Tips Solo Travelling di Usia Cantik 50+

 Halo sobat Mlaqumlaqu. Seringnya saya jalan-jalan sendirian, banyak yang bertanya kepada saya, "Mbak, kok berani sih jalan-jalan sendiri? Sudah kepala lima, pakai hijab pula, apa nggak takut?" Jujur saja, memasuki usia 50-an bukan berarti kita harus duduk manis di rumah menunggu cucu-- buat yang udah punya cucu atau sekadar kumpul-kumpul, arisan atau pengajian. 

Usia 50+ memang usia rawan, bila dilihat dari kondisi fisik yang sudah tidak sekuat dan segesit dulu. Tapi apabila sedari muda sudah menjaga badan dengan pola makan dan pola hidup sehat, istirahat yang cukup, rutin berolahraga serta menghindari stress, di "usia cantik" ini kita tidak akan kesulitan untuk melakukan perjalanan sendirian. 

Baca juga: Pengalaman river tubing di Sungai Cikondang, Purwakarta

Ketika mengunjungi Museum Nasional

Siapa Bilang Usia Cantik Ngga Bisa Berpetualang? 

Di usia cantik sekarang ini, saya dan teman-teman seumuran merasa justru sedang berada di puncak kemandirian. Anak-anak mungkin sudah besar, karier sudah stabil (atau sudah pensiun), dan yang terpenting: kita akhirnya punya waktu untuk diri sendiri. Karena inilah saat kita memberikan waktu untuk diri sendiri menikmati hidup. 

Sebagian orang yang berada di usia ini mungkin lebih nyaman dengan kegiatan di tempat, namun banyak juga yang masih aktif melakukan perjalanan bahkan solo travelling. Begitu juga dengan saya, yang pada dasarnya memang lebih suka bepergian sendirian sejak di bangku sekolah. Solo travelling buat saya adalah waktu saya merecharge diri, membiarkan diri sendiri memutuskan akan pergi kemana dan melakukan sesuatu dengan yang diinginkan. 

Solo travelling dengan kereta. 

Ada banyak perempuan di usia 50+ yang aktif melakukan solo travelling. Di negara kita sendiri, ada Trinity yang terkenal dengan buku The Naked Traveller-nya. Beliau memulai solo travelling sejak muda, bukan saja melakukan perjalanan di dalam negeri bahkan hingga ke berbagai negara di dunia hingga di usia menginjak 53 tahun ini. 

Di luar negeri ada Luisa Yu, perempuan keturunan Filipina, warga negara Amerika Serikat yang berusia 79 tahun. Beliau masih aktif bersolo-travelling bukan cuma di negaranya saja tapi bahkan hingga keliling dunia. Dari data yang terekam hingga tahun 2023, Luisa Yu telah melakukan solo travelling hingga 193 negara di dunia. Wow.. Amazing, kan? 

Kedua perempuan solo traveller ini hanya sekian dari banyak perempuan berusia cantik yang masih tetap aktif melakukan perjalanan. Jadi buat saya pribadi, usia 50+ bukanlah penghambat saya untuk melakukan perjalanan dan menikmati pengalaman di tempat-tempat lain. 

Baca juga: Wisata Bahari di Kepulauan Seribu

Tips Solo Travelling di Usia Cantik 50+

Sobat Mlaqumlaqu, solo travelling bagi perempuan usia 50+ bukan soal adu nyali, tapi soal merayakan kebebasan dan berdialog dengan diri sendiri. Saat ini menjadi me time saya sekaligus memberikan penghargaan pada diri sendiri. Nah, berdasarkan pengalaman saya wara-wiri sendirian, ini beberapa tips agar perjalanan aman, nyaman, dan tetap chic!

Menikmati sejuknya udara pedesaan

1. Pilih Destinasi yang "Ramah Lutut" dan Hati

Jujur, fisik kita mungkin tidak selincah saat usia 20-an. Masalah lutut kaki di usia cantik jangan sampai menjadi beban, oleh sebab itu harus memperhatikan kondisi tersebut. Pilih destinasi yang memiliki transportasi publik yang baik atau akses jalan yang rata.

Tips: Jika ke luar negeri, pilih kota seperti Kyoto atau Wina yang sangat tertata. Walau saya belum pernah ke luar negeri, dari beberapa artikel yang saya baca merekomendasikan kedua kota tersebut. Sedangkan jika di dalam negeri, Yogyakarta atau Malang bisa menjadi pilihan, karena selalu punya sudut tenang yang ramah untuk kita nikmati sambil berjalan santai.

2. Packing Ringkas, Tetap Syar'i & Stylish

Musuh utama solo traveller adalah tas yang terlalu berat. Kalau dulu di usia 20-30an saya setia dengan backpack atau ransel, namun di usia 50+ sekarang ini saya memilih koper sebagai teman perjalanan. Sebagai perempuan berhijab, kunci agar tidak terlalu banyak membawa barang adalah Mix & Match.

  • Bahan: Pilih kerudung bahan voal yang tidak perlu disetrika dan cepat kering. Untuk pakaian pilih bahan katun yang nyaman dan menyerap keringat. 
  • Warna: Gunakan palet warna netral agar satu atasan bisa masuk ke berbagai bawahan.
  • Sepatu: Ini investasi paling penting! Pakai walking shoes atau sneakers dengan bantalan empuk. Lupakan wedges apalagi high heels demi foto estetik jika itu harus mengorbankan kenyamanan kaki.

Gunakan outfit yang nyaman

3. Keamanan dan Kesehatan adalah Prioritas Utama

Berhijab seringkali membuat kita mudah dikenali sebagai muslimah. Gunakan ini sebagai identitas yang positif, namun tetap waspada.

  • Simpan Dokumen: Scan paspor, KTP, dan tiket, simpan di Google Drive.
  • Kabar Berkala: Selalu bagikan live location melalui WhatsApp kepada suami, anak, keluarga atau sahabat terdekat.
  • Uang: Jangan simpan uang di satu tempat. Pisahkan di dompet utama, tas kecil, dan selipkan sedikit di tas mukena.
  • Obat-obatan: Bawa obat-obatan pribadi dan simpan nomer telepon paramedis untuk keadaan darurat. 

Saat berkunjung ke Candi Prambanan

4. Mukena Traveling & Aplikasi Ibadah

Menjadi mandiri berarti tidak bergantung pada fasilitas hotel untuk ibadah. Apalagi ketika sedang berada di tempat wisata. 

  • Bawa mukena parasut/silk yang bisa dilipat sekecil genggaman tangan.
  • Pastikan aplikasi jadwal salat dan penunjuk kiblat sudah terinstal di ponsel. Ini sangat membantu saat kita sedang berada di tengah hutan atau kota yang minim masjid.

5. Jangan Takut "Me-Time" di Kafe

Salah satu kenikmatan solo travelling adalah kita bebas menentukan kapan mau istirahat dan kapan mau berhenti. Jangan ragu untuk duduk di pojok kafe cantik, memesan kopi hangat, membaca buku dan menulis jurnal atau sekadar mengamati orang lewat. Di usia ini, kita bukan lagi mencari pengakuan lewat foto, tapi mencari ketenangan lewat pengalaman.

Baca juga: Kafe Vintage dekat Stasiun Cikini

Enjoy the moment

So sobat Mlaqumlaqu, dunia ini terlalu luas untuk dilewatkan hanya karena rasa takut. Usia 50+ adalah waktu di mana kita lebih mengenal siapa diri kita. Hijab kita bukan pembatas, melainkan pelindung dan identitas saat melangkah di bumi Allah.

Jadi, kapan jadwal mlaqumlaqu sendirian pertamamu? Ingat, life begins at fifty!

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Hai..Terima kasih sudah mampir di blog saya. Tolong tinggalkan komen dengan bahasa yang santun, No Sara, No Politik.