Mlaqumlaqu ke Jantung Demokrasi, dari Ruang Sidang hingga Museum DPR

Halo sobat Mlaqumlaqu. Siapa bilang jalan-jalan di Jakarta cuma bisa ke pusat perbelanjaan atau kafe kekinian? Sesekali, yuk kita arahkan langkah ke Senayan. Bukan untuk lari pagi, bukan juga untuk ke mal, tapi menyapa saksi bisu perjalanan bangsa kita yaitu Kompleks Parlemen MPR/DPR RI.
Masih ingat kejadian bersejarah runtuhnya Orde Baru akibat demo mahasiswa di tahun 1998? Yes, di gedung itulah pusat demo mahasiswa, pelajar dan masyarakat berlangsung yang menyebar hingga ke daerah-daerah lain di Indonesia. Kunjungan kali ini bukan sekadar melihat arsitektur megah, tapi sebuah napak tilas kebangsaan yang menyentuh hati dan membangkitkan memori. 
Latar belakang gedung MPR/DPR.
Baca juga: 5 Fakta Menarik Taman Bendera Pusaka

Di Bawah Naungan "Kura-Kura" Raksasa

Setiap melewati jalan Jalan Gatot Soebroto arah Slipi Grogol, terlihat bangunan besar berwarna hijau yang atapnya seperti cangkang kura-kura. Itulah gedung MPR DPR. Beberapa kali saya berkesempatan memasuki gedung tersebut untuk menghadiri suatu acara. Kali ini saya mendapatkan kesempatan lagi, tepatnya di hari Kamis (16/04) siang bersama komunitas saya kembali mengunjungi gedung tersebut dalam agenda Walking Tour Dewan Rakyat bersama Wisata Kreatif Jakarta dan Komunitas Traveler Kompasiana (KOTeKA). 
Titik kumpul walking tour di halte Tije Stasiun Palmerah. 
Melangkah masuk ke kawasan ini, mata kita akan langsung terpaku pada Gedung Nusantara yang ikonis dengan atap hijaunya yang menyerupai cangkang kura-kura atau kepakan sayap burung. Dirancang oleh arsitek Soejoedi Wirjoatmodjo pada era 60-an, gedung ini awalnya dibangun untuk ruang konferensi internasional sebelum akhirnya menjadi rumah wakil rakyat.
Berdiri di pelataran rumputnya yang luas, ada desir angin yang seolah membawa gema sejarah. Jika dinding beton ini bisa bicara, ia akan bercerita tentang sorak-sorai reformasi '98, ketegangan sidang-sidang krusial, hingga tangis dan tawa rakyat yang datang membawa harapan. Di titik ini, kita disadarkan bahwa gedung ini bukan sekadar monumen batu, melainkan "rahim" tempat nasib ratusan juta manusia Indonesia diperdebatkan dan diputuskan.
Registrasi dan melapor di loket ini. 
Dari pintu masuk pengunjung yang berada di bagian belakang, petugas yang berjaga meminta salah seorang perwakilan rombongan untuk melapor sekaligus meninggalkan tanda bukti diri seperti KTP. Setelah itu kami dipersilahkan menuju pintu masuk utama dengan terlebih dahulu melewati pemeriksaan barang yang kami bawa. 
Pintu masuk pemeriksaan pengunjung. 
Sobat Mlaqumlaqu, Gedung MPR DPR ini awalnya dibangun pada 8 Maret 1965 melalui Surat Keputusan Presiden RI Nomor 48/1965. Berawal dari gagasan Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno untuk menyelenggarakan CONEFO (Conference of the New Emerging Forces). 
Di depan gedung Nusantara latar belakang atap gedung MPR/DPR.

Arsitektur gedung merupakan hasil rancangan karya Soejoedi Wirjoatmodjo, Dpl.Ing. yang ditetapkan dan disahkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 22 Februari 1965. Walau sempat terhambat pembangunannys akibat peristiwa G30S PKI dan dilanjutkan kembali berdasarkan Surat Keputusan Presidium Kabinet Ampera Nomor 79/U/Kep/11/1966 tanggal 9 Nopember 1966 yang peruntukannya diubah menjadi Gedung MPR/DPR RI.
Bersama grup walking tour. 
Di dalam sebelum menuju Museum DPR, kami melewati ruangan-ruangan untuk sidang diantaranya ruang Nusantara II, III dan IV. FYI nih sobat, Komplek MPR/DPR/DPD RI terdiri dari beberapa Gedung, yaitu: 
  • Gedung Nusantara yang merupakan gedung utama dalam komplek MPR/DPR/DPD yang berbentuk kubah dengan bentuk setengah lingkaran yang melambangkan kepakan sayap burung yang akan lepas landas, 
  • Gedung Nusantara I setinggi 100 meter dengan 24 lantai yang diresmikan, 
  • Gedung Nusantara II, 
  • Gedung Nusantara III, 
  • Gedung Nusantara IV, 
  • Gedung Nusantara V, 
  • Gedung Bharana Graha, 
  • Gedung Sekretariat Jenderal MPR/DPR/DPD, 
  • Gedung Mekanik, dan 
  • Masjid Baiturrahman.
Sementara di bagian area luar terdapat kolam air mancur dengan patung Elemen Estetik dan diapit oleh 36 tiang bendera dan gedung dengan tulisan besar Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dengan titik pandang utama tangga yang besar dan tinggi untuk masuk ke Gedung Nusantara. 
Patung Elemen di gedung MPR/DPR.

Patung Elemen berupa tiga bulatan yang saling berhubungan dan berkesinambungan yang merupakan karya dari Drs. But Muchtar dari Departemen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). 

Museum DPR RI: Saat Sejarah Berbicara Lewat Benda

Langkah kami berlanjut ke dalam Museum DPR RI yang terletak di Gedung Nusantara. Menginjakkan kaki di sini ibarat masuk ke lorong waktu. Museum ini dirancang dengan sangat apik, ringkas, namun padat informasi.
Koleksinya menyimpan nyawa demokrasi kita.
Museum DPR RI. 
Kita bisa melihat palu sidang yang pernah mengetuk keputusan-keputusan pengubah nasib bangsa, mesin tik tua yang merangkai undang-undang, hingga deretan foto hitam-putih para tokoh bangsa dengan tatapan mata yang menyimpan sejuta asa.
Palu sidang di Museum DPR RI. 
Sentuhan humanis terasa kental saat kita membaca kutipan-kutipan pidato masa lalu. Ada keringat, air mata, dan kompromi dari berbagai manusia dengan latar belakang berbeda mulai dari Aceh hingga Papua, yang duduk bersama menekan ego demi satu nama: Indonesia. Museum ini mengingatkan kita bahwa demokrasi selalu melibatkan manusia-manusia yang tidak sempurna, namun mau terus belajar mendengarkan.
Di dalam Museum DPR RI. 
Museum DPR RI resmi didirikan dan diresmikan pada 16 Agustus 1991, tepat bersamaan dengan momen Sidang Umum MPR RI tahun 1991. Peresmiannya dilakukan secara langsung oleh Ketua DPR RI saat itu, M. Kharis Suhud. Museum ini berlokasi di Lantai 2 Gedung Nusantara, kompleks MPR/DPR RI ini beroperasi setiap hari Senin-Jumat dan gratis atau tidak dipungut bayaran. 
Museum yang menempati ruangan seluas sekitar 720 meter persegi. Tujuan utamanya adalah menjadi wahana edukasi bagi masyarakat luas agar lebih memahami peran, fungsi, dan dinamika sejarah lembaga legislatif di Indonesia. Saat ini, museum menyimpan hampir 300 koleksi yang sudah teregistrasi. 
Beberapa koleksi menarik di dalamnya antara lain:
Perabotan Bersejarah: Seperti meja pimpinan sidang dari masa BP KNIP (Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat) yang dibawa dari Yogyakarta.
Perangkat Sidang & Memorabilia: Mulai dari palu sidang, mesin ketik jadul, hingga alat dokumentasi dan rekaman rapat dari masa ke masa.
Cetak Biru Gedung: Dokumen site plan asli Kompleks Parlemen, yang pada awalnya dibangun oleh Presiden Soekarno untuk keperluan CONEFO (Conference of the New Emerging Forces).
Salah satu sudut yang menampilkan perabotan pada masa BP KNIP di Jogjakarta. 
Di dalam museum juga terdapat perjalanan reformasi dari Orde Baru pemerintahan Presiden Soeharto. Ditampilkan pula catatan kecil yang ditulis pengunjung terkait peristiwa demo reformasi yang ditempel di dinding. 
Di depan dinding catatan Peristiwa 1998.
Sebuah Refleksi Singkat
Selesai menjelajahi kawasan MPR dan Museum DPR, langkah kaki terasa sedikit lebih berat, namun hati jauh lebih penuh. Kunjungan ini bukan sekadar wisata sejarah biasa, melainkan ziarah kebangsaan.
Salah satu dinding informasi partai di Museum DPR RI. 

Kawasan ini mengingatkan kita bahwa menjadi warga negara bukan sekadar memiliki KTP, tapi juga merawat ingatan. Pada akhirnya, sekuat apa pun beton Gedung Kura-Kura, ruh sejatinya tetaplah kita, suara rakyat. Sampai jumpa di rute Mlaqumlaqu selanjutnya! Terus melangkah, terus belajar.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Hai..Terima kasih sudah mampir di blog saya. Tolong tinggalkan komen dengan bahasa yang santun, No Sara, No Politik.