Hai sobat Mlaqumlaqu. Masih menyambung cerita perjalanan saya ke komplek Kesultanan Banten Lama di artikel lalu, kali ini saya akan mengulas tentang jejak kejayaan Kesultanan Banten Lama.
Baca juga: One Day Trip Banten Lama
Setelah beristirahat makan siang dan beribadah di Masjid Agung Banten, kami melanjutkan eksplor sekitar komplek Kesultanan Banten Lama ini. Di komplek ini selain berdiri Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama dan Masjid Agung, juga terdapat jejak Keraton Surosowan dan Keraton Kaebon.
Kejayaan Masa Lalu Banten Lama
Sama seperti di daerah lain di Pulau Jawa, Banten juga pernah memiliki kerajaan. Jejak kejayaan Kesultanan Banten terlihat dari situs-situs peninggalan yang ada berupa keraton, yaitu Keraton Surosowan dan Keraton Kaibon.
Keraton Surosowan
Keraton Surosowan merupakan salah satu keraton sisa peninggalan sejarah Kerajaan Banten. Bangunan ini diperkirakan mulai dibangun pada tahun 1526 - 1570 di masa pemerintahan Sultan Hasanuddin. Sultan Hasanuddin selanjutnya diberi gelar Maulana Hasanuddin Panambahan Surosowan.
Keraton yang masuk dalam Kesultanan Banten Lama ini berada tidak jauh dari lokasi Masjid Agung Banten, yaitu di Jalan Masjid Agung Banten, Kasemen, Banten. Layaknya sebuah keraton yang berfungsi sebagai pusat kerajaan dalam menjalankan pemerintahan, Keraton Surosowan berfungsi juga sebagai tempat tinggal beserta keluarga dan pengikutnya.
Keraton Surosowan mengalami kehancuran disebabkan oleh peristiwa pengepungan tentara Belanda. Pada tahun 1808 pemerintah Belanda di bawah kepemimpinan Daendels hendak melindungi pulau Jawa dari serbuan Inggris dengan membangun jalan Anyer Panarukan.
Untuk kebutuhan pembuatan jalan tersebut dibutuhkan budak-budak yang ditolak oleh Sultan Banten. Penolakan ini membuat Daendels marah dan menyerang Keraton Surosowan dengan cara dihancurkan dan dibakar. Penyerangan secara tiba-tiba ini diluar dugaan Sultan Banten yang tidak mempunyai waktu untuk menyiapkan pasukannya hingga membuat kekalahan besar di pihaknya.
Tidak tampak satupun bekas bangunan yang terlihat berdiri tegak. Yang ada hanya tanah lapang dengan rumput yang mulai meninggi dan beberapa pondasi yang nyaris tenggelam tertimbun tanah.
Pada hari saya berkunjung ke situs Keraton Surosowan ini tidak ada petugas yang bisa memberikan informasi. Petugas keamanan yang ada hanya ada di area Museum Situs Kepurbakalaan. Kamipun hanya berkeliling saja melihat sekitar lokasi situs.
Selain Keraton Surosowan, tidak jauh dari tempat tersebut juga berdiri jejak peninggalan Kesultanan Banten Lama, yaitu Keraton Kaebon. Berjarak kurang lebih sekitar 6 km dari Mesjid Agung Banten, kami menaiki becak menuju lokasi tersebut.
Keraton Kaibon
Keraton Kaibon merupakan keraton kedua di Banten yang dibangun pada tahun 1815 dan kini menjadi salah satu bangunan cagar budaya Provinsi Banten berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 139/M/1998 tanggal 15 Juni 1998.
Pada masa pemerintahan Sultan Shafiuddin yang saat itu sebagai Sultan Banten ke-21, Keraton Kaibon dibangun untuk tempat tinggal sebagai persembahan untuk ibunda tercinta, Ratu Aisyah. Dari situlah nama Kaibon berawal, Kaibon yang berarti Keibuan, seperti sifat seorang ibu yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.
Secara kontruksi, bangunan Keraton Kaibon cukup sederhana. Dominasi material baru bata yang ditumpuk yang dilapisi dengan pasir dan semen. Sedangkan arsitekturnya bergaya paduan Jawa Bali yang tergambar pada gerbang utamanya yang menyerupai candi Bentar, oleh karena itu disebut Bentar. Terdiri dari lima bentar yang bermakna rukun Islam yang lima.
Sayangnya, Keraton Kaibon juga ikut dihancurkan pihak Belanda di masa kepemimpinan Gubernur Jenderal Daendels tahun 1832. Sebagian besar bangunan hancur, menyisakan reruntuhan dan pondasi. Meskipun begitu masih nampak sisa-sisa kemegahannya, beberapa pilar dan bentar yang masih berdiri kokoh. Pilar-pilar dan bangunan tersebut tampak klasik dan anggun, apalagi di sore hari di mana semburat sinar matahari senja mengekspos batu bata jadi semakin eksotik.
Taman Budaya dan Museum Negeri Banten
Masih di kompleks Kesultanan Banten, terdapat juga museum. Kalau Museum Situs Kepurbakalaan Banten berada dekat dengan Mesjid Agung Banten, maka Museum Negeri Banten berada di bagian depan Keraton Surosowan dari arah stasiun Karangantu.
Bangunan ini terbilang baru, sekitar tahun 2025 menempati gedung ini setelah sebelumnya berlokasi di dekat alun-alun kota Serang, tepatnya di Pendopo Gubernur Banten. Museum Negeri Banten menempati lantai dasar gedung Banten Islamic Center ini.
Ketika kami mengunjungi museum ini, berbarengan dengan kunjungan siswa sekolah yang sebelumnya juga mengunjungi komplek Kesultanan Banten Lama. Di lantai dasar tempat Museum Negeri Banten ini terdapat 3 ruangan yang digunakan sebagai ruang pameran dan ruang audio visual.
Museum yang terbuka untuk umum, mulai Senin hingga Jum'at dari pukul 8.00 hingga 15.30 WIB ini bukan saja menampilkan koleksi peninggalan bersejarah tapi juga sebagai ruang edukasi dan wisata budaya bagi masyarakat dan wisatawan. Museum ini menyajikan beragam informasi sejarah, arkeologi, etnografi hingga perkembangan sosial masyarakat Banten dari masa ke masa.
Setiap ruang pamer di Museum Negeri Banten ini merepresentasikan perjalanan sejarah dan budaya Banten. Mulai dari koleksi replika arca Ganesha, replika Prasasti Munjul, miniatur Punden Berundak Lebak Cibeduk, Golok Ciomas, fosil rantai kapal, kalkulator mekanis, perisai kayu tradisional, serta berbagai mata uang logam dan kertas dari masa kolonial hingga era modern.
Sobat Mlaqumlaqu, keberagaman koleksi di museum ini mencerminkan peran Banten yang kuat sebagai wilayah yang memiliki sejarah dalam perdagangan, maritim juga interaksi budaya antar wilayah dan bangsa.
Matahari semakin tinggi, perjalanan berakhir dan kami harus kembali ke stasiun Karangantu untuk pulang. Pak Becak yang menunggu, kembali membawa kami ke stasiun. Next eksplor ke mana lagi, ya?




















Tidak ada komentar
Posting Komentar
Hai..Terima kasih sudah mampir di blog saya. Tolong tinggalkan komen dengan bahasa yang santun, No Sara, No Politik.