Hai sobat Mlaqumlaqu. Hari Minggu waktu yang banyak digunakan masyarakat untuk berolahraga di luar rumah. Walau ada yang bilang Minggu pagi itu waktunya buat balas dendam tidur sepuasnya, sepertinya mereka belum pernah ngerasain energi pagi di Purwakarta.
Minggu kali ini, saya memutuskan untuk refreshing, mencari suasana baru di tempat lain. Bukan CFD-an di Jakarta, tapi di Purwakarta. Yup, sedari Sabtu saya sudah berada di kota yang terkenal dengan sate Maranggi-nya ini. Hari Minggu, bangun lebih awal, ikat tali sepatu, dan meluncur ke kawasan Taman Air Mancur Sri Baduga di Jalan Siliwangi No.73, Nagri Kidul, Purwakarta.
![]() |
Pemanasan di Tengah Ikon Kota
Suasana Car Free Day (CFD) di sini selalu punya daya tarik sendiri. Udara masih lumayan segar, dan yang paling asyik adalah melihat antusiasme orang-orang. Ada yang lari serius dengan perlengkapan lengkap, ada yang cuma jalan santai sambil selfie, sampai rombongan ibu-ibu yang semangat ikut senam aerobik mengikuti dentuman musik.
Oiya sobat Mlaqumlaqu, olahraga di sekitar Situ Buleud, tempat lokasi air mancur itu nggak berasa capek karena pemandangannya bagus. Beruntung sekali pagi itu cuaca cerah, langit biru seperti yang tertangkap di kamera hape saya. Meskipun air mancurnya nggak joget di pagi hari (biasanya hanya malam Minggu), arsitektur gerbangnya yang megah dan pepohonan hijau di sekeliling trek lari sudah cukup jadi mood booster. Setidaknya, lumayan lah sudah bakar beberapa ratus kalori sebelum akhirnya diisi ulang lagi.Selain masyarakat yang beraktivitas jalan santai, lari atau bersepeda, ada juga aktivitas lain yang dilakukan di Taman Air Mancur Sri Baduga ini. Minggu itu kebetulan ada kegiatan anak sekolah yang digagas Diknas Pendidikan Purwakarta. Murid-murid melakukan kegiatan memasak dengan menggunakan tungku kayu, yang didampingi oleh para guru.
Tampak pula para pedagang di pinggir jalan taman air mancur. Mulai dari aneka makanan, minuman, mainan hingga penyewaan mobil-mobilan dan motor-motoran yang dikendalikan dengan remote control. Meriah sekali suasana CFD di area Taman Air Mancur Sri Baduga pagi itu. Setelah jalan santai beberapa putaran, keringat mulai bercucuran, perut mulai keroncongan minta diisi. Saya tengok jam tangan sudah menunjukkan pukul 7.30. Kami pun bergegas beranjak pindah lokasi untuk cari sarapan. Di mana lagi kalau bukan ke Pasar Sasagaran.Baca juga: Walking Tour Napak Tilas Bekasi
Melipir ke Pasar Sasagaran
Buat yang belum tahu, Pasar Sasagaran ini bukan sekadar pasar tumpah biasa. Ini adalah pasar dadakan yang hanya ada setiap hari Minggu pagi di sepanjang jalan Mr. Dr. Kusuma Atmaja (area sekitar Pemda Purwakarta). Nama "Sasagaran" sendiri punya nuansa tradisional yang kental, dan memang itu yang dicari.
Ini kali ke dua saya mengunjungi Pasar Sasagaran. Setelah sebelumnya bersama rekan Kompasianer namun sayangnya cuaca tidak bersahabat. Hujan yang turun dari semalam, ternyata tidak juga reda di Minggu pagi. Kali ini saya ngga mau gatot (gagal total) lagi.
Alhamdulillah, mestakung, semesta mendukung. Pagi yang cerah, udara sejuk, matahari bersinar hangat. Di Pasar Sasagaran ini bisa menemukan makanan yang mungkin sudah jarang ada di mal. Mulai dari Surabi hangat yang dimasak pakai kayu bakar, Awug yang uapnya masih mengepul, sampai Sate Maranggi yang aromanya manggil-manggil dari kejauhan. Belum lagi vibe pasar rakyatnya berasa sekali.
Pagi itu kami tiba sekitar pukul 8.30 pagi, dari kejauhan banyak orang yang keluar dari jalan masuk Pasar Sasagaran dengan menenteng belanjaan. Wah, saya pikir kesiangan nih, kok sudah banyak yang pada pulang?
Begitu memasuki lokasi pasar, terlihat antrian orang yang hendak memasuki area pasar. Terdengar suara alu/lumpang yang dipukul berirama. Wahh udah rame aja jam segini. Senang melihat keramaian pasar, bukan cuma pedagang tapi juga pengunjung yang sibuk antri di tiap-tiap meja dagangan.Interaksi yang natural antar penjual dan pembeli, dengan gaya bahasanya yang Sunda banget, tawar-menawar yang ramah, sampai suara pedagang yang menjajakan dagangannya bikin suasana Minggu pagi terasa sangat hidup dan membumi.
Setelah berkeliling dan sesekali mengambil gambar, saya akhirnya mendarat di salah satu sudut penjual sate Maranggi. Tersedia bangku-bangku kayu agar pengunjung dapat duduk sambil sarapan. Makan di tengah suasana pasar setelah olahraga itu kenikmatannya berkali lipat. Kami membeli beberapa kudapan, mulai dari singkong dan ubi rebus yang ditaburi parutan kelapa, kerupuk kuning, sate Maranggi dengan ketan bakar dan oncom, juga surabi. Nikmat sekali ditambah suasana hiruk pikuk pasar, perfect!
Kenyang menyantap sarapan di Pasar Sasagaran, kami beranjak untuk mencari kedai kopi. Kebetulan di sekitaran pasar ada kedai kopi dengan latar belakang danau. Sepertinya tidak ada salahnya untuk dicoba juga. Dengan berjalan kaki kami menuju kedai kopi seperti uang tertera di map. Hanya berjarak kurang dari 1km dengan jalanan yang mulus dan sisi kiri kanan hijau-hijauan. Kami bahkan menyempatkan diri untuk berfoto dan membuat video. Sayang aja dilewatkan pemandangan sebagus itu.
Tapi sayangnya, ketika kami sampai di kedai kopi tersebut ternyata tutup karena sudah dibooking untuk acara. Wah acara ngopi jadi gagal deh. Padahal pemandangan kedai kopinya cukup bagus. Akhirnya setelah numpang ngecharge hape dan ke toilet sebentar, kami kembali ke rute Pasar Sasagaran. Untungnya masih rame, kamipun mampir lagi untuk membeli minuman es kelapa muda, sayangnya es Goyobotnya sudah kehabisan.
Purwakarta di hari Minggu itu memang juara. Selain dapat sehatnya dari olahraga di Sri Baduga, dapat kenyang dan senangnya dari "harta karun" kuliner di Pasar Sasagaran. Kalau ditanya mau balik lagi ke Pasar Sasagaran?Saya pastikan akan kembali lagi. Nah jika sobat Mlaqumlaqu lagi di Purwakarta, pastikan jangan sampai bangun kesiangan dan berburu sarapan lokal di Pasar Sasagaran!
















Tidak ada komentar
Posting Komentar
Hai..Terima kasih sudah mampir di blog saya. Tolong tinggalkan komen dengan bahasa yang santun, No Sara, No Politik.