Halo sobat Mlaqumlaqu. Siapa yang tidak tahu dengan keanekaragaman wastra/kain di negara kita. Negara Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika ini juga menyimpan banyak koleksi wastra/kain dari berbagai daerah yang bernilai ekonomis. Wastra/kain Nusantara menjadi salah satu jejak kebudayaan yang bernilai sejarah.
Walau kini mulai jarang yang mengenakan kain, tapi tidak sedikit dari masyarakat kita yang mengoleksi beragam kain Nusantara. Salah satunya adalah Dewi Motik Pramono, seorang model top tanah air di era 70an. Kecintaan beliau akan kain Nusantara terlihat dari koleksi kain beliau yang sampai puluhan lemari dan dipamerkan di Galeri Demono.
![]() |
| Galeri Demono |
Menurut penuturan Moza Pramita anak dari Dewi Motik Pramono ini bahwa kecintaan ibundanya akan kain Nusantara mulai terlihat sejak beliau menekuni dunia model. Seringnya memperagakan berbagai karya desainer ternama dengan kain Nusantara ditambah lagi jadwal shownya yang berkeliling Nusantara membuat beliau selalu menyempatkan diri untuk membeli kain-kain tersebut dari para perajin lokal.
Galeri Demono, Perjalanan Inspiratif Dewi Motik Pramono
Kesempatan berkunjung ke Galeri Demono saya Terima berkat undangan dari komunitas Moms Video Maker (MVM) tahun 2025 lalu. Kebetulan Galeri Demono sedang menyelenggarakan pameran wastra Nusantara dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke 80. Mengambil tema 80 Kain Indonesia, Dewi Motik ingin memperkenalkan kekayaan wastra Nusantara kepada para pengunjung. Selain itu juga diadakan workshop singkat Kelas Berkain yaitu cara mengenakan/styling kain agar terlihat modis dan chic.
Namun sebelum mengulas tentang workshop styling kain atau Kelas Berkain ini terlebih dulu saya ingin menceritakan tentang Galeri Demono ini. Berlokasi di pusat kota, tepatnya di Jalan Surabaya No.34-38, Menteng, Jakarta Pusat, Galeri Demono ini mudah dijangkau baik dengan kendaraan umum atau pribadi.
Ada yang tahu Pasar Antik Jalan Surabaya? Nah lokasi Galeri Demono ini persis di sebrang Pasar Antik Jalan Surabaya. Kalau dari stasiun Cikini berjarak kurang lebih 600 meter, dan saya tempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit. Apalagi waktu itu hari masih pagi, udara masih belum terlalu terkena polusi dan jalanan sepanjang menuju galeri juga cukup teduh karena banyaknya pepohonan.
Dari tampak luar, Galeri Demono tampak seperti rumah biasa. Awalnya memang Galeri Demono ini adalah rumah peninggalan Dewi Motik Pramono. Namun seiring berjalannya waktu, rumah tersebut kini menjadi galeri, ruang pamer perjalanan seorang Dewi Motik Pramono. Layaknya seorang seniman, penyair sekaligus juga entrepreneur, beliau sering kali mendokumentasikan tiap perjalanan karirnya. Mulai dari coretan di agenda mereka harian, foto hingga benda-benda yang dikoleksinya, termasuk wastra Nusantara.
Galeri Demono, walau tidak terlalu luas, tapi saya merasa nyaman di dalamnya. Ada 3 ruangan di Galeri Demono yang dijadikan ruang pamer. Ruang pertama yang saya temui yaitu ruang yang berisi perjalanan karir Dewi Motik. Ruangan yang bercat putih itu tampak ramai dengan koleksi foto-foto dokumentasi perjalanan karir beliau.
Di ruang kedua terdapat berbagai koleksi pribadi beliau seperti buku, lukisan dan juga kain Nusantara. Kecintaan beliau akan seni lukis terwujud dengan koleksi lukisan maestro pelukis Indonesia Basuki Abdullah, juga lukisan Jeihan, Antonio Blanco, Koempoel Sujatno, Maria Tjui serta I Nyoman Merta. Juga terdapat koleksi kain karya desainer kenamaan Iwan Tirta.
Sementara itu di ruang ketiga lebih ke koleksi yang menonjolkan sisi feminin seorang Dewi Motik serta mencerminkan pribadi beliau sebagai perempuan Indonesia. Perempuan yang selalu memberikan inspirasi dan motivasi bagi generasi muda saat ini.
Setelah puas berkeliling melihat ruang pameran, dan sambil menunggu peserta lain datang, kami disuguhi sarapan oleh tuan rumah, mbak Moza.
Kelas Berkain, Styling kain biar tampil modis
Dalam berkain, mbak Nana Listyana yang saat itu turut memberikan materi, menjelaskan tentang jenis kain batik yang ada. Ada kain batik yang ditulis, dicetak, dan diprint. Ketiga jenis ini akan terlihat perbedaannya ketika melihat langsung kainnya. Misalnya saja untuk kain batik yang diprint atau dicetak itu ada perbedaan di dua sisinya. Sedang kalau kain batik yang ditulis itu kedua sisinya sama.
Begitu juga dengan motif, corak, benang juga ada perbedaan di tiap-tiap daerah. Menarik sekali bila mengulik sejarah perkainan Indonesia ini karena begitu banyak ragamnya. Itulah sebabnya mengapa kain batik tulis atau tenun itu mahal harganya karena proses pembuatannya juga lama menggunakan manual dan dengan ketelitian yang tinggi.
Ditambahkan pula oleh mbak Moza tidak jarang kain yang diperoleh ibundanya itu berasal dari daerah pelosok. Namun begitu ibu Dewi Motik berusaha untuk membeli dari perajin lokal dan juga teman sesama seniman seperti kain buatan Iwan Tirta, salah satu seniman dan desainer Indonesia ternama. Kain Iwan Tirta tersebut dilukis dan dibuat sendiri oleh sang desainer dan masih terawat dengan baik.
Di Kelas Berkain tersebut kami diajarkan cara menggunakan kain baik untuk acara formal maupun informal secara sederhana namun cukup mudah, bahkan tanpa alat bantu. Jadi dengan selembar kain kita dapat menjadikan rok tanpa digunting atau dijahit. Para peserta terlihat excited sekali mendengarkan penjelasan dan mempraktekkan penggunaan kain tersebut.
Kalau selama ini kain hanya dipakai untuk selendang menggendong bayi, ternyata dapat juga terlihat fashionable dan modis. Penggunaan kain ini juga bisa dipadupadankan dengan kebaya atau busana lainnya baik untuk acara formal maupun casual. Selesai mempraktekkan penggunaan kain, seluruh peserta memperagakan dan mendokumentasikannya layaknya model yang berjalan di catwalk.
Senangnya bisa mendapatkan ilmu tentang perkainan Indonesia juga tips dan trik menggunakan kain agar terlihat fashionable dan modis untuk berbagai acara. Selesai acara kami masih disuguhi makan siang dengan menu bakso dan siomay serta es teh sereh yang menyegarkan. Belum lagi pulangnya dapat oleh-oleh produk Wardah dan Teh Botol.
So sobat Mlaqumlaqu, kapan terakhir kali menggunakan kain sebagai bagian dari fashion/busana kalian?







Tidak ada komentar
Posting Komentar
Hai..Terima kasih sudah mampir di blog saya. Tolong tinggalkan komen dengan bahasa yang santun, No Sara, No Politik.