu Masjid Jami' Al Riyadh dan makam Habib Ali. Beralamat di Jalan Kembang IV No.4, Kwitang, mesjid yang didirikan oleh Habib Ali Al Habsyi bin Habib Abdurrahman Al Habsyi sekitar tahun 1938 termasuk mesjid bersejarah.

Arsitektur bentuk Masjid Al-Riyadh memiliki bentuk yang cukup megah. Tidah hanya untuk beribadah saja, banyak umat Islam juga melakukan kunjungan untuk berziarah ke makam Habib Ali Bin Abdurachman Bin Abdullah Al Habsyi.


Berawal hanya berupa surau dengan desain rumah panggung, kini Masjid Jami' Al Riyadh menjadi bangunan masjid dua lantai. Masjid ini selalu ramai dikunjungi jamaah dan juga pengunjung yang hendak berziarah ke makam. 

Menariknya, bagi pengunjung yang hendak berziarah, terdapat ruangan khusus untuk laki-laki dan perempuan yang terpisah. Tidak diperbolehkan bersama dalam satu ruangan untuk menjaga wudhu. 

Destinasi di Masjid Jami' Al Riyadh ini menjadi kunjungan terakhir dari agenda Jane's Walk. Dari perjalanan ini kami mendapatkan banyak insight tentang bangunan bersejarah dan cerita di baliknya. 

Kembali ke GKI Kwitang, kami berpisah dan mengakhiri acara. Di tengah hiruk-pikuknya jalanan, melipir sejenak, menikmati jalanan dapat lebih memahami cerita dibalik gedung dan jalanan dibandingkan melihat dari dalam kendaraan. 

Jadi, sudah mendapatkan apa aja sobat Mlaqumlaqu dari perjalanan hari ini? 




Walking Tour Jelajah Sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa

 Halo sobat Mlaqumlaqu. Lama ngga main ke Kota Tua, Jakarta Barat, ternyata udah banyak banget ya perubahannya. Sejak area Kota Tua direvitalisasi, pedagang ditertibkan, kendaraan bermotor juga ngga bisa sembarangan lagi lewat di area tersebut. 

Selain terdapat stasiun Jakarta Kota, juga halte bus Transjakarta, area Kota Tua juga banyak terdapat museum. Bagaimana pun area Kota Tua ini termasuk dalam cagar budaya karena banyaknya gedung-gedung bersejarah peninggalan jaman Belanda. 


Baca juga: Rekomendasi Museum yang Bikin Anak Betah

Menyusuri Jalan dan Hidden Gem Gudang Bersejarah

Walking tour kali ini, saya memilih untuk ikut program yang diadakan oleh Unit Pengelolaan Kawasan Kota Tua yang bekerja sama dengan Disparekraf DKI dan Jakarta Tourism. Informasi program free guided walking tour ini saya peroleh dari akun instagram @kotatua.jkt Di sana terdapat jadwal free guided walking tour baik destinasi dan juga waktunya, serta mengisi formulir yang tertera. 

Saya sengaja memilih destinasi dengan tema Historical Port of Sunda Kelapa, karena memang saya belum pernah menyambangi lokasi tersebut. Jadi setelah mengisi formulir, kita tinggal datang saja ke lokasi titik kumpulnya, yaitu di Kota Tua Information Center. 

Hari Rabu, 20 Mei 2026 pukul 14.00 saya bergegas menaiki kereta commuter line jurusan stasiun Jakarta Kota. Berhubung saya sudah janji untuk bareng dengan Zarna, teman sesama penulis Kompasiana, saya menunggu di stasiun Manggarai. Saya yang dari arah Bekasi dan Zarna dari arah Serpong tentu harus transit di stasiun Manggarai untuk lanjut menuju stasiun Jakarta Kota. 

Dari stasiun Manggarai ke stasiun Jakarta Kota memakan waktu kurang lebih 30 menit. Tiba di stasiun Jakarta Kota kami segera keluar dengan menuju Kota Tua Information Center (KOTIC). Hari itu cuaca cukup cerah, ngga terlalu panas juga, mungkin karena tadi pagi sempat hujan di beberapa kawasan. 


Tiba di depan bangunan KOTIC, saya masuk dan bertanya tentang program walking tour ini. Petugasnya menjelaskan bahwa benar untuk titik kumpul walking ada di depan bangunan ini. Karena belum terlihat peserta lain, kami duduk tidak jauh dari bangunan KOTIC. 

Disambut ramah oleh kak Lili yang memperkenalkan diri sebagai guide atau pemandu wisata resmi kawasan Kota Tua. Peserta yang hadir sore itu ternyata tidak banyak, hanya kami berenam dari total kuota peserta sebanyak 30 orang. Tapi ngga papa, malah jadi kayak private walking tour, hehehe. 


Dari titik kumpul di depan bangunan KOTIC, kamipun mulai melangkahkan kaki menuju lokasi Pelabuhan Sunda Kelapa. Jalanan yang kami lalui pertama kali yaitu Jalan Cengkeh. 
FYI nih sobat Mlaqumlaqu, dulunya di jaman pemerintahan Belanda, kawasan di sekitar Jalan Cengkeh ini adalah rumah-rumah elit yang dihuni pejabat pemerintahan. 


Namun di masa pemerintahan Gubernur Daendels kawasan tersebut diubah menjadi kawasan perdagangan rempah-rempah. Itulah sebabnya kenapa nama jalan di kawasan tersebut identik dengan nama rempah-rempah seperti Jalan Cengkeh, Jalan Kunir, Jalan Lada, dan sebagainya. 


Di ujung jalan Cengkeh, di perbatasan antara wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara, tepat di bawah jembatan jalan raya, dulunya terdapat gerbang peninggalan jaman Belanda. Gerbang Prinsenstraat itu sayangnya tidak ada bekas bangunannya karena dihancurkan pada masa pemerintahan Daendels. 


Dari perbatasan tersebut, kami lanjut lagi berjalan menuju arah kampung Tongkol. Berhubung habis hujan, jadi jalanannya agak becek dan banyak truk-truk dan mobil besar yang lewat di kawasan tersebut. Menuju kampung Tongkol, kami berhenti sejenak di satu tempat hidden gem, bangunan bekas gudang penyimpanan sembako di jaman Belanda, yaitu Gudang Timur VOC (Oostziidsche Paakhuizen). 

Hidden Gem Gudang Timur VOC

Bangunan yang diperkirakan sebagai gudang penyimpanan itu kini masuk dalam cagar budaya, namun masih dalam tahap penelitian lebih lanjut. Dari luar tampak terdapat bangkai mobil tua yang ditumpuk, entah sebelumnya bekas digunakan untuk apa. 


Batu bata merah yang terlihat di sekeliling bangunan tersebut menandakan bahwa bangunan ini asli dari jaman Belanda. Belum lagi terdapat pohon Beringin India yang akarnya menjulur memeluk bangunan tersebut. 



Gudang Timur VOC adalah bangunan kolonial yang bersisian dengan reruntuhan tembok kota lama di tepi timur Batavia merupakan salah satu gudang tua kawasan tersebut. Sebelumnya terdapat total 4 buah gudang tua, namun 2 gudang tergusur karena pembangunan jalan tol dan flyover, serta 1 lagi rubuh karena termakan usia. 



Gudang yang bertuliskan Major Massie pada fasad dinding depannya itu bernama Granpaakhuizen yang berarti gudang biji-bijian dan berfungsi sejak abad 17 (1652). Gudang ini sebagai tempat penyimpanan logistik pangan dan komoditas seperti beras, jagung, biskuit, rempah-rempah, kacang-kacangan, kopi, dan teh. Setelah itu tempat ini juga sempat menjadi penyimpanan keramik dan porselen. Kondisi gudang ini baik bangunan dan temboknya mulai pudar dan tergerus. 



Sementara itu bersebelahan dengan gudang ini terdapat pemukiman penduduk yang disebut Kampung Tongkol. Dulu kala, jarak antara pemukiman dan kali/sungai Ciliwung ini berdekatan, namun atas inisiatif masyarakat setempat memundurkan rumahnya untuk dibuat jalan. Bantaran kalipun dibuat dan dijaga kebersihannya. 

Senja di Marina Batavia Pelabuhan Sunda Kelapa

Perjalanan sejauh 2 kilometer menuju Pelabuhan Sunda Kelapa tidak terlalu terasa. Sepanjang perjalanan kami menikmati cerita jejak sejarah jaman pemerintahan Belanda yang sayangnya beberapa bangunan sudah tidak ada lagi. 



Dari Kampung Tongkol, kami bergerak lagi menyusuri bantaran kali dan bertemu dengan jalan raya Lodan Ancol menuju pelabuhan. Kami masuk dari pintu pos 1 Pelabuhan Sunda Kelapa, tampak di sisi kiri berderet kontainer-kontainer. Di sisi lain terlihat kapal-kapal bersandar. 



Destinasi terakhir kami berhenti di Batavia Marina Restoran yang berada di dalam area pelabuhan. Bangunan restoran bertaraf internasional ini berarsitektur kolonial Belanda yang menyajikan pemandangan laut lepas Teluk Jakarta. 


Selain menyajikan hidangan bertaraf internasional, restoran Batavia Marina juga menyediakan fasilitas tambat kapal pesiar dengan standar internasional yang lengkap. Terdapat dermaga terapung, pasokan air dan listrik, fasilitas kamar mandi dan toilet serta keamanan 24 jam. 



Pemilik restoran ini sepertinya juga seorang kolektor benda seni. Terlihat dari lukisan dan barang-barang yang ada yang menghiasi ruangan dan dinding di bangunan ini. Untuk jam operasional restoran Batavia Marina ini yaitu dari pukul 10.00-22.00 WIB. 

Nah sobat Mlaqumlaqu, tidak terasa 2 jam melangkah bersama. Sayangnya walking tour ini sudah harus berakhir. Terima kasih untuk Unit Pengelolaan Kawasan Kota Tua untuk program ini. Next coba ikut destinasi mana lagi, ya?