Hai sobat Mlaqumlaqu. Perjalanan kali ini saya menelusuri jejak sejarah wilayah Kesultanan Banten Lama yang berlokasi di Serang, Banten. Wilayah Kesultanan Banten ini kini merupakan sebuah komplek yang berisi situs dan bangunan bersejarah diantaranya terdapat gedung Banten Islamic Center, Taman Budaya dan Museum Banten, Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan dan Keraton Kaebon.
Baca juga: CFD di Purwakarta
Beberapa kali saya melihat konten tentang tempat bersejarah di Banten Lama lewat di timeline media sosial. Lama-lama jadi tertarik juga untuk mengunjunginya, apalagi transportasi umum menuju ke sana juga cukup mudah dijangkau. Akhirnya pada Rabu tanggal 6 Mei 2026 saya bersama rekan Kompasiana, Zarna, beranjangsana ke sana.
Gonta Ganti Kereta
Rabu (6/05) pagi pukul 6.00 saya sudah bergerak menuju stasiun Tanahabang menggunakan kereta commuter line jurusan stasiun Bekasi-Angke. Tiba di stasiun Tanahabang pukul 7.00 dan langsung berpindah peron ke jalur 5-6 untuk menaiki kereta jurusan stasiun Tanahabang-Rangkasbitung.
Pagi itu terlihat padat calon penumpang memenuhi stasiun, berbarengan dengan rush hour di pagi hari di jam keberangkatan masyarakat beraktivitas. Zarna yang sudah menunggu di stasiun Rawabuntu segera saya kirimkan pesan bahwa saya sudah di dalam kereta menuju stasiun Rangkasbitung. Tepat pukul 7.27 kereta berhenti di stasiun Rawabuntu dan Zarna langsung memasuki gerbong yang sama dengan saya sesuai yang saya infokan sebelumnya.
Oiya, sobat Mlaqumlaqu. Sebelumnya saya sudah membeli tiket kereta jurusan Rangkasbitung-Merak melalui aplikasi KAI Access. Berhubung untuk menuju lokasi komplek Kesultanan Banten itu harus berganti kereta, jadi kami harus memesan terlebih dahulu untuk memudahkan. Sekaligus jaga-jaga kalo jam keberangkatan yang kami pesan tidak keburu habis.
Sekitar pukul 8.30 kami tiba di stasiun Rangkasbitung, perjalanan terbilang lancar, tidak ada kendala akibat mati listrik di jalur Green Line beberapa hari lalu. Berhubung waktu masih cukup lama sampai tiba pukul 10.10, kami keluar stasiun untuk mencari sarapan. Kebetulan Zarna melihat dari media sosial tentang warteg yang viral yaitu warteg Oyo yang tidak jauh dari stasiun.
Selesai membeli sarapan, kami langsung menuju pintu masuk peron. Sayangnya aplikasi KAI Access mengalami gangguan ketika hendak membuka barcode tiket. Alhasil oleh petugas diminta mengantri di loket untuk mencetak tiket dengan menunjukkan identitas diri. Untungnya ngga lama antri, tiket tercetak dan kami segera tap in ke peron.
Dari stasiun Rangkasbitung perjalanan cukup lancar. Berangkat pukul 10.10 dan tiba di stasiun Karangantu pukul 11.10. Kalau lanjut sampai stasiun Merak butuh 1 jam perjalanan lagi.
Oiya, kereta yang kami naiki ini merupakan kereta jenis kereta lokal di mana penumpang tidak mendapatkan nomer kursi. Jadi siapa cepat dia dapat memilih posisi kursi yang diinginkan. Walau begitu keretanya cukup sejuk dengan adanya AC, ada colokan pula untuk mengisi daya gawai kita. Bahkan makan minum juga diperbolehkan.
Melihat Kenangan Kejayaan Kerajaan Masa Lalu Banten Lama
Dari stasiun Karangantu, kami langsung menuju komplek Kesultanan Banten. Yang pertama kami kunjungi yaitu Museum Kepurbakalaan. Oiya sobat, dari stasiun itu kami menaiki becak. Dengan membayar Rp15.000 pak becak mengantar kami sampai lokasi.

Jarak dari stasiun Karangantu ke Museum Kepurbakalaan terbilang tidak terlalu jauh, tapi karena siang itu cukup terik, jadi kami putuskan untuk naik becak sekaligus merasakan sensasinya yang di Jakarta ngga ada.
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama
Museum Kepurbakalaan ini berlokasi di Jalan Mesjid Agung Banten, Kecamatan Kasemen, Serang, Banten. Museum yang berdiri sejak 15 Juli 1985 ini selain sebagai tempat untuk penyelamatan benda-benda yang diduga sebagai cagar budaya, museum situs ini
didirikan untuk memperkenalkan kekayaan tinggalan budaya atau benda-benda yang dianggap bersejarah yang ditemukan di kawasan kepurbakalaan Banten Lama kepada masyarakat luas.
Adapun bangunan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama terletak di halaman bagian utara situs Keraton
Surosowan. Pembangunan museum dapat
dilakukan setelah pemerintah terlebih
dahulu melakukan pembebasan tanah dan
memindahkan penduduk yang menghuni
daerah tempat pendirian museum.
Sesampainya di depan bangunan museum, tampak petugas keamanan menyapa kami dan menanyakan tentang keperluan kami. Kebetulan saat itu sedang ada rombongan anak sekolah, petugas mengira kami bagian dari rombongan tersebut. Lalu kami diarahkan untuk menuju loket pendaftaran. Untuk tiket masuknya gratis ya, sobat. Sedang waktu berkunjung mulai dari hari Sabtu-Kamis, Jumat libur, jam 09.00-15.00 WIB.
Di dalam ruangan terdapat beberapa koleksi yang dipajang dan dipamerkan. Koleksi Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama saat ini terdiri dari benda-benda hasil temuan ekskavasi di Kawasan Banten Lama, benda-benda hasil hibah dan ganti rugi dari masyarakat yang terkait dengan sejarah Banten Lama, dan benda hasil replika/reproduksi.
Koleksi-koleksi tersebut berjumlah sekitar dua ribu koleksi dengan sekitar seribu koleksi yang
sudah dilakukan pencatatan bernomor
registrasi. Sementara itu sekitar enam ratus koleksi dipamerkan baik dalam ruang pameran maupun di luar ruangan di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.
Selain ruang pameran koleksi-koleksi, di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama ini juga terdapat ruang audio visual dan ruang Temporer yang berisi pameran 400 tahun Syekh Yusuf Al Makassari, seorang tokoh agama yang sangat dihormati di masyarakat Banten kala itu.
Dari Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama ini, kami berpindah lokasi. Berhubung sudah terdengar adzan dzuhur, kami segera menuju Masjid Agung Banten yang lokasinya berdekatan dengan museum.
Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten merupakan salah satu situs bersejarah peninggalan Kesultanan Banten. Masjid ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati, pada tahun 1566 M atau bulan Zulhijjah 966 H.
Sejarah pendirian Masjid Agung Banten berawal dari instruksi Sunan Gunung Jati kepada anaknya, Hasanuddin. Saat itu konon, Sunan Gunung Jati memerintahkan kepada Hasanuddin untuk mencari sebidang tanah yang masih suci sebagai tempat pembangunan Kerajaan Banten.
Setelah mendapat perintah ayahnya tersebut, Hasanuddin kemudian salat dan bermunajat kepada Allah agar diberi petunjuk tentang tanah untuk mendirikan kerajaan. Konon, setelah berdo’a, secara spontan air laut yang
berada di sekitarnya tersibak dan menjadi daratan. Di lokasi itulah kemudian Hasanuddin mulai mendirikan Kerajaan Banten beserta sarana pendukung lainnya, seperti masjid, alun-alun, dan pasar.

Perpaduan empat hal: istana, masjid, alun-alun, dan pasar merupakan ciri tradisi kerajaan Islam di masa lalu. Sejarah berdirinya Masjid Agung Banten juga diawali oleh adanya
cita-cita Sultan Maulana Hasanuddin untuk memiliki sarana pusat penyebaran agama Islam ke seluruh wilayah Banten yang pada saat itu mayoritas beragama Hindu. Juga tempat rakyat, pembesar kerajaan, serta pedagang Islam yang singgah di Bandar Banten untuk bersama-sama melakukan salat berjam’ah bersama Sultan.
Masjid Agung Banten termasuk salah satu masjid tertua di Indonesia dengan arsitektur unik yang menggabungkan unsur Hindu, Jawa, Cina dan Eropa. Dapat dilihat dari bentuk atapnya yang berupa atap tumpang yang tersusun semakin ke atas makin mengecil dan yang paling atas berbentuk limas yang di sebut kubah.
Atap ini di topang oleh tiang-tiang kayu yang berdiri di atas umpak batu, dan rangka atapnya di ekspos dan plafonnya juga naik mengikuti bentuk atapnya, menunjukan pengaruh seni bangunan Hindu.
Masjid yang buka selama 24 jam ini juga terdapat makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, serta beberapa makam lainnya. Tidak heran bila Masjid Agung Banten menjadi salah satu tujuan wisata religi.
Setelah selesai makan siang dan menunaikan ibadah shalat Dzuhur, kami bergegas melanjutkan kembali eksplor komplek Kesultanan Banten Lama ini. Cuaca yang cukup terik tidak membuat kami beranjak. Segelas es kelapa yang dijual di depan pintu gerbang masjid menuntaskan dahaga kami. Aah segar rasanya.
Perjalanan sehari di komplek Kesultanan Banten Lama ini akan dilanjutkan di artikel berikutnya. Jangan kemana-mana ya sobat Mlaqumlaqu.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Hai..Terima kasih sudah mampir di blog saya. Tolong tinggalkan komen dengan bahasa yang santun, No Sara, No Politik.