Hai Hai sobat Mlaqumlaqu. Siapa yang sudah mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) paska revitalisasi? Ada banyak perubahan di area TMII sekarang ini. Sejak direvitalisasi, rasanya TMII ini jadi surga tersendiri buat kita-kita yang hobi walking tour santai atau sekadar mencari ruang terbuka hijau di tengah hiruk-pikuk Jakarta.
Walau masih tidak terlalu jauh berbeda dengan sebelum revitalisasi, tapi perubahan ini jadi jauh lebih baik. Selain kita dapat melihat Indonesia dari dekat melalui miniatur propinsi yang ada di TMII, juga ada banyak kegiatan dan pertunjukan di sana. Salah satunya adalah pertunjukan tari Kecak yang diadakan di Amfiteater Panggung Budaya tepat di tepian Danau Archipelago. Yes, pertunjukan tari Kecak asli Bali ini sekarang bisa kita nikmati di TMII.
Nonton Tari Kecak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII): Sore Magis di Tepi Danau
Setelah mengalami revitalisasi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dibuka kembali untuk umum. Sore itu, selesai mengikuti acara bersama komunitas pecinta film di Museum Penerangan, rasanya ngga ingin langsung pulang dan menyusuri beberapa area di TMII.
Waktu menunjukkan pukul 16.10, angin berhembus cukup sejuk, mengusir sisa-sisa panas ibukota. Awalnya sih cuma ingin duduk diam menikmati siluet pulau-pulau buatan di tengah danau sambil nostalgia sedikit, mengingat masa-masa tahun 90-an dulu, betapa takjubnya melihat peta Indonesia sebesar itu dari kereta gantung. Tapi ternyata, sore itu semesta ngasih kejutan yang jauh lebih manis.
Ketika berencana hendak datang ke acara di Museum Penerangan, saya sempat mengintip sosial media TMII dan ingin menikmati senja di tepian danau. Ternyata ada informasi bahwa di Amfiteater Panggung Budaya yang berada di tepi danau akan digelar tari Kecak. Wah, saya excited banget nih dan langsung mengajak teman-teman untuk menonton selepas acara di Museum Penerangan.Dari Museum Penerangan sebenarnya ada shuttle mobil listrik yang dapat mengantar hingga ke tepian danau. Tapi tunggu punya tunggu ternyata mobilnya selalu full penumpang. Akhirnya kami putuskan untuk berjalan kaki saja ke lokasi yang jaraknya juga ngga terlalu jauh, itung-itung olahraga sore hehehe.
Tidak berapa lama, kami tiba di area tepi danau. Di kejauhan tampak antrian pengunjung yang hendak menonton. Pikir saya wah ngga kebagian kuota nih. Ternyata untuk menonton tari Kecak tersebut kita diharuskan registrasi melalui barcode yang ada di sekitar area panggung. Registrasinya sendiri dibuka mulai pukul 15.00 dengan kuota terbatas.
Ketika mendekati antrian, terdengar informasi dari petugas bahwa kuota online sudah full, tapi masih dibuka untuk yang onsite tapi juga ngga semua yang antri bisa masuk untuk menonton pertunjukan. Kamipun segera ikut antri, berdoa semoga masih ada rejeki bisa ikut masuk menonton karena pertunjukan juga sudah dimulai.
Saat langit mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, sayup-sayup terdengar suara yang sangat familier.
"Cak! Cak! Cak! Cak!"
Alhamdulillah, ternyata setelah menunggu beberapa lama, rombongan saya dan teman-teman dapat memasuki area Panggung Budaya. Kami segera menuju kursi-kursi yang masih tersedia. Pertunjukan sudah dimulai sekitar 15 menitan. Terdengar suara paduan vokal puluhan pria menggema dari area plaza terbuka di dekat danau. Ya, Tari Kecak!
Biasanya, menonton pertunjukan magis ini di dalam area Anjungan Bali yang sakral. Tapi kali ini, panggungnya adalah alam terbuka, dengan latar belakang bentangan air danau yang tenang dan langit senja yang dramatis.
Menonton Kecak di ruang terbuka seperti ini memberikan sensasi humanis yang luar biasa. Tidak ada batasan tembok. Kita duduk membaur, ada keluarga, anak-anak muda yang asyik merekam, sampai pejalan kaki solo yang ikut terhipnotis seperti saya.Energi Penari dan Angin Danau yang Menyatu
Menyaksikan puluhan penari pria duduk melingkar, mengangkat tangan, dan melantunkan irama secara akapela itu selalu berhasil membuat bulu kuduk berdiri. Tanpa alat musik pengiring, ritme yang mereka ciptakan begitu hidup. Ada kalanya suara mereka merendah seperti rintihan angin di atas permukaan danau, lalu tiba-tiba menghentak keras penuh energi.
Lakon Ramayana perlahan bergulir di tengah lingkaran. Gerak gemulai Shinta dan keperkasaan Rama berpadu dengan tingkah Hanoman si kera putih yang lincah dan jahil. Beberapa kali Hanoman berinteraksi dengan penonton di barisan depan, memecah ketegangan menjadi gelak tawa yang hangat.
Puncak magisnya tentu saja saat obor-obor mulai dinyalakan. Angin dari arah danau membuat nyala api menari-nari liar. Siluet para penari yang tersorot cahaya api, dipadukan dengan pantulan cahaya keemasan di permukaan air danau, menciptakan sebuah lukisan hidup yang sangat puitis. Rasanya waktu seakan berhenti.Catatan Perjalanan di Senja Kala
Pengalaman sore itu benar-benar menjadi oase. Sebuah bukti bahwa kita tidak perlu selalu terbang jauh menyeberang pulau untuk bisa merasakan keindahan dan kedalaman budaya nusantara. Cukup bermodal langkah kaki santai menyusuri wajah baru TMII, kita bisa menemukan momen magis yang menyentuh hati.
Buat sobat Mlaqumlaqu yang butuh tempat menepi sejenak, cobalah luangkan waktu di akhir pekan untuk berjalan kaki di sekitar Danau Archipelago ini. Datanglah agak sore, nikmati anginnya, resapi perubahannya, dan bersiaplah untuk terhanyut jika kebetulan ada pertunjukan budaya yang digelar di tepi air.Sampai jumpa di cerita jalan-jalan Mlaqumlaqu berikutnya. Jangan lupa nikmati setiap langkahmu!






Tidak ada komentar
Posting Komentar
Hai..Terima kasih sudah mampir di blog saya. Tolong tinggalkan komen dengan bahasa yang santun, No Sara, No Politik.