Jane's Walk: Bukan Sekadar Melangkah, Ada Cerita Dibaliknya

 Hai sobat Mlaqumlaqu. Bulan Mei ini banyak banget ya libur long weekend nya. Udah ke mana aja nih selama libur long weekend? 

Setelah ikut walking tour yang diadakan Unit Pengelolaan Kawasan Kota Tua, Jakarta, kali ini saya kembali ikut walking tour dengan penyelenggara yang berbeda. 

Jane's Walk, Langkah Perubahan

Jane's Walk. Ada yang pernah dengar? Jane's Walk adalah sebuah acara berjalan kaki komunitas yang diadakan di berbagai kota di seluruh dunia, yang terinspirasi oleh pemikiran Jane Jacobs, seorang aktivis urban dan penulis yang dikenal dengan pandangannya yang mendalam tentang kota dan kehidupan perkotaan.

Dalam pandangannya, Jane Jacobs berpendapat bahwa kota yang sehat dan berkelanjutan perlu memperhatikan interaksi antar penghuni kota, memperkuat kehidupan sosial, serta mengedepankan ruang publik yang ramah bagi semua kalangan.

Nah acara Jane's Walk ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang potensi kota, serta mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Oiya, sobat Mlaqumlaqu, Jane's Walk ini merupakan acara tahunan di bulan Mei di seluruh dunia dan di Jakarta baru berlangsung 2 kali, yaitu tahun lalu 2025 berlokasi di Blok M dan tahun ini 2026. 

Kali pertama saya mengikuti Jane's Walk. Saya mendapatkan informasi tentang acara ini dari sosial media instagram @pusatstudiinfrastruktur sebagai penyelenggaraan acaranya. Saya mendaftar dan beberapa hari sebelum acara, peserta dikumpulkan dalam grup Whatsapp untuk koordinasi. 

Kampung Kwitang dan Sejarah Dibaliknya

Pada hari Sabtu, 23 Mei 2026, tepat pukul 7.30 kami tiba di titik kumpul yaitu di GKI Kwitang. Kebetulan hari itu saya janjian dengan Zarna di stasiun Matraman untuk bareng ke lokasi Jane's Walk ini. Dari stasiun Matraman, kami lanjut dengan menggunakan bus Transjakarta 5C rute Kampung Melayu - Juanda dan berhenti di halte Kwitang. Posisi GKI Kwitang persis berada di seberang halte Kwitang. 

Di lokasi titik kumpul sudah ada Pak Taufik yang kami kenal, panitia dan beberapa peserta. Kak Malindo, kak Isti dan kak Ikhsan dari panitia menyambut kami dengan ramah. Sambil menunggu peserta lain yang masih dalam perjalanan, kami disuguhi kudapan sebagai pengganjal perut sebelum jalan nanti.
Jadwal kami hari itu adalah menyusuri Kampung Kwitang, mulai dari destinasi pertama di GKI Kwitang sebagai titik kumpul, lalu menuju sentra buku bekas Kwitang, spot kuliner Kwitang toko es krim Baltic dan toko roti Maison Weineer, serta terakhir wisata religi dan sejarah Masjid Jami' Al Riyadh dan Makam Habib Ali. 

GKI Kwitang dan Gerimis Mengundang

Cuaca mendung dan sedikit gerimis tidak mengurangi niat kami untuk mengikuti acara Jane's Walk ini. Dari 20 peserta yang terdiri dari lintas generasi dan profesi, ada peserta yang juga membawa putrinya yang berusia balita. 

GKI Kwitang yang berlokasi di Jakarta Pusat, merupakan salah satu gereja tertua di Kota Jakarta. Pertama kali dibangun tidak permanen di tahun 1876. Sejak 17 Juli 1877, gereja ini menerima pelayanan jemaat berbahasa Belanda dan Melayu.


Pada tahun 1886 atas gagasan Pendeta D. Huvsing dirombak menjadi bangunan permanen dengan gaya Indische Empire Style pada awalnya dan mengalami perubahan pada fasadnya menjadi gaya Art Nouveau dan Art Deco. 

Seiring waktu akhirnya bertransformasi dengan Gereja Kristen Indonesia (GKI) pada tahun 1958, dan kini tetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Nasional. 


Kenangan Toko Buku Bekas Kwitang

Dari GKI Kwitang, kami menyusuri jalan raya Kramat Kwitang, melewati gedung BPK Gunung Mulia, bangunan toko buku sekaligus penerbit buku-buku Kristen. Di sebelahnya ada gedung Sinpo TV, yang seingat saya dulunya adalah gedung toko buku Mas Agung, toko buku Islami. 

Kawasan Kwitang ini dulunya banyak terdapat penjual buku bekas. Bahkan sampai di emperan toko para pedagang menjajakan bukunya. Saya ingat sewaktu kuliah dulu selalu ke kawasan buku bekas Kwitang ini mencari buku-buku bahan kuliah. 

Dibanding di toko buku besar, saya memilih membeli buku di sini. Walau bekas, tapi harganya jauh di bawah buku yang baru, yang penting asli. Terkadang saya juga membeli di toko buku bekas di dekat terminal Pasar Senen. Di toko buku bekas Kwitang ini bahkan juga dipakai sebagai tempat syuting film AADC yang sempat hits itu. Salah satu adegan antara Cinta dan Rangga diambil di area toko buku bekas ini. 

Sayangnya, pandemi tahun 2020 lalu membuat keberadaan toko buku bekas di kawasan Kwitang ini terkena imbasnya. Banyak yang gulung tikar dan terpaksa menutup tokonya, sebagian bertahan di tengah perekonomian sekarang ini. 

Dari sentra toko buku bekas ini, kami lanjutkan perjalanan menuju toko es krim Baltic dan toko roti Maison Weiner. Sayangnya setiba di depan toko es krim Baltic, ternyata tutup. Bertepatan juga gerimis membasahi jalanan dan menemani langkah kami. 

Toko Roti Legendaris Maison Weiner

Lanjut menuju toko roti Maison Weiner, tepat tiba di depan toko, hujan makin deras. Kami segera memasuki toko dan sambil mendengarkan informasi tentang toko roti ini, kami juga membeli beberapa potong roti dan kue yang ada. 

Toko roti Maison Weiner yang beralamat di Jalan Kramat 2 No. 2, Kwitang, sekarang ini dikelola oleh generasi ketiganya atau cucu dari pemilik Maison Weiner. Toko yang sudah ada sejak tahun 1936 ini, tepat di 2026 menginjak usia ke 90. Wah sungguh menakjubkan usia toko roti hingga sampai hampir seabad. 

Ada beragam jenis roti dan kue di sini. Yang menjadi khasnya adalah Ontbijtkoek, Hoeren, dan Saucijsbrood. Selain itu juga ada beragam jenis croissant, sourdough dan juga aneka kue tradisional. 


Saya putuskan untuk mencoba mencicipi Saucijsbrood dan Ontbitjtkoek. Ontbijtkoek ini penampakannya seperti roti gambang, tapi lebih ke jenis bolu yang lembut sedang gambang lebih keras. Rasanya enak manisnya pas, ada rasa kayu manis, cocok untuk teman minum teh atau kopi. 


Tidak heran kalau toko roti Maison Weiner ini sering dikunjungi untuk sarapan. Apalagi toko ini memberikan diskon khusus 30%  di hari Sabtu untuk semua roti yang ready stock serta diskon setiap hari mulai pukul 16.00-18.00 atau tutup toko. Mereka sendiri beroperasi setiap hari mulai pukul 07.00 pagi. 

Jam menunjukkan hampir pukul 9.30 sedang hujan belum juga berhenti. Kami terpaksa tetap di dalam toko untuk berteduh sambil menikmati roti yang kami beli. Untungnya tak lama kemudian hujan mulai reda, sisa gerimis aja, tak apalah. Karena ngga enak juga lama-lama sementara pengunjung lain juga ada di dalam toko. 

Masjid Jami' Al Riyadh dan Makam Habib Ali

Di tengah gerimis, kami lanjutkan ke destinasi terakhir yaitu Masjid Jami' Al Riyadh dan makam Habib Ali. Beralamat di Jalan Kembang IV No.4, Kwitang, mesjid yang didirikan oleh Habib Ali Al Habsyi bin Habib Abdurrahman Al Habsyi sekitar tahun 1938 termasuk mesjid bersejarah.

Arsitektur bentuk Masjid Al-Riyadh memiliki bentuk yang cukup megah. Tidah hanya untuk beribadah saja, banyak umat Islam juga melakukan kunjungan untuk berziarah ke makam Habib Ali Bin Abdurachman Bin Abdullah Al Habsyi.


Berawal hanya berupa surau dengan desain rumah panggung, kini Masjid Jami' Al Riyadh menjadi bangunan masjid dua lantai. Masjid ini selalu ramai dikunjungi jamaah dan juga pengunjung yang hendak berziarah ke makam. 

Menariknya, bagi pengunjung yang hendak berziarah, terdapat ruangan khusus untuk laki-laki dan perempuan yang terpisah. Tidak diperbolehkan bersama dalam satu ruangan untuk menjaga wudhu. 

Destinasi di Masjid Jami' Al Riyadh ini menjadi kunjungan terakhir dari agenda Jane's Walk. Dari perjalanan ini kami mendapatkan banyak insight tentang bangunan bersejarah dan cerita di baliknya. 

Kembali ke GKI Kwitang, kami berpisah dan mengakhiri acara. Di tengah hiruk-pikuknya jalanan, melipir sejenak, menikmati jalanan dapat lebih memahami cerita dibalik gedung dan jalanan dibandingkan melihat dari dalam kendaraan. 

Jadi, sudah mendapatkan apa aja sobat Mlaqumlaqu dari perjalanan hari ini? 




Tidak ada komentar

Posting Komentar

Hai..Terima kasih sudah mampir di blog saya. Tolong tinggalkan komen dengan bahasa yang santun, No Sara, No Politik.