Walking Tour Jelajah Sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa

 Halo sobat Mlaqumlaqu. Lama ngga main ke Kota Tua, Jakarta Barat, ternyata udah banyak banget ya perubahannya. Sejak area Kota Tua direvitalisasi, pedagang ditertibkan, kendaraan bermotor juga ngga bisa sembarangan lagi lewat di area tersebut. 

Selain terdapat stasiun Jakarta Kota, juga halte bus Transjakarta, area Kota Tua juga banyak terdapat museum. Bagaimana pun area Kota Tua ini termasuk dalam cagar budaya karena banyaknya gedung-gedung bersejarah peninggalan jaman Belanda. 


Baca juga: Rekomendasi Museum yang Bikin Anak Betah

Menyusuri Jalan dan Hidden Gem Gudang Bersejarah

Walking tour kali ini, saya memilih untuk ikut program yang diadakan oleh Unit Pengelolaan Kawasan Kota Tua yang bekerja sama dengan Disparekraf DKI dan Jakarta Tourism. Informasi program free guided walking tour ini saya peroleh dari akun instagram @kotatua.jkt Di sana terdapat jadwal free guided walking tour baik destinasi dan juga waktunya, serta mengisi formulir yang tertera. 

Saya sengaja memilih destinasi dengan tema Historical Port of Sunda Kelapa, karena memang saya belum pernah menyambangi lokasi tersebut. Jadi setelah mengisi formulir, kita tinggal datang saja ke lokasi titik kumpulnya, yaitu di Kota Tua Information Center. 

Hari Rabu, 20 Mei 2026 pukul 14.00 saya bergegas menaiki kereta commuter line jurusan stasiun Jakarta Kota. Berhubung saya sudah janji untuk bareng dengan Zarna, teman sesama penulis Kompasiana, saya menunggu di stasiun Manggarai. Saya yang dari arah Bekasi dan Zarna dari arah Serpong tentu harus transit di stasiun Manggarai untuk lanjut menuju stasiun Jakarta Kota. 

Dari stasiun Manggarai ke stasiun Jakarta Kota memakan waktu kurang lebih 30 menit. Tiba di stasiun Jakarta Kota kami segera keluar dengan menuju Kota Tua Information Center (KOTIC). Hari itu cuaca cukup cerah, ngga terlalu panas juga, mungkin karena tadi pagi sempat hujan di beberapa kawasan. 


Tiba di depan bangunan KOTIC, saya masuk dan bertanya tentang program walking tour ini. Petugasnya menjelaskan bahwa benar untuk titik kumpul walking ada di depan bangunan ini. Karena belum terlihat peserta lain, kami duduk tidak jauh dari bangunan KOTIC. 

Disambut ramah oleh kak Lili yang memperkenalkan diri sebagai guide atau pemandu wisata resmi kawasan Kota Tua. Peserta yang hadir sore itu ternyata tidak banyak, hanya kami berenam dari total kuota peserta sebanyak 30 orang. Tapi ngga papa, malah jadi kayak private walking tour, hehehe. 


Dari titik kumpul di depan bangunan KOTIC, kamipun mulai melangkahkan kaki menuju lokasi Pelabuhan Sunda Kelapa. Jalanan yang kami lalui pertama kali yaitu Jalan Cengkeh. 
FYI nih sobat Mlaqumlaqu, dulunya di jaman pemerintahan Belanda, kawasan di sekitar Jalan Cengkeh ini adalah rumah-rumah elit yang dihuni pejabat pemerintahan. 


Namun di masa pemerintahan Gubernur Daendels kawasan tersebut diubah menjadi kawasan perdagangan rempah-rempah. Itulah sebabnya kenapa nama jalan di kawasan tersebut identik dengan nama rempah-rempah seperti Jalan Cengkeh, Jalan Kunir, Jalan Lada, dan sebagainya. 


Di ujung jalan Cengkeh, di perbatasan antara wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara, tepat di bawah jembatan jalan raya, dulunya terdapat gerbang peninggalan jaman Belanda. Gerbang Prinsenstraat itu sayangnya tidak ada bekas bangunannya karena dihancurkan pada masa pemerintahan Daendels. 


Dari perbatasan tersebut, kami lanjut lagi berjalan menuju arah kampung Tongkol. Berhubung habis hujan, jadi jalanannya agak becek dan banyak truk-truk dan mobil besar yang lewat di kawasan tersebut. Menuju kampung Tongkol, kami berhenti sejenak di satu tempat hidden gem, bangunan bekas gudang penyimpanan sembako di jaman Belanda, yaitu Gudang Timur VOC (Oostziidsche Paakhuizen). 

Hidden Gem Gudang Timur VOC

Bangunan yang diperkirakan sebagai gudang penyimpanan itu kini masuk dalam cagar budaya, namun masih dalam tahap penelitian lebih lanjut. Dari luar tampak terdapat bangkai mobil tua yang ditumpuk, entah sebelumnya bekas digunakan untuk apa. 


Batu bata merah yang terlihat di sekeliling bangunan tersebut menandakan bahwa bangunan ini asli dari jaman Belanda. Belum lagi terdapat pohon Beringin India yang akarnya menjulur memeluk bangunan tersebut. 



Gudang Timur VOC adalah bangunan kolonial yang bersisian dengan reruntuhan tembok kota lama di tepi timur Batavia merupakan salah satu gudang tua kawasan tersebut. Sebelumnya terdapat total 4 buah gudang tua, namun 2 gudang tergusur karena pembangunan jalan tol dan flyover, serta 1 lagi rubuh karena termakan usia. 



Gudang yang bertuliskan Major Massie pada fasad dinding depannya itu bernama Granpaakhuizen yang berarti gudang biji-bijian dan berfungsi sejak abad 17 (1652). Gudang ini sebagai tempat penyimpanan logistik pangan dan komoditas seperti beras, jagung, biskuit, rempah-rempah, kacang-kacangan, kopi, dan teh. Setelah itu tempat ini juga sempat menjadi penyimpanan keramik dan porselen. Kondisi gudang ini baik bangunan dan temboknya mulai pudar dan tergerus. 



Sementara itu bersebelahan dengan gudang ini terdapat pemukiman penduduk yang disebut Kampung Tongkol. Dulu kala, jarak antara pemukiman dan kali/sungai Ciliwung ini berdekatan, namun atas inisiatif masyarakat setempat memundurkan rumahnya untuk dibuat jalan. Bantaran kalipun dibuat dan dijaga kebersihannya. 

Senja di Marina Batavia Pelabuhan Sunda Kelapa

Perjalanan sejauh 2 kilometer menuju Pelabuhan Sunda Kelapa tidak terlalu terasa. Sepanjang perjalanan kami menikmati cerita jejak sejarah jaman pemerintahan Belanda yang sayangnya beberapa bangunan sudah tidak ada lagi. 



Dari Kampung Tongkol, kami bergerak lagi menyusuri bantaran kali dan bertemu dengan jalan raya Lodan Ancol menuju pelabuhan. Kami masuk dari pintu pos 1 Pelabuhan Sunda Kelapa, tampak di sisi kiri berderet kontainer-kontainer. Di sisi lain terlihat kapal-kapal bersandar. 



Destinasi terakhir kami berhenti di Batavia Marina Restoran yang berada di dalam area pelabuhan. Bangunan restoran bertaraf internasional ini berarsitektur kolonial Belanda yang menyajikan pemandangan laut lepas Teluk Jakarta. 


Selain menyajikan hidangan bertaraf internasional, restoran Batavia Marina juga menyediakan fasilitas tambat kapal pesiar dengan standar internasional yang lengkap. Terdapat dermaga terapung, pasokan air dan listrik, fasilitas kamar mandi dan toilet serta keamanan 24 jam. 



Pemilik restoran ini sepertinya juga seorang kolektor benda seni. Terlihat dari lukisan dan barang-barang yang ada yang menghiasi ruangan dan dinding di bangunan ini. Untuk jam operasional restoran Batavia Marina ini yaitu dari pukul 10.00-22.00 WIB. 

Nah sobat Mlaqumlaqu, tidak terasa 2 jam melangkah bersama. Sayangnya walking tour ini sudah harus berakhir. Terima kasih untuk Unit Pengelolaan Kawasan Kota Tua untuk program ini. Next coba ikut destinasi mana lagi, ya? 



Tidak ada komentar

Posting Komentar

Hai..Terima kasih sudah mampir di blog saya. Tolong tinggalkan komen dengan bahasa yang santun, No Sara, No Politik.