Hidden Gem Purwakarta: Ngga Cuma Sate Maranggi Aja

 Hai sobat Mlaqumlaqu. Siapa yang kalo berkunjung ke Purwakarta menyempatkan diri untuk mencicipi kuliner sate Maranggi? Rasanya bisa dibilang hampir semua yang berkunjung ke Purwakarta pernah mencicipi sate Maranggi. Tapi sob, kalian tahu ngga kalo selain sate Maranggi, ada kok kuliner lain yang ngga kalah enaknya? Baca terus ya, saya spill pengalaman saya menikmati kuliner khas Purwakarta lainnya. 

Kuliner Hidden Gem di Purwakarta, mulai dari Kafe, Pasar hingga Tahu Keju
Ketan bakar bertabur oncom dan sate Maranggi

Jadi, waktu saya dan rekan Kompasianer berkunjung ke Purwakarta, kami berenam memutuskan untuk bermalam, sementara yang lain (4 orang) kembali ke Jakarta. Kami penasaran dengan suasana malam dan minggu pagi di Purwakarta. Apalagi Mira bercerita tentang Pasar Sasagaran yang hanya buka di akhir pekan. 

FYI nih, sob. Pasar Sasagaran itu salah satu destinasi wisata kuliner di Purwakarta yang banyak dikunjungi wisatawan. Di sana terdapat banyak penjual yang menjajakan kuliner jadul dan tradisional khas Purwakarta. Duh jadi makin penasaran, kan apa aja makanan yang dijual di sana? Tapi malamnya kami menyempatkan untuk mengunjungi salah satu kafe yang cukup terkenal di kalangan anak muda Purwakarta. 

Makan Malam di Kafe Mandala Karsa, Bukan Kafe sembarang Kafe

Hujan yang mengguyur kota Purwakarta tidak menggoyahkan kami untuk tetap ke luar mencari makan malam. Mira mengajak kami ke Kafe Mandala Karsa yang berlokasi di Jalan Purnawarman No.1, Sindangkasih, Purwakarta. Kami menaiki mobil online menuju lokasi kafe tersebut dan tiba sekitar 15 menit kemudian. 

Kafe Mandala Karsa ini, cerita punya cerita ternyata berada di bawah naungan Pemda Purwakarta, tepatnya Dinas Pendidikan Purwakarta. Long short story, sob, Mandala Karsa sendiri adalah Sustainable Creation Hub yang bertujuan untuk menjadi galeri produk, etalase karya dan pusat distribusi berbagai macam produk ramah lingkungan mulai dari fashion, kriya, body care, makanan, hingga minuman. 

Salah satu sudut kafe Mandala Karsa yang kacanya berhiaskan lukisan
Mandala Karsa diinisiasi sebagai bagian dari hilirisasi gagasan besar program Tatanen di Bale Atikan di Kabupaten Purwakarta yang salah satunya bertujuan untuk mendorong siswa-siswi sekolah untuk mengembangkan keterampilan mereka dalam menciptakan produk yang inovatif, berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan ini diharapkan dapat menjadi etalase produk-produk yang dihasilkan siswa-siswi dan sekolah dari Program Tatanen di Bale Atikan.
Kafe Mandala Karsa Purwakarta
Sebagai Sustainable Creation Hub, Mandala Karsa mempunyai failitas antara lain ruang galeri, ruang kreatif, ruang pelatihan dan area kafe. Di area kafe ini menjadi area yang menyajikan makanan dan minuman ramah lingkungan yang dihasilkan oleh siswa-siswi. Area ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati produk-produk tersebut dan sekaligus mendukung kreativitas dan inovasi siswa-siswi di Kabupaten Purwakarta.
Selain indoor juga tersedia ruang outdoor yang luas

Dengan luas area yang cukup memadai baik itu indoor dan outdoor, kafe Mandala Karsa ini cukup banyak digandrungi dan dikunjungi generasi muda Purwakarta dan sekitarnya. Lokasi yang cukup strategis berada di Jalan Purnawarman No.1, Sindangkasih, Purwakarta. Area galeri yang menyatu dengan kafe jadi membuat pengunjung dapat melihat-lihat hasil karya yang dibuat oleh siswa-siswi di Kabupaten Purwakarta. 

Nasi goreng kecombrang dan kopi gula aren

Spageti karbonara
Untuk menu yang disajikan di kafe Mandala Karsa ini cukup variatif. Mulai dari appetizer seperti buah-buahan, snack berkuah dan gorengan, hingga dessert seperti cookies, ice cream dan croissant. Untuk main course juga tersedia local food dan western, minuman mereka menyediakan mulai dari kopi hingga non kopi juga minuman probiotik. 

Wedang empon-empon

Fruity kombucha

Pilihan saya jatuh pada spageti karbonara, sedang teman yang lain memesan nasi goreng kecombrang dan nasi goreng seafood. Untuk minuman saya tertarik dengan wedang empon-empon yang berisi aneka rempah. Rasanya segar dan menghangatkan badan. Cocok untuk cuaca hujan seperti saat itu. Untuk kisaran harga mulai dari Rp12.000-Rp50.000,-.

Menu di Kafe Mandala Karsa Purwakarta

Oiya sobat Mlaqumlaqu, di Kafe Mandala Karsa ini juga tersedia live music yang pengunjung bisa ikut bernyanyi bareng atau sekedar request lagu. Kafe yang mulai beroperasi pukul 07.00 WIB dan tutup pukul 22.00 WIB ini bisa menjadi salah satu alternatif tongkrongan anak muda Purwakarta bahkan juga untuk keluarga.

Makan malam bersama Kompasianer


Berburu Kuliner Tradisional Khas Purwakarta di Pasar Sasagaran

Minggu pagi hujan masih mengguyur kota Purwakarta. Enaknya emang rebahan dan menarik selimut, tapi perut keroncongan minta diisi. Membayangkan seporsi ketan bakar dan oncom serta sate Maranggi, membuat kami segera beranjak dari tempat tidur. Gerimis dikit nggak apa-apalah. 

Pukul 8.00 pagi dengan hujan yang masih mengguyur, kami bergegas menuju Pasar Sasagaran. Beruntung sudah ada mobil yang siap menjemput dan mengantar kami selama di Purwakarta. Lokasi Pasar Sasagaran ini berada di Desa Lembur Dangdeur, Bungursari, Purwakarta. 

Sarapan pagi di Pasar Sasagaran Purwakarta

Pasar Sasagaran menjadi salah satu destinasi wisata kuliner yang menyajikan aneka makanan tradisional Purwakarta. Sayangnya ketika kami tiba, hujan masih mengguyur wilayah tersebut. Alhasil banyak pedagang yang tidak berjualan dikarenakan hujan yang turun semalaman. Tapi sayang juga udah jauh-jauh ke Purwakarta tapi ngga menyempatkan diri ke Pasar Sasagaran. 

Surabi, ketan bakar, sate Maranggi, oncom dan teh panas
Walaupun banyak pedagang yang tidak berjualan tapi senangnya kami masih bisa mencicipi makanan tradisional seperti ketan bakar dengan oncom, sate Maranggi, surabi, aneka kerupuk dan jajanan lainnya. Ketan bakar yang pernah saya cicipi yaitu ketan bakar atau dikenal dengan nama Jadah di Kaliurang. Tapi kalo di Purwakarta makannya dengan taburan oncom dan kecap. Wah ternyata rasanya enak juga, bercampur gurihnya ketan dengan pedasnya tumis oncom. Ketannya lembut walaupun sudah dibakar berbarengan dengan sate Maranggi. 
Ketan bakar, porsinya mengenyangkan
Untuk surabi, saya ngga expect porsinya yang cukup besar. Karena surabi yang saya temui biasanya ukurannya kecil jadi bisa makan 2-3 buah, tapi surabi Purwakarta ini makan 1 aja udah cukup mengenyangkan apalagi dengan topping yang beragam, ada oncom, keju, coklat atau disiram kinca (air gula merah). So far semuanya cocok di lidah saya. Apalagi minumnya teh tawar atau kopi panas, duh semakin nikmat. 
Tempat memasak surabi yang masih tradisional

Surabi dengan aneka topping
Dari Pasar Sasagaran kami beranjak ke tempat berikutnya yaitu pabrik Tahu Qeju Sosmed Purwakarta. Dari informasi yang saya terima, Tahu Qeju ini cukup terkenal karena rasanya yang lembut, gurih. Bahkan dimakan langsung tanpa digoreng sudah terasa enaknya. 

Gurihnya Tahu Qeju Sosmed Purwakarta

Banyak yang membeli Tahu Qeju ini sebagai buah tangan. Apalagi harganya juga cukup murah. Pabrik Tahu Qeju Sosmed ini beralamat di Jalan Basuki Rahmat, Sindangkasih, Purwakarta. Uniknya, pabrik ini beroperasi selama 24 jam. Jadi kalau butuh tahu mendadak bahkan tengah malam pun, mereka siap sedia. 

Pabrik Tahu Qeju Sosmed Purwakarta
Di pabrik tahu ini kami ngga cuma membeli, tapi juga melihat proses pembuatannya. Mamang yang sedang menata tahu bahkan mengijinkan kami untuk mencoba menata tahu yang sudah matang untuk diletakkan di sebuah nampan kayu yang besar yang siap untuk dijual. 
Tahu yang sudah matang siap dipasarkan

Mencoba ikut menata tahu yang sudah matang
Selain tahu yang berwarna kuning, mereka juga menjual tahu putih. Dari informasi yang mereka sampaikan bahwa pabrik Tahu Qeju Sosmed ini juga menerima orderan tahu untuk menu MBG. Seperti yang kita ketahui, tahu merupakan salah satu jenis pangan yang mengandung nutrisi protein nabati yang bagus untuk tubuh. 

Sayangnya hari mulai beranjak siang, kami harus kembali pulang. Eksplorasi kami hari itu dituntaskan dengan penutup tahu keju. Jadi sobat Mlaqumlaqu, kapan nih untuk eksplor hidden gem Purwakarta? 






Tidak ada komentar

Posting Komentar

Hai..Terima kasih sudah mampir di blog saya. Tolong tinggalkan komen dengan bahasa yang santun, No Sara, No Politik.