Intip Jejak Rimbawan di Museum Kehutanan lanjut Ngopi Sore di Kafe Hutan Arborea Cafe

Hai sobat Mlaqumlaqu. Mencari oase hijau dan tenang di tengah hiruk-pikuk beton kota Jakarta terkadang terasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Tapi sekarang ini sudah mulai bermunculan ruang-ruang terbuka hijau di sekitaran Jakarta, baik berupa taman-taman atau hutan kota yang sedikit banyak memberikan pengalaman menikmati ruang terbuka dengan pohon-pohonnya. 

Pepohonan yang rindang dan angin sepoi-sepoi di Arboretum Manggala Wanabakti. 
Sebut saja salah satu kawasan di Senayan yaitu di Kompleks Manggala Wanabakti. Kita akan menemukan sebuah “hutan kecil” yang menyimpan sejarah panjang sekaligus tempat peristirahatan yang nyaman. Pengalaman berkunjung ke sini bukan sekadar rekreasi, melainkan perjalanan edukasi yang berpadu dengan relaksasi.

Menjelajah Jejak Rimbawan di Museum Kehutanan

Tidak banyak yang mengira bahwa ada sebuah hutan kecil di Jakarta yang bisa dikunjungi dan terbuka untuk umum. Ketika pertama kali melihat kawasan ini, terbesit keinginan untuk dapat memasuki kawasan tersebut dan menikmati rindangnya pepohonan dan cuitan burung yang hinggap. 
Kompleks Manggala Wanabakti. 

Awalnya saya kira kawasan ini hanya berupa sebidang hutan kecil di tenga kota. Namun ternyata ada juga museum di dalamnya, yaitu Museum Kehutanan Ir. Djamaludin Soejohadikusumo. Terletak di Gedung Manggala Wanabakti Blok VI, museum ini seolah menjadi lorong waktu yang merekam jejak panjang pengelolaan hutan di Nusantara.

Saat melangkah masuk, pengunjung langsung disambut oleh aroma khas kayu dan suasana yang hening. Museum ini sangat kaya akan informasi, mulai dari peta kuno areal hutan jati, alat ukur tradisional rimbawan seperti kompas dan boustolle, hingga berbagai diorama kekayaan flora dan fauna Indonesia.

Museum Kehutanan Ir. Djamaludin Soerjohadikusumo. 

Kilas Sejarah Museum:

  • Awal Mula. Pembangunan museum ini diprakarsai sejak 18 September 1978 oleh Korps Rimbawan Angkatan '45 dan dipelopori oleh Menteri Kehutanan pertama Indonesia, Bapak Soedjarwo.

  • Perubahan Nama. Pada 5 Juni 2015, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, museum ini resmi berganti nama menjadi Museum Kehutanan "Ir. Djamaludin Suryohadikusumo". Penamaan ini merupakan bentuk penghormatan atas dedikasi lebih dari 40 tahun tokoh kehutanan tersebut bagi Indonesia.

  • Klasifikasi. Saat ini, museum tersebut berstatus sebagai museum khusus (Tipe C) yang didedikasikan sepenuhnya sebagai pusat informasi, dokumentasi, dan edukasi lingkungan hidup.

Pohon kayu jati berasal dari Cepu yang berusia 139 tahun. 

Sobat Mlaqumlaqu, di Museum Kehutanan ini terdapat koleksi kayu jati yang umurnya mencapai ratusan tahun. Dari informasi staf yang bertugas, disebutkan kayu dari pohon jati yang berdiri di tengah-tengah ruangan adalah jenis pohon jati yang berasal dari Cepu yang berumur 139 tahun, yang lebih kecil berasal dari Purwakarta dan berusia 115 tahun. Sedangkan yang berasal dari Blora berusia 336 tahun yang berada di depan yang berupa potongan kayu. 
Kayu dari pohon jati tertua berusia 339 tahun berasal dari Blora, Jawa Tengah. 
Adapun koleksi lain yang dimiliki museum ini sebanyak 940 artefak yang terdapat di beberapa ruang pamer, sesuai dengan bidang-bidangnya, yaitu:
  • Sejarah rimbawan dan perjuangan pasukan wanara
  • Peralatan kehutanan
  • Visualisasi hutan dan kehutanan
  • Hasil kekayaan hutan
  • Hasil pengolahan hutan
  • Sarana upacara bidang kehutanan



Cara Menuju Lokasi dan Panduan Waktu Berkunjung

Sobat Mlaqumlaqu yang berencana untuk menelusuri sejarah rimbawan di museum ini, pastikan untuk menyesuaikan jadwal karena museum ini tidak beroperasi setiap hari, walaupun tidak berbayar alias gratis. 

  • Senin – Jumat. Buka mulai pukul 08.00 hingga 15.30 WIB.

  • Sabtu, Minggu, & Libur Nasional. Tutup.

Disarankan untuk berkunjung di pagi hari saat suasana masih sangat segar, atau di sore hari ketika cuaca tidak terlalu panas sehingga setelah puas berkeliling museum, kita bisa langsung bersantai di area hutan kotanya. 

Halte Transjakarta stasiun Palmerah. 
Untuk menuju lokasi Museum Kehutanan ini, sobat dapat menggunakan transportasi pribadi ataupun umum. Apabila menggunakan bus Transjakarta, sobat dapat menggunakan bus Transjakarta 1B rute Dukuh Atas Hub-stasiun Palmerah dan berhenti di bus stop depan pintu masuk Komplek Manggala Wanabakti. Sedang kalau menggunakan kereta commuter line naik yang dari arah Rangkasbitung Serpong atau Tanah Abang turun di stasiun Palmerah dan lanjut jalan kaki menuju lokasi museum. 

Menyapa Kembali Arborea Cafe Paska Renovasi

Setelah puas menyerap ilmu di museum, langkah kaki secara natural akan terbawa menuju kawasan Arboretum—hutan penelitian yang rimbun di dalam kompleks Kementerian Kehutanan ini. Di sinilah Arborea Cafe berada, di antara pepohonan yang rindang.

Arborea Cafe. 
Kafe bergaya arsitektur kayu yang instagramable ini sempat menjadi sorotan dan menyisakan duka ketika mengalami musibah kebakaran dan penjarahan akibat dampak demonstrasi massa pada akhir Agustus 2025 lalu. Insiden tersebut menghanguskan sebagian besar fasilitas kafe dan memaksanya tutup sementara. Namun, seperti bibit pohon yang kembali bertunas setelah badai, Arborea Cafe telah bangkit.
Pohon yang ditanam Presiden Jokowi. 
Resmi dibuka kembali pada awal Februari 2026, Arborea Cafe menyajikan wajah yang sedikit berbeda namun tetap mempertahankan jiwa alaminya. 

  • Transformasi Ruang. Pasca direnovasi, salah satu perubahan yang paling terasa ada di lantai dua. Jika sebelumnya area ini difungsikan sebagai ruangan tertutup (indoor), kini konsepnya diubah menjadi lebih terbuka. Angin sejuk dari pepohonan besar di sekitarnya kini langsung membelai para pengunjung, membuat pengalaman menyesap kopi terasa lebih membumi.

    Arborea Cafe lantai 2 dengan konsep open space. 

  • Material yang Tetap Hangat. Elemen kayu dan railing besi masih mendominasi bangunan tiga lantai ini. Tangga spiralnya yang ikonik tetap kokoh berdiri, mengundang pengunjung untuk naik ke rooftop dan melihat hamparan tajuk pohon dari ketinggian.

Menu & Suasana. Cita rasa menu andalan seperti aneka kopi lokal dan camilan pastry tidak banyak berubah. Menyeruput es kopi susu sambil mendengarkan gesekan daun jati dan kicau burung di kafe ini benar-benar membuat kita lupa bahwa sedang berada di pusat Jakarta.

Nasi goreng spesial dan jus kedondong. 

Di Kawasan Manggala Wanabakti ini  memberikan paket lengkap: wawasan sejarah dan lingkungan yang tak ternilai di Museum Kehutanan, serta penyembuhan batin lewat secangkir kopi di pelukan Arborea Cafe yang kini telah kembali pulih. 

Arborea Cafe yang berada di komplek Arboretum Manggala Wanabakti. 
Inilah destinasi hidden gem yang sangat layak untuk sobat Mlaqumlaqu kunjungi di akhir pekan (jika hanya ke kafe) atau di sela-sela hari kerja menikmati suasana kerja di tempat berbeda. 

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Hai..Terima kasih sudah mampir di blog saya. Tolong tinggalkan komen dengan bahasa yang santun, No Sara, No Politik.